My Tantrum Mommy

Sukma Maddi
Chapter #28

Akhir Bahagia

Ada beban yang serasa terangkat, ada kelegaan tersendiri yang tak mampu ia jelaskan. Bukankah perasaan indah itu akan muncul ketika mampu ikhlas memaafkan, menerima, dan sabar?

Seminggu setelah pertemuan terakhir dengan papanya, komunikasi mereka semakin intens. Maia kerap menghubungi, ingin tahu keadaan papanya dengan harapan papanya lekas sembuh. Dan ia hendak berkunjung membawa anak-anaknya.

Tapi hari ini Maia tengah disibukkan dengan beberes apartemen yang sebentar lagi ia tinggalkan. Maia berhasil membeli sebuah rumah, rumah sesuai angannya, rumah yang memiliki halaman yang cukup luas sebagai tempat bermain anak-anaknya. Sekarang keinginan itu bukan lagi sekadar angan kosong, ia sukses menggapai angannya.

Bel berbunyi, mungkin itu tukang angkut barang. Maia bergegas membuka. Namun, yang datang bukan petugas angkut barang, tapi Rama, ayah anak-anaknya.

"Rama, masuklah."

Rama menyodorkan buah tangan yang dibawanya, sekeranjang buah dan tiga kaleng susu untuk Dylan.

"Semua sudah beres, kah? Atau kamu butuh bantuan?"

"Nggak, semua tinggal angkut."

Rama duduk pada kursi yang telah disampul plastik, lalu mengedarkan pandangan di setiap sudut ruang apartemen, tempat dulu di mana rumah tangga bahagia sebelum ia sendiri yang menghancurkan dan tersisa hanya penyesalan mendalam.

"Rama, kenapa kamu bengong?"

Tegur Maia. Rama menatapnya dalam.

"Kita perbaiki lagi hubungan kita."

"Loh! Emang ada apa dengan hubungan kita? Hubungan kita sudah membaik sejak lama."

"Maksud aku, mari kita rujuk, Mai."

"Pembahasan itu lagi? Aku sudah berkali-kali bilang, itu hal yang tidak mungkin!"

"Demi anak-anak kita, Mai."

"Bukan demi mereka, Rama, tapi demi egomu. Kamu harus paham agama, dong."

"Maia, beri aku kesempatan untuk perbaiki kesalahanku di masa lalu."

Maia membuang napas kasar. Bukan sekali dua kali Rama datang padanya dan memohon hubungan seperti dulu.

"Kesempatanmu selalu ada, kesempatan untuk menjadi ayah yang baik selalu terbuka lebar, tapi kesempatan kita menjadi pasangan lagi itu sudah usai. Kamu tinggal jaga hubungan kamu dengan pasanganmu yang sekarang. Jangan sampai ada Maia-Maia lain menderita seperti dulu karena keegoisanmu."

Agak sarkas, tapi Rama memang harus menerima kenyataan. Tidak ada wanita yang ingin diduakan. Apalagi ia mengharapkan dari seorang Maia, wanita tangguh dengan segala pencapaiannya.

Dan pencapaian itu ia dapat setelah ia pergi. Lalu, hak apa ia meminta kembali, sedangkan tanpanya Maia jauh lebih baik?

Rama tertunduk lesu. Ia tak lagi bersuara. Keinginan kuat itu selalu mendapatkan jawaban yang sama, yaitu penolakan. Akankah ini akhir dari keinginannya?

"Maafkan aku, Rama. Begitupun aku sudah lama memaafkanmu. Kita gagal jadi pasangan, tapi kita bisa menjalin pertemanan yang baik untuk membesarkan anak-anak. Aku doakan semoga kamu menjalani cinta yang bisa membuatmu bahagia dan memberikan apa yang dulu tidak bisa aku berikan hingga membuatmu merasa cukup."

Lihat selengkapnya