My Truly Destiny Part 2

Vina Marlina
Chapter #20

Ujian Kehidupan.

"Orang bilang jatuh cinta itu menyenangkan. Cuih! Love is bulshit! Nonsense! Omong Kosong!"

Menceracau tak jelas, Rey tergelak-gelak tak karuan di salah satu kamar hotel elit kota Bandung. Ia menertawakan kekonyolan hidupnya. Di lantai kamar, botol-botol minuman bekas sudah bertebaran terserak. Ia mabuk berat.

"Tolol banget, lu! Mau-maunya lu dikerjain cewek-cewek itu. Cinta elu dimainin! Bolot! Bahlul!"

"Lu nggak butuh mereka semua! Nadia...Zarra...ke laut ajaaa....Fuck!"

Tapi seberapa keras pun Rey menyangkal, toh tangisnya merebak juga. "Sialan, gua sedih..."

Ia terus minum sampai kepalanya pusing, melarikan rasa frustrasinya lewat kebahagiaan semu. Ia sudah tidak peduli meski ketika sadar nanti, realita akan menamparnya lebih keras.

***I

Bulan Mei tiba.

Artinya, anak-anak SMA Harapan Rancabali merayakan kelulusan mereka dalam berbagai versi. Ada yang kukuh nekat mencoret-coret seragam menggunakan piloks lalu konvoi di sepanjang jalan raya Rancabali, macam si tengil Arifin, Chandra, dan Teuku. Ada juga yang membagi-bagikan sembako untuk masyarakat sekitar sekolah sebagai wujud rasa syukur, seperti yang dilakukan anak-anak DKM sebangsa Sarah, Riki, dan Zarra.

Namun, Abichandra tidak muncul di sekolah.

Begitu pula Wisnu. Alasannya karena sibuk mengepak barang untuk pulang kampung ke Medan, padahal sebenarnya hanya karena soulmate-nya alias si Abi tidak muncul. Dikarenakan satu alasan, Abichandra tidak ikut-ikutan berbagai parade kelulusan. Ia sedang "bertapa" dan menunggu surat kelulusannya di rumah saja, sebagaimana yang disarankan para guru.

Sama seperti yang dirasakan Rey, ternyata Abichandra sedang pusing tingkat akut. Namun, tidak pernah terlintas dalam benaknya untuk melarikan diri ke jurang kekonyolan yang lebih besar seperti yang dilakukan Rey. Ia lebih memilih untuk terus berjuang hingga akhir, mendorong seluruh kemampuannya hingga batas maksimum.

Pasalnya, hasil SNMPTN Abichandra dinyatakan tidak lolos.

ITB memang memiliki kriterianya sendiri dalam menentukan mahasiswa di luar jalur ujian tulis. Hal itu tidak hanya ditentukan berdasarkan rekam jejak nilai rapor semester 1 sampai 5 saja, tetapi juga penilaian akreditasi sekolah, kredibilitas alumni sekolah di PTN tujuan, kejuaraan yang pernah diikuti sekolah, dan lain sebagainya. Konon, batas minimum nilai rapor yang disyaratkan pun minimal 88 ke atas. Wallahu a’lam.

Jadi, kesempatan Abichandra untuk menggapai mimpinya di ITB hanyalah melalui jalur SBMPTN atau ujian tulis yang akan diujikan serentak di bulan Mei. Biasanya, tak kurang dari 800.000 orang akan bersaing memperebutkan kursi mahasiswa di berbagai universitas negeri.

Bisa dibayangkan betapa stresnya Abi? Terlepas dari persyaratan meminang Zarra, bisa mengenyam bangku kuliah di universitas negeri berlogo Ganesha itu sudah merupakan impiannya sejak lama.

Makanya, orang-orang di sekitarnya kompak tidak mau mengganggu anak itu. Bukan karena takut menjadi sasaran amarah Abichandra, tetapi setiap kali ditanya, cowok itu lebih banyak melamun daripada menyambung. Orangnya memang di bumi, tapi otaknya sedang mengembara entah di rumus apa. Abichandra ingin mengambil Fakultas MIPA jurusan Matematika, sehingga jika diperhatikan, bibirnya terus saja komat-kamit membacakan doa dan zikir, bergantian dengan bahan-bahan ujiannya.

Lihat selengkapnya