Satu tahun kemudian.
Butuh waktu lebih dari setahun untuk ceritanya sampai pada babak visualisasi layar lebar. Hari kedua penayangan, atensi penonton juga lumayan. Bersamaan dengan itu, buku yang ditulis Maia cukup laris manis.
Hari ini, tidak sedikit yang membeli bukunya juga meminta tanda tangan penulis. Niat awal membawa anaknya bermain di mal berujung dengan antrean panjang di toko buku. Maia tersenyum lelah, namun bahagia. Sesekali menyeka keringat di dahinya sambil terus menggoreskan pena dan menyapa para pembaca setianya.
Anaknya, dalam pengawasan pengasuh yang semula sibuk menunjuk arena permainan di lantai atas, kini duduk tenang di samping sang ibu. Dua anak itu sibuk dengan cemilannya.
"Tanda tangani juga bukuku, aku adalah fans setia kamu, bahkan mulai sejak kamu dilahirkan."
Jantung Maia seketika berdebar cepat mendengar suara familiar itu. Ia tak mendongak, ia tahu sang pemilik suara. Maia meraih buku lalu menandatanganinya.
Namun, setelah beberapa saat, orang itu tak kunjung beranjak meski bukunya telah dibubuhi tanda tangan. Mau tidak mau, Maia harus bertatap muka. Maia tersenyum, memperlakukan orang itu sama seperti pembacanya yang lain.
"Maaf, boleh kasih kesempatan yang lain."
Tegur Maia ramah, meski hatinya bergemuruh. Rasa rindu dan kecewa mendalam memenuhi ruang hatinya. Ia berusaha sesamar mungkin agar tidak terlihat emosional spontannya.
Orang yang mengaku fans sejak ia dilahirkan itu adalah papanya, orang tua kandung yang ditemui lebih dari satu tahun lalu. Kali ini, ia mendapat perlakuan papanya sangat kontras dari sebelumnya.
Usai hampir tak ada lagi yang meminta tanda tangan, akhirnya Maia mengajak anaknya ke playzone. Sebenarnya, tujuannya memang membawa anaknya bermain di akhir pekan. Sesi tanda tangan tadi hanya dadakan ketika ia melintas di toko buku. Banyak yang mengenali Maia sebagai penulis dari buku yang mereka beli. Dan tidak mungkin Maia mengabaikan orang-orang yang sekadar meminta tanda tangan.
Di arena bermain itu, Maia merasa lega karena leluasa. Di toko buku tadi, ada beberapa yang berebut agar segera bukunya ditandatangani. Belum lagi ia harus siaga pada Dylan karena banyak yang gemas, akhirnya iseng memegang, mencolek, bahkan mencium bayi itu.
Tak lama, papanya muncul, lalu tanpa permisi duduk di sebelah Maia. Ia juga meletakkan tongkat di tengah antara ia dan Maia.
"Itu anak kamu, Mai? Cucu-cucu papa, lucu sekali mereka." Sambil menunjuk ke arah Dinda dan Dylan.
Maia diam, tak ada respons untuk papanya.
"Aku lihat berita kamu di media. Selamat, Nak, kamu hebat. Pencapaian kamu luar biasa, papa turut bangga."
Maia tersenyum getir. Hatinya sakit. Apakah jika ia masih Maia yang dulu, tanpa apa-apa, tanpa uang, apalagi prestasi, masih adakah ucapan menyanjung itu? Sungguhkah ucapan luar biasa bagi Maia itu lahir dari cinta yang tulus?
"Anda benar, kehidupanku sudah membaik, semuanya terasa ringan. Namun, untuk sampai di titik ini, perjuangannya sangat tidak mudah. Aku tak akan lupa saat aku menahan malu dan menelan gengsiku untuk meminta tolong. Saat itu, aku seperti pengemis yang direndahkan."