"Nanti aja ijinnya by what's up Bi. Ribet, ntar! Biarin aku yang tanggung jawab kalau mereka marah!" Saka berbisik tajam, menepis usulan Abichandra yang berniat membangunkan Andatari.
"Hayu cabut aja, bentar lagi Mama bangun loh mau tahajud!" lanjutnya memperingatkan dengan nada mendesak.
Tanpa membuang waktu, Abichandra dan kawan-kawannya menyelinap keluar dari rumah. Mereka bergerak dalam senyap, mengendap-endap sehalus mungkin untuk meminimalisir derap kaki yang bisa memecah keheningan rumah.
Berada di barisan paling depan, Saka membuka pintu garasi perlahan, nyaris tanpa suara. Ia memberikan kode isyarat agar teman-temannya mengeluarkan motor secara manual—tidak boleh ada mesin yang menyala di area garasi. Arifin mengacungkan ibu jari, tanda ia mengerti instruksi tersebut. Dengan napas tertahan, mereka menuntun tiga unit motor menuju jalanan, menjauh hingga jarak yang dirasa aman.
Setelah Saka menutup garasi dan bergabung, barulah ketiga mesin motor itu meraung serentak, membelah keheningan dini hari menuju arah Sinumbra. Arifin membonceng Wisnu, Teuku bersama Chandra, sementara Abichandra membonceng kakaknya.
"Jadi ada apa sebenernya, Bi?" Saka menuntut penjelasan di tengah deru angin.
"Ada temen baru di kelas, namanya Satria. Dia dikeroyok sama anak geng lain di satu café di Sinumbra, detailnya ntar diceritain di rumah. Tapi kayaknya kita mesti hubungin polisi, Ka. Katanya geng itu pada bawa golok!" Abichandra menjelaskan sembari memacu motornya lebih kencang, berusaha menyalip kedua motor kawannya.
"Ya Allah! Ya udah aku hubungin pak Soleh aja!" seru Saka sembari merogoh saku jaketnya, mencari smartphone-nya. Pak Sholeh adalah tetangga mereka yang kebetulan seorang anggota polisi.
Di langit, fajar mulai menampakkan semburatnya. Kokok ayam jantan bersahutan, dan kumandang adzan pertama mulai terdengar dari kejauhan. Di saat orang-orang bersiap untuk salat sunah fajar, batin para pemuda ini justru dihinggapi ketegangan yang luar biasa.
***
Mendekati lokasi, kericuhan mulai terdengar jelas. Suara logam tajam yang beradu memecah kesunyian kawasan Sinumbra. Kafe itu sendiri sebenarnya sudah tutup dan tampak lengang dari kejauhan, namun di halamannya, pemandangan mengerikan tersaji.
Abichandra dan kawan-kawan menghentikan motor beberapa meter dari Tempat Kejadian Perkara. Jantung mereka berdegup kencang melihat belasan orang terlibat duel sengit. Sebagian menggunakan pedang dan golok, sebagian lagi bertarung dengan tangan kosong.
Tak jauh dari pusat keributan, beberapa orang tampak sudah terkapar tak berdaya. Di antaranya adalah Satria dan Rahmat. Kondisi Satria sangat mengenaskan; luka sayatan senjata tajam mengukir wajah dan tubuhnya. Ia terbaring pingsan, bermandikan darahnya sendiri. Di sampingnya, Rahmat juga tergeletak tak berkutik.
"Astagfirullah!"
"Ambil senjata di parkiran!" Salah satu anak IPS 5 dari SMA Harapan, berteriak kencang saat melihat kedatangan mereka. Tanpa menunggu jawaban, ia kembali fokus menangkis serangan golok lawan. Trang! Percikan api muncul saat kedua bilah logam itu saling bertautan.
Rupanya, teman-teman Satria yang lain telah tiba lebih dulu dan menyiapkan "persenjataan" darurat yang diletakkan di bawah sebuah pohon dekat parkiran motor.
Arifin, Chandra, dan Teuku yang dipenuhi adrenalin langsung melompat turun dari motor. Saking terburu-burunya, Arifin menjatuhkan motornya begitu saja tanpa sadar bahwa Wisnu belum sempat turun. Alhasil, Wisnu ikut terjungkal dan tertindih motor di atas tanah.
"Eh..eh...eh...! Waduuuuuh! Sakit, nih...." Wisnu mengerang kesakitan di bawah beban motor Revo biru Arifin.
"Sori, Wis!" seru Arifin singkat, berlari mengejar Teuku dan Chandra ke posko senjata.