My Truly Destiny Part 2

Vina Marlina
Chapter #16

Yes, It Is You.

Zarra melipat mukena yang barusan dikenakan.

Isya sudah lewat, Abichandra dan keluarganya bisa mengetuk pintu rumah kapan saja. Entah berapa lama Zarra terduduk di atas sajadah, mendengarkan degup jantungnya sendiri.

Haduuuuuh, jantung Zarra dag-dig-dug tak bisa diajak kompromi. Membuatnya serba salah, campur aduk rasa hatinya. Rasanya masih sulit percaya sebentar lagi Abichandra akan datang. Abi kesayangannya. Mimpikah ini? Atau nyata? Kenapa begitu indah...

Setahun lalu yang rasanya baru kemarin, pertama kali Zarra jalan pulang bareng Abichandra. Tak sengaja itu juga. Hanya karena Abichandra tak tega meninggalkannya sendirian di perpustakaan menjelang magrib di sekolah. Sungguh kebetulan yang menyenangkan!

Selama ini Zarra merasa hidupnya selalu sial, tapi Abichandra hadir memberikan perlindungan dan kedamaian. Aneh si cowok sempurna itu malah memilihnya dibandingkan gadis-gadis lain. Padahal dirinya tak memiliki kelebihan apa pun. Tak ada, bahkan cenderung merepotkan. Suatu keajaiban Abi bisa suka padanya.

Duhai waktu, bisakah berjalan lebih lambat? Atau cepatkan saja sekalian biar masa menegangkan ini terlewatkan!

Berkali-kali Zarra mengecek waktu di smartphone-nya. Pukul berapa ini? Oh, jam 8 lewat sepuluh. Masih lama nggak kira-kira? Benar kata orang, menunggu itu nggak enak. Apalagi nunggu kepastian.

Kemudian...

Dari luar rumah terdengar decit mobil yang berhenti di pelataran. Lalu...

"Assalamualaikum...!" suara cowok yang sudah familiar tiba-tiba kedengaran di luar rumah.

Zarra terkesiap, perasaannya jumpalitan. Aaaaaah! Itu dia pangeranku datang...! pekiknya dalam hati. Tidak ada jawaban salam dari mama. Tentu saja tidak. Agama bukan prioritas baginya.

"Eh, ayo silahkan masuk..." kata mama Zarra elegan pada tamu-tamunya setelah membuka pintu. "Zarra...! Ada Abi!" panggilnya.

Malam ini mama Zarra memakai gaun panjang hitam yang sopan, rambut pirangnya dibiarkan tergerai. Syukurlah, biasanya dandanan mama lumayan seksi. Om Haris sudah menunggu mereka di ruang tamu. Bergaya rapi kayak setelan hariannya: kemeja kasual dan jins.

"Ini ada oleh-oleh sedikit, bu" mama Abichandra bersuara. Menyerahkan beberapa bingkisan kue.

"Oh, makasih. Jadi ngerepotin." mama Zarra menerimanya dengan sopan.

Di dalam kamar, Zarra mengusap-usap dada. Ya Alloooh! Setelah Abi dateng, kenapa rasanya pingin jadi burung unta, bikin lubang di situ, masukin kepala dan nggak usah keluar-keluar lagi! Suntikan rasa panas menjalari wajah Zarra, malu rasanya membayangkan apa yang akan terjadi diluar sana.

Proses taarufnya!

Tapi nggak mungkin selamanya bersembunyi. Masa pangeran datang mau dianggurin? Akhirnya setelah belasan kali narik napas panjang, Zarra melipat sajadahnya lalu memaksakan diri melangkah keluar kamar.

Bismillahirohmanirrohiiim...

Di ruang tamu sudah ada mama, ayah, Andatari dan Saka yang tersenyum cerah ceria menyambut kedatangan Zarra, duduk mengelilingi sofa. Herannya, Abichandra justru menunduk saja.

Om Haris dan mama duduk di sofa seberang mereka, menyisakan satu tempat kosong untuk anak gadisnya. Tapi kemana Rey? Dia tidak ada di tempat itu.

Sejenak, Abichandra mendongak melihat Zarra. Melangkah malu-malu, anggun, bergamis hijau muda dan kerudung panjang bunga-bunga. Wajahnya yang bening kini merona, melengkapi kesempurnaan jelitanya.

Duh, bidadari ini kesasar dari kahyangan mana? Tega banget bikin gugup kayak gini. Abichandra mencelos. Menyeka keringat dingin di keningnya tanpa sadar, kepalanya ditundukkan lagi memandang lantai.

Zarra mendekati mama Abichandra dan memeluknya erat, "Mama, gimana kabarnya?"

Mama balas memeluknya hangat "Alhamdulillah, baik, Sayang."

Setelah itu Zarra menyalami Andatari lalu menangkupkan kedua tangannya di dada pada ayah, Saka dan... Abi. Zarra tak berani menatap Abichandra lama-lama meskipun kepingin.

Huwaaaa...! Abi benar-benar keren. Wangi pula. Parfum favorit Zarra di seluruh dunia ini ya wangi khas cowok itu. Kayaknya Zarra nggak bakal bisa tidur nyenyak malam ini.

Gadis belia itu mengambil tempat duduk di antara mama dan Om Haris. Tunduk memainkan jari-jemari yang bertautan di atas pangkuannya. Ayah Abichandra berdehem sebentar sebelum mengutarakan maksud kedatangannya.

"Kami minta maaf sebelumnya mungkin bikin kaget. Sebetulnya tujuan kami kesini selain ingin silaturahim, ingin memfasilitasi anak kami untuk bisa saling mengenal lebih dekat lagi dengan Zarra dan keluarganya. Itupun kalau diperbolehkan.."

Mama dan om Haris serius menyimak. Mereka berdua belum pernah mengalami kasus kayak begini, jadi agak bingung menanggapinya. Kenalan ya kenalan aja kenapa mesti seformil ini? Atau jangan-jangan, tak sekedar kenalan? Mama Zarra berasa menghadapi keluarga besan yang hendak lamaran.

"Boleh, Pak. Tapi ngomong-ngomong, kenal kayak gimana maksudnya? Saya kurang paham," tanya mama Zarra, akhirnya mengeluarkan unek-uneknya.

"Saling mengenal satu sama lain sebelum tahapan pernikahan, Bu," jelas ayah Abichandra.

Mama Zarra dan Om Haris sangat kaget mendengarnya. "Sebelum pernikahan?" ulang mama Zarra.

Memang udah serius banget hubungan Zarra dan Abi sampai ngomongin nikah dari sekarang? Kirain cuma cinta monyet...

"Kalau boleh tahu, mereka pacarannya dari kapan ya, Pak? Saya nggak tahu," ada sedikit nada protes dalam suara mama Zarra. Ditolehkannya kepala memandangi Zarra, meminta penjelasan.

Tapi yang dipandangi malah semakin menundukkan wajahnya dalam-dalam. Gimana mau jelasin, selama ini aja mama nggak pernah ngajakin Zarra bicara dari hati ke hati.

Ayah tampak bingung menjawab. Abichandra jadi tak tega melihatnya.

"Saya sama Zarra udah saling kenal sekitar setahun lalu, Bu," jawabnya.

"Wah, udah lama juga," Om Haris berkomentar. "Terus kalau udah kenal lebih dalam lagi mau ngapain, Bi?" Om Haris nanya terus terang pada Abichandra.

"Kalau Zarra bersedia dan orang tuanya mengijinkan, saya pingin melamarnya, Om."

Pernyataan yang membuat om Haris dan mama Zarra terbelalak. Mereka terperanjat bukan main. Boleh juga nyalinya ini anak!

"Lamaran? Kamu nggak becanda? Kapan tepatnya kamu pingin ngelamar Zarra, Bi?" tanya mama Zarra menahan surprise, berani amat usia segini ngomongin nikah.

"Serius, Bu. Kalau diijinkan, pinginnya habis lulus SMA..." kalem Abichandra menjawab.

Lihat selengkapnya