My Truly Destiny Part 2

Vina Marlina
Chapter #19

Jejak Yang Hilang

Mama Zarra menunggu Rey membuka mulut dan memberikan penjelasan, tetapi tak ada satu huruf pun yang keluar dari bibir cowok itu. Tangannya malah mempererat genggaman pada Zarra. Ia membimbing gadis itu untuk berdiri bersamanya, tak peduli Zarra menggeliat ingin melepaskan diri dari belitan tangannya yang kuat.

"Rey, ada apa sebenarnya?!" Om Haris membentak putranya. Ia tak tahan melihat pemandangan di depan mata yang membuat darahnya menggelegak. Biarpun tak sedarah, status Rey dan Zarra sudah sah sebagai kakak dan adik di depan hukum.

Rey menegakkan tubuh dengan berani. "Seperti yang kalian lihat. Aku dan Zarra bukan dan ngga akan pernah jadi kakak adik!" katanya mantap.

Mama Zarra memijit pelipisnya yang terasa pening. Tangan satunya memeluk lengan, berusaha mencerna situasi ini. "Dari kapan kejadiannya?"

"Tiga bulan setelah kalian dekat, aku dan Zarra juga begitu..."

"Dan sekarang, apa masih begitu?" tanya Mama Zarra lagi, menatap Rey lekat.

Kali ini Zarra memberanikan diri menjawab. Ia menyentak tangannya sekuat tenaga supaya lepas dari genggaman Rey. Matanya yang sipit menyala karena marah saat memelototi cowok itu. "Lepasin aku, Kak! Nggak, Ma. Kami nggak ada hubungan apa-apa!" tegasnya.

Lalu, Zarra bergegas pergi dari sana. Ia tak mau lagi memberikan penjelasan apa pun. Sudah jelas semuanya. Cukup. Pintu kamar yang terbanting menutup menjadi isyarat keras berakhirnya kegilaan ini.

Rey memandangi kepergian Zarra dengan perasaan berkecamuk yang meluluhlantakkan perasaannya. Ia jengkel, marah, sedih, sekaligus didera patah hati yang bertubi-tubi.

"Brengsek!" umpatnya getir entah pada siapa. Apa ini akhir kisahnya dengan Zarra? Sialan, sakit sekali! Rasanya Rey ingin mengamuk saking marahnya. Tangannya mengepal, memukul udara di depannya.

Tak tahu lagi bagaimana cara mengendalikan diri, Rey segera angkat kaki meninggalkan Mama Zarra dan papanya. Ia menyalakan mesin Terios hitam di pelataran rumah, lalu memacu mobilnya secepat mungkin, ingin melarikan diri dari kenyataan.

Malam ini, Abichandra ingin rehat sejenak dari rutinitas dan menikmati quality time bersama keluarga. Namun, ia dibuat heran melihat operasi "bongkar sauh" barang belanjaan dari kantong-kantong plastik yang dibawa mama dan kakak perempuannya. Di lantai ruang keluarga; baju, sepatu, tas, bahkan kosmetik digelar memenuhi karpet layaknya lapak dagangan.

Namun, bentuk dan ukuran bajunya terasa ganjil. Kalau untuk Andatari, sepertinya kekecilan. Kalau untuk Mama, pakaian itu terlalu muda dan modis dengan warna-warna ceria. Jadi, untuk siapa?

"Buat siapa ini semua, Ma? Mau jualan?" tanya Abichandra polos. Ia meraih salah satu gamis berwarna merah muda yang menarik minatnya, lalu mengamati pakaian itu lekat-lekat.

"Lucu nggak, Bi?" pancing Andatari sambil menahan senyum.

"Bagus... Buat kamu, Kak?" tanya Abichandra. Ia memandangi kakaknya sepintas dari sofa sebelum mengembalikan gamis itu ke lantai, kembali bersikap acuh tak acuh.

"Kalau dipake Zarra, tambah lucu nggak? Hahaha, nggak usah dibayangin dari sekarang ketang, Bi! Gawat!" Saka ikut menimpali sambil terbahak. Ia baru saja datang dari dapur membawa setoples camilan dan duduk di samping Abichandra.

Sebentar... sebentar.

Barulah Abichandra paham. Ia melongo menyaksikan barang-barang yang bertebaran, memindai satu per satu dengan lebih teliti.

Lihat selengkapnya