My Truly Destiny Part 2

Vina Marlina
Chapter #12

Fighting

Abichandra, Arifin, Teuku, Chandra, dan Wisnu tidur bergelimpangan di lantai kamar Abichandra yang minimalis. Mereka baru benar-benar memejamkan mata pukul dua dini hari setelah berjam-jam tenggelam dalam sesi curcol. Berbagai kisah terurai, mulai dari rencana masa depan hingga ambisi setelah lulus SMA nanti.

Wisnu bercerita tentang keinginannya meneruskan usaha ayahnya yang asli Medan; berdagang sepatu kulit di salah satu mal di sana. Semenjak SD, Wisnu memang tinggal di Rancabali untuk menemani kakek dan neneknya. Namun belakangan, orang tuanya kian gencar membujuknya pulang kampung. Alasannya sederhana: sang ayah membutuhkan bantuan putra sulungnya untuk mengelola kios.

Sementara itu, Teuku ingin kuliah di Bandung, meski jurusannya masih menjadi teka-teki bagi dirinya sendiri. Berbeda lagi dengan Chandra; ia memilih untuk bekerja terlebih dahulu demi mengumpulkan biaya.

"Insya Alloh kalau dananya ngumpul, aku pingin kuliah!" tambahnya penuh semangat.

Sedangkan Arifin curhat, "Aku pingin nyusul bapak ke Arab jadi TKI..."

"Weiiis, asik atuh kamu bisa sekalian haji. Nanti pulang-pulang dari sana kita jadi nyebut kamu haji Arifin deh...!" Chandra mendukung.

Seketika, di benak Abichandra CS terbayang sosok Arifin—si playboy pecicilan itu—menjadi seorang haji yang bersahaja.

"Hahahahah...." Gelak tawa pun pecah, memecah kesunyian malam.

"Aamiiin... kita bantu doa, Fin!" seru mereka serempak, tulus mendoakan sahabatnya.

"Kalau kamu, Bi? Ok kita tahu, planning pertama kamu nikah. Setelah itu? Mau punya anak sebelas ya, biar bisa bentuk kesebelasan bola? Hahahah.... Kasian banget Zarra!" Arifin terbahak-bahak menggoda.

Abichandra menyeringai. "Aku pingin banget masuk ITB terus jadi dosen sambil ngembangin bisnis, punya anak minimal empat," katanya sembari menatap langit-langit, menerawang ke bayangan masa depan yang tak kasat mata.

"Catet tuh, Fin, minimal 4! Miiniimal! Berarti maksimalnya tak terbatas," Teuku menimpali pelan sembari menyikut lengan Arifin.

Tawa kembali meledak.

"Wah, bagus itu. Kalau Zarra gimana planningnya, udah tahu, belom? Jangan-jangan dia malah pingin kuliah di luar kota terus kalian kepaksa long distance. Ah, it won't be fun at all penganten baru mesti jauh-jauhan mah. Such a waste!" komentar Chandra.

"Makanya harus taarufan dulu, supaya aku sama dia bisa tahu persepsi dan keinginan masing-masing. Biar bisa diselaraskan, dicari titik tengahnya," ujar Abichandra dengan nada serius.

"Jadi kapan tuh taarufnya? Mudah-mudahan keluarga Zarra setuju ya, Bi," kata Wisnu penuh perasaan. Ia telah berhasil mengikhlaskan perasaannya pada Zarra sepenuhnya.

"Aamiiin. Bagusnya sih minggu-minggu ini, soalnya mulai bulan depan kita bakal sibuk," Abichandra berpikir keras hingga keningnya berkerut dalam.

"Ckckck... kita masih nggak nyangka kamu bakal ngambil keputusan besar kayak gitu di usia segini muda Bi," Arifin berdecak kagum. "Moga lancar deh apa yang dicita-citain sama kita semuanya!"

"Aamiiiin ya Rabbal Alamiiiin.... kabulkan ya Rabb... kabulkaaan!" mereka berucap kompak, menengadahkan tangan ke udara dengan penuh harap.

Sisi Gelap Malam Minggu

Di tempat lain, Satria dan beberapa kawan sekolahnya—yang merupakan teman Abichandra dari jurusan berbeda—menghabiskan malam minggu di sebuah kafe remang-remang.

Musik dangdut yang semula mendayu kini berganti menjadi remix disko yang memekakkan telinga, menyesuaikan selera pengunjung muda. Satria dan kelompoknya duduk di pojokan seperti biasa. Di atas meja, botol minuman dan asbak yang penuh puntung rokok menjadi saksi bisu upaya mereka menikmati malam.

Di tengah ruangan, beberapa orang berjoget ditemani perempuan-perempuan seksi. Entah mereka kekasih yang sengaja diajak atau memang sedang 'bertugas'. Gerakan mereka tampak dipaksakan di ruang sempit itu, berdesakan hingga sesekali membentur meja dan kursi.

Lihat selengkapnya