Raungan sirine mobil dinas Pak Soleh membelah ketegangan, menyedot seluruh perhatian anak-anak muda yang tengah dibakar adrenalin. Bak disambar halilintar, nyali para gangster itu seketika menciut.
"Kaboooooorr! Ada polisiiiiii!" teriak si cowok punk bertato, memerintahkan pasukannya untuk mundur.
Seketika, gerombolan itu kocar-kacir. Mereka melompat ke atas motor masing-masing dan memacu mesin sekencang mungkin, meninggalkan kepul asap di pelataran kafe.
"Ayo, kita kabur juga!" seru kawan Abichandra berbeda kelas, panik. Lengannya yang terluka masih mendekap golok erat-erat, mengajak Arifin dan kawan-kawannya segera menyingkir.
"Nggak usah. Itu polisi yang kita panggil!" Wisnu berteriak sembari berlari menghampiri kerumunan di parkiran.
Di tengah lapangan, Saka tampak bersimpuh, mendekap tubuh Abichandra yang sudah kehilangan kesadaran. Meski kepalanya terluka, namun ia tak peduli. Fokusnya hanya satu: keselamatan adiknya.
"Abi..." panggil Saka berulang kali dengan suara bergetar. Namun, Abichandra tetap bergeming. Wajahnya pucat pasi, tak menyisakan rona kehidupan.
"Biiiii!" jerit Wisnu ketakutan. Ia bergegas menghampiri dan menangis histeris. Tubuh sahabatnya yang terbujur kaku membuatnya terguncang hebat. "Abiii... jangan matiiiii!"
Arifin, Chandra, dan Teuku turut berlutut mengelilingi Abichandra. Mereka terpaku dalam kesedihan, seolah lupa pada luka-luka di tubuh mereka sendiri. Wajah Arifin bonyok berat dengan luka tusuk di lengan, sementara paha Chandra tergores sabetan pedang. Teuku pun nampak linglung; kacamata yang menjadi indra penglihatannya raib di tengah pertempuran, membuatnya hanya bisa membantu menyeret tubuh Satria dan Rahmat ke bawah pohon sebelum segalanya berakhir.
Beberapa meter dari sana, Pak Soleh turun dari mobil dinasnya dengan wajah tegang. Sementara beberapa rekannya mengejar sisa-sisa anggota gangster, ia segera mengambil alih situasi.
"Yang luka-luka bawa sini ke mobil, kita ke rumah sakit!" perintah Pak Soleh tegas.
Pukul enam pagi di kediaman Abichandra, suasana yang seharusnya tenang berubah menjadi nestapa. Mama seketika pingsan begitu mendengar suara Pak Soleh di ujung telepon. Tubuhnya lunglai, jatuh ke lantai ruang keluarga.
"Ma! Kenapa, Ma?!" Andatari tersentak, melompat dari sofa untuk menyangga tubuh mamanya.
"Halo... Halo...!" suara di seberang telepon masih terdengar.
Andatari menyambar ponsel tersebut, menggantikan mamanya. Begitu mendengar kabar dari Pak Soleh, dunianya seakan runtuh.
"Ayaaaaah! Abi kena sabetan samurai, sekarang di rumah sakit!" teriaknya histeris, memanggil sang ayah yang tengah berada di kamar mandi.
***
Harum bunga kamboja menyengat penciuman. Suasana pemakaman mulai sepi setelah para pelayat beranjak pergi satu per satu. Kicauan burung dan hembusan angin yang menerbangkan dedaunan kering menjadi satu-satunya melodi di tengah keheningan yang menyesakkan.
Satria masih bersimpuh di depan sebuah pusara, ditemani Abichandra di sampingnya. Hari ini tepat dua minggu sejak malam mengerikan di Sinumbra.
Rahmat Kuswandi bin Toto Kuswandi