Sarah langsung "ngibrit" sebelum Satria menyadari siapa yang baru saja memergokinya. Cowok itu hanya sempat menangkap kelebatan punggung seorang gadis berkerudung panjang.
Siapa cewek yang bawa kain pel tadi? batin Satria bertanya-tanya.
Di sisi lain, Sarah membawa serta kain pelnya menuju tempat wudhu. Alat pembersih lantai itu digeletakkannya sembarangan di dekat keran pancuran, sebelum ia bergabung dengan barisan akhwat lainnya. Beruntung, masih ada satu pancuran yang kosong.
Sementara itu, di pinggiran mushola, Satria menyeka sisa air mata di wajahnya, berusaha meredam gejolak di dada. Sesaat tadi, pikirannya kembali melayang pada almarhum Rahmat. Jika bukan karena melindunginya, mungkin Rahmat masih ada di sini, berjuang menempuh ujian bersama.
Melihat senyuman Zarra di tengah hujan tadi pun justru menghantarkan satu kenangan pahit tentang gadis tercintanya yang kini telah terbujur kaku di pusara abadi.
Ancika....
Satria teringat ucapan Abichandra saat di pemakaman dulu.
"Ancika mengharapkan doa kamu lebih dari apa pun, Satria.... Cobalah hidup lebih baik lagi demi dia, kirimin doa lebih banyak. Dan jangan lupa, sekarang ini nambah lagi satu orang yang butuh kita. Rahmat...."
Batin Satria tergerak. Ada dorongan kuat untuk berdoa; sesuatu yang selama ini tak pernah terlintas di benaknya. Ia ingin bercengkerama dengan Tuhan, namun ia mendadak buntu. Ia telah lupa caranya. Gimana caranya berdoa? Apa itu ibadah? Satria merasa dirinya sudah terlampau hina sebagai manusia.
Satria bangkit berdiri dengan pikiran tak menentu. Kakinya melangkah tanpa arah yang jelas.
Di depan pancuran wudhu akhwat, Sarah yang baru selesai beranjak menuju mushola. Namun di tengah jalan, ia berpapasan dengan Satria. Jantung Sarah mencelos, pipinya yang semula memerah kini semakin berwarna cerah. Ia menundukkan wajah dalam-dalam sambil mempercepat langkah.
Di tengah kebimbangan emosinya, Satria hanya bisa termangu melihat ekspresi Sarah. Kenapa, sih, tuh cewek? Lihat gua kok kayak ketemu hantu! Namun, Satria tak menaruh curiga. Pikirannya sudah terlalu penuh oleh rasa gelisah, galau, dan merana—semua bercampur hingga rasanya nyaris meledak. Ia butuh pelampiasan atas segala kekecewaannya.
Apa gua harus nyentuh barang itu lagi? pikir Satria penat. Ia membayangkan minuman haram yang pernah menjadi pemicu kericuhan maut di Sinumbra.
"Ma... plis, deh... mau ngapain ke rumahnya? Abi kan belum resmi sama Zarra. Jangan terlalu deketlah," pinta Abichandra setengah memelas.
Matanya memperhatikan sang mama yang sibuk wara-wiri di dapur kecil mereka, menyiapkan penganan untuk 'ngapelin' Zarra.
"Ih, geer kamu, Bi. Siapa juga yang nyuruh kamu ngapelin dia? Mama yang mau pendekatan tahu, bukan kamu," elak Mama. Tangannya lincah memasukkan potongan brownies keju ke dalam wadah plastik besar.
Abichandra menatap mamanya tak berdaya dari meja makan. Tangannya menyuap makan siang tanpa fokus penuh karena sebagian perhatiannya tersedot oleh tingkah sang mama.
"Anterin Mama sampai ada angkot aja, Bi. Nanti kamu pulang lagi. Enggak apa-apa, kok, Mama bisa sendiri," tukas Mama sambil tersenyum geli melihat wajah "mupeng" putranya.
"Atau Abi antar saja atuh, gimana?" tawar Abichandra akhirnya.
"Enggak usah! Sana urusin bisnis kamu. Katanya mau ngambilin hasil kolektifan PDAM sama listrik?"
Itu adalah bisnis tambahan atas ide ayah. Lumayan untuk mengisi waktu sore yang senggang, sembari memasarkan produk air mineral kesehatan yang bonusnya cukup menggiurkan.
Abichandra tidak mendebat lagi. Ia memang memiliki agenda untuk memenuhi target penghasilan harian. Ia berharap hasilnya bisa menembus ekspektasi mama Zarra. Dalam diam, Abichandra merasa sangat bersyukur memiliki keluarga yang kompak dan mendukung setiap keputusannya, selama masih di jalur yang benar.
Alhamdulillah wa syukurillah ya Allah atas segala nikmat-Mu, syukurnya berkali-kali.