My Tantrum Mommy

Sukma Maddi
Chapter #26

Mari Menikah Maia

Ia berdandan bukan untuk siapa-siapa. Ia berdandan dan merias diri untuk dirinya sendiri. Baju yang tersampir di lemarinya bukan lagi baju yang sudah lusuh, yang dibeli bertahun-tahun lalu.

Sekarang, lusinan pakaian baru sudah ia beli. Produk kosmetik dan skincare memenuhi meja riasnya.

Tubuhnya sedikit lebih berisi dari beberapa bulan lalu. Berat badannya bertambah, kulitnya kian bersih dan cerah. Ia benar-benar merawat dan memanjakan diri. Dan paling penting baginya, ketika ia pergi, anaknya tetap dalam pengawasan karena ia mampu memakai jasa pengasuh.

Maia tersenyum menatap pantulan dirinya di cermin. Sentuhan makeup membuatnya tampak manis, rambut tergerai rapi, serta dress biru menjelmakan dirinya seperti wanita usia tengah dua puluhan.

Malam ini ia janji temu dengan Wisnu. Wisnu menagih dinner sebagai bonus untuknya.

*

Masuk ke area kafe, Maia disambut aroma pekat biji kopi yang baru saja digiling. Temaram lampu kafe serta lampion berjejer menambah kesan estetik kafe itu.

Maia melambaikan tangan ke arah Wisnu. Semakin mendekat, semakin lekat pula tatapan Wisnu pada Maia. Ia pangling kali ini. Ibu dua anak itu, dengan sedikit polesan, membuat perhatian Wisnu tidak sedikit pun teralihkan ke hal lain. Merasa deja vu ke sepuluh tahun lalu, ia seolah melihat Maia persis di waktu itu ketika mereka masih sepasang kekasih.

"Udah pesan, Wis?"

"Belum, nungguin kamu."

Maia mengambil buku daftar menu, lalu membuka halaman demi halaman.

"Kenapa melihatku seperti itu?"

Tegur Maia yang sadar mata Wisnu terus mengekorinya sejak ia datang.

"Kamu cantik."

Jawaban klise Wisnu membuat Maia tersenyum tipis.

"Klise banget, dari dulu kamu nggak berubah, selalu gagal merangkai kata gombal."

"Sama, respons ketusmu juga nggak berubah."

Maia tertawa pelan. Pelayan datang mengambil daftar pesanan. Kemudian hening di antara mereka. Wisnu sibuk dengan ponselnya, beberapa kali memotret Maia, kali ini tanpa Maia sadari.

Sedangkan Maia menikmati suasana. Di sudut ruangan, alunan musik bergenre lo-fi atau petikan gitar akustik mengalun lembut. Suaranya samar, berpadu pas dengan gumam obrolan para pengunjung yang datang berpasangan maupun berkelompok. Kehangatan begitu terasa di tengah dinginnya malam.

Terakhir, sebagai menu terakhir, Maia disuguhi dessert puding custard vanila panggang dengan lapisan gula karamel keras di atasnya yang harus dipecahkan menggunakan sendok.

Sekali getok, karamelnya pecah. Maia menikmatinya perlahan. Ia baru akan pulang jika itu keinginan Wisnu.

Sedangkan Wisnu kali ini kembali intens menatap Maia. Tubuh yang tadi bersandar kembali tegak, condong ke depan. Ia mengeluarkan kotak kecil warna merah.

"Maia," panggilnya pelan.

"Iya, Wis."

Lihat selengkapnya