My Truly Destiny Part 2

Vina Marlina
Chapter #15

You and Me

Akhir Desember 2017.

Sepulang sekolah, Zarra menerima sebuah pesan WhatsApp yang seketika membuat jantungnya berdegup kencang.

"Assalamualaikum, Zarra. Insya Alloh malam minggu ini aku & keluargaku pingin main ke rumah kamu. Boleh?"

Pesan itu datang dari Abichandra.

Zarra menggigiti jempol kanannya berulang kali sembari mondar-mandir gelisah di dalam kamar. Ia membaca baris teks itu berkali-kali, terjebak dalam kebingungan untuk merespons. Masalah utamanya sederhana namun pelik: ia belum sempat menceritakan niat serius Abichandra kepada sang mama.

Bagaimana ia harus memulai cerita? Mama dan Om Haris selalu tampak tenggelam dalam kesibukan urusan pribadi mereka masing-masing. Aduuh, gimana ya... batin Zarra resah.

***

Di tempat lain, Abichandra tak henti-hentinya mengerling layar ponsel di atas meja. Sekali, dua kali—tak terhitung sudah berapa kali ia memastikan adanya notifikasi balasan dari Zarra. Namun, hingga sore beranjak temaram, hasilnya tetap nihil.

"Emang mesti minggu ini taarufnya, Bi? Mepet banget ke try out atuh. Nanggung. Mending nanti aja habis beres ujian nasional sekalian!" Andatari memberi saran. Ia ikut tertular ketegangan melihat keresahan adiknya yang tak biasa.

Sore itu, mereka tengah menikmati bakpao hangat di balkon depan kamar Saka, ditemani rintik hujan yang menghadirkan suasana melankolis.

"Terlalu lama, Kak. Makin diundur malah makin nggak jelas. Kasian Zarra entar nyangkanya di-PHP-in sama aku," kilah Abichandra.

"Huu! Geer. Kamu aja yang ngebet kali, Bi!"

"Hahaha. Iya juga, sih."

"Dasar. Kalo luka kamu gimana, Bi? Lihat, dong!" Tangan Andatari bergerak impulsif hendak membuka kaus oblong Abichandra dari samping, ingin mengecek kondisi bekas jahitan di punggung adiknya.

"Eh, apaan sih. Malu tau, Kak...!" Abichandra dengan sigap menepis tangan kakaknya.

Belakangan, seluruh penghuni rumah—Andatari, Saka, Ayah, dan Mama—memang menjadi jauh lebih protektif dan perhatian kepada si bungsu. Mereka masih kerap merinding jika teringat betapa tipisnya jarak antara hidup dan mati Abichandra di malam Sinumbra yang mencekam itu. Sebuah trauma kolektif yang tak ingin mereka ulangi.

***

Lain situasi di kediaman Abichandra, lain pula suasana di pihak Zarra.

"Ma..." Zarra memberanikan diri membuka suara.

Lihat selengkapnya