My Truly Destiny Part 2

Vina Marlina
Chapter #21

Azzam Paling Indah

Abichandra mengetuk-ngetukkan jari ke atas meja belajar berulang kali. Sesekali jemarinya menggulir roda mouse ke atas dan ke bawah. Tombol enter pun tak luput dari tekanannya, sekadar untuk memastikan koneksi jaringan server.

Hari itu, 18 Juni 2018, berbagai situs pengumuman hasil SBMPTN mendadak lambat akibat membeludaknya akses warganet. Sejak ba'da subuh, Abichandra sudah setia menghadap layar laptop, meski belum ada kemajuan berarti yang tampak di sana.

"Bi, sarapan duluuuu!" Suara Mama yang lembut namun nyaring memanggil dari lantai bawah.

"Iya, sebentar lagi, Ma!" seru Abichandra. Ia menyandarkan punggung ke kursi lalu memandangi langit-langit kamar guna melepaskan penat. Perasaannya campur aduk; antara jenuh dan kalut yang luar biasa.

Apa jadinya jika tahun ini ia gagal SBMPTN? Kemungkinan terburuknya, ia terpaksa menunda kuliah setahun agar bisa mengikuti ujian berikutnya. Lantas, bagaimana dengan Zarra? Belum tentu gadis itu bersedia menunggu tanpa kepastian. Abichandra sendiri tak akan mau diperlakukan demikian seandainya ia seorang perempuan. Rasanya lebih baik mencari kandidat lain yang memenuhi persyaratan Mama demi mendapat restu, lalu pergi jauh dari lingkungan aneh ini. Hijrah.

Memikirkan hal itu membuat Abichandra menggaruk kepala. Meski logikanya akan mendukung keputusan Zarra—jika memang itu pilihannya—namun hatinya pasti akan sangat ngenes. Sekalinya jatuh cinta, masa harus langsung patah hati? Tragis.

Abichandra mengusap wajah dengan kedua tangan, mencoba mengusir bayangan buruk yang menari-nari di pelupuk mata. Ia pun bergumam lirih, "Ya Allah, pilihkanlah takdir terbaikku dan ikhlaskan hatiku menerima apa pun itu. Aamiiin." Ia menguatkan tekad dan menata hati agar mampu tunduk pada keputusan Rabb-nya.

Saat Abichandra kembali menatap layar laptop, jaringan internet ternyata berangsur normal. Situs-situs yang tadi mematung kini tak lagi loading, melainkan mulai menampilkan baris pengumuman. Alhamdulillah.

Deg, deg, deg... Jantung Abichandra bertalu hebat. Ia menegakkan punggung guna menghimpun konsentrasi. Digulirnya roda mouse perlahan, lalu ia baca deretan nama lulusan itu satu per satu dengan ketelitian penuh.

Beberapa kali jantungnya mencelos saat melihat nama-nama yang mirip. Namun saat diperiksa kembali, ternyata bukan.

Abisandra. Adicandra. Abi Samudra. Jauh sekali.

Sampai akhirnya mata Abichandra terpaku pada satu nama. Ia menahan napas, lalu bergegas mengambil kartu ujian di samping laptop untuk mencocokkan nomor peserta. Di sana, tertera nama Abichandra Mahendra Putra di deretan peserta lolos. Nomor pesertanya pun identik!

Benarkah ini? Abichandra mengecek berulang kali antara nomor di layar dan di kartu peserta. Benar-benar sama! Ya Allah, ini nyata!

Tak ingin membuang waktu, Abichandra langsung bersujud di lantai. Ia meluruhkan tubuh sepenuh hati, memanjatkan syukur atas karunia Allah. Air mata menderas membasahi lantai.

"Alhamdulillah ya Allah, alhamdulillah. Nikmat mana lagi yang bisa kudustakan," isak teredam Abichandra terdengar lirih.

Beberapa jam setelah mendapat kepastian diterima di ITB, Abichandra menerima kejutan lain yang membuat hatinya membuncah bahagia. Mama adalah orang pertama yang membawa kabar aktual tersebut.

"Bi, mamanya Zarra udah setuju! Kamu udah direstuin! Kecil-kecil jadi manten beneran kamu, Bi!"

Samar-samar suara Mama terdengar meledak gembira dari arah kamar, entah baru mendapat "wangsit" dari mana. Beliau muncul setengah berlari menuju meja makan menghampiri putra bungsunya. Bahu Abichandra digoyang-goyangkan penuh semangat, sampai Mama lupa anaknya itu sedang makan siang. "Seneng banget Mama, Bi... Bentar lagi Mama punya mantu blasteran Korea! Kebayang cakepnya cucu-cucu Mama nanti? Haduh, jadi nggak sabaaaaar!" seru Mama kegirangan.

Kontan saja Abichandra tersedak. Ia terpaksa menyeruput air minum dengan cepat guna melancarkan nasi yang tersangkut di kerongkongan.

"Darimana Mama tahu Abi udah dapet restu? Kan Abi belum ngabarin Zarra?" tanya Abichandra mengernyit. Nasi dan sayur asam di depannya terabaikan sejenak. Ia merasa sedikit syok.

"Dari tadi Mama WhatsApp-an sama Zarra!" jelas Mama dengan wajah berseri-seri.

"Widih, gaya si Mama," komentar Abichandra sembari melanjutkan suapan yang tertunda. Ia berusaha sekuat tenaga menahan senyum bangga yang nyaris meluap lantaran bahagia.

Cihuy, dapat restu! Aseeeek! Alhamdulillah ya Allah....

"Loh, kok cuma gitu responnya? Datar amat. Nggak seneng emang?" Mama keheranan melihat Abichandra yang berakting begitu tenang di saat-saat membahagiakan seperti ini.

Abichandra menyengir dengan tatapan jahil. "Mama suka fitnah gitu. Siapa yang nggak seneng? Kan jaim ceritanya..."

Lihat selengkapnya