My Truly Destiny Part 2

Vina Marlina
Chapter #17

Dari Dasar Langit

Februari Datang

Abichandra meringis sembari memegangi punggungnya yang terasa ngilu. Bekas sabetan samurai yang membujur di sana membuatnya tak mampu duduk tegak terlalu lama. Rasanya seperti digigit ratusan semut rangrang yang berpesta di bawah kulitnya—pedih dan gatal yang tak keruan.

"Bi, kamu udah beres ngerjainnya?" tanya Bu Rucika, pengawas ruang Try Out (TO) hari itu.

Beliau berjalan mengitari dua puluh bangku siswa yang mulai kehilangan fokus. Beberapa tampak frustrasi menekuri soal-soal ujian yang seolah sengaja dirancang untuk membuat kepala berdenyut.

"Hey, Arifin, kerjain sendiri!" tegur Bu Rucika lagi. Beliau mencolek bahu Arifin yang tertangkap basah sedang memutar badan, mencoba mencuri pandang ke bangku belakang. Arifin hanya bisa menyengir tanpa dosa.

Mendengar pertanyaan itu, Abichandra mendongak menatap sang guru BP. Wajah sabar Bu Rucika memancarkan kecemasan. Sejak tadi, beliau memperhatikan gelagat Abichandra yang gelisah; kening yang berkerut dalam dan tangan yang tak henti mengusap punggung. Beliau paham betul bahwa apa yang dialami eks ketua OSIS itu adalah sisa-sisa dari kejadian mencekam di Sinumbra beberapa pekan silam.

Abichandra tersenyum simpul, lalu mengangguk sopan. "Bentar lagi, Bu."

Ia kembali memeriksa lembar jawabannya. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Nama 'ITB' terus berdengung di kepalanya seperti mantra. Sengaja ia lafalkan dalam hati, merajutnya bersama tekad dan doa agar meresap hingga ke alam bawah sadar. Setelah merasa yakin, ia melangkah maju dan mengumpulkan LJK-nya ke meja pengawas. Bismillah.

Langit tumpah. Hujan mengguyur bumi seolah sedang membagi rezeki secara merata pada alam yang memintanya. Abichandra dan Arifin tertahan di selasar, menyandang tas masing-masing karena langkah mereka terhadang derasnya air. Teman-teman yang lain pun setali tiga uang; rencana jajan cendol di Mang Ujang atau sekadar kelayapan terpaksa ditunda.

"Bi, coba sekali-kali kamu bilang gini sama Zarra, biar dia seneng. Ini hujan apa rindu, kok deras banget. Jadi inget kamu!" celetuk Arifin gokil.

Abichandra terbahak, lalu menoyor kepala sahabatnya itu. "Jijay!" serunya geli. Mereka memang menempati ruang ujian yang sama karena urutan absen yang berdekatan.

"Ngomong-ngomong gimana taaruf kemaren? Curhat dong, Bi..." tanya Arifin gesit menghindar, kali ini dengan intonasi suara meniru Mamah Dedeh.

Tawa Abichandra mereda. Ia terbungkam, tak terpancing banyolan Arifin. Lagi pula, apa yang bisa diceritakan? Tentang taarufnya yang berantakan gara-gara ulah Rey?

"Eh panjang umur, yang diomongin nongol! Si Neng nya mau diajakin nge mie rebus dulu di Bi Cucun sambil nunggu reda, nggak, Bi?" Arifin menyikut lengan Abichandra, mengarahkan pandangan ke ruangan di seberang lapangan.

Abichandra mengikuti arah telunjuk Arifin. Di sana, Sarah, Zarra, Wisnu Satria, dan kawan-kawan lainnya baru saja keluar dari ruang ujian. Mereka semua tampak ragu menembus hujan, kecuali beberapa siswa nekat yang ingin bergaya ala film India.

Pandangan Abichandra terpaku pada gadis oriental itu dari kejauhan. Zarra sedang asyik mengobrol dengan Sarah, mungkin sedang membedah kerumitan soal tadi. Bagi Abichandra, hari ini sangat spesial, tapi bukan karena embel-embel bulan kasih sayang. Delapan belas tahun yang lalu, Tuhan menakdirkan Zarra lahir ke bumi, hingga akhirnya mereka bertemu dan hidupnya menjadi jauh lebih berwarna.

Hatur nuhun, Allah. Alhamdulillah udah menciptakan Zarra. Dongengku yang paling cantik, batin Abichandra dengan senyum yang tersungging di bibir.

Satu ingatan tiba-tiba melintas. Dulu, Zarra pernah berucap dengan nada pilu, "Mama bahkan nggak pernah inget hari aku dilahirkan, Bi."

Untungnya, Abichandra sudah menghafal seluruh biodata taaruf Zarra di luar kepala. Namun, ia tidak berniat memberikan ucapan romantis atau kado mewah. Ia hanya ingin orang-orang di sekitar Zarra menyadari kehadiran gadis itu dan membuatnya merasa berharga.

Lihat selengkapnya