Hari Minggu, menjelang pukul delapan malam.
"Kita nungguin siapa lagi ini, Bi?" tanya Saka tak sabar, menelisik jumlah penumpang di dalam mobil.
Ayah duduk di kursi depan. Mama, Andatari, dan Abichandra mengisi deretan kedua. Sementara Arifin, Teuku, dan Chandra berhimpitan di kursi paling belakang bersama tumpukan seserahan untuk keluarga Zarra.
Belakangan, Saka memang lebih sering memegang kemudi. Jangkauan penglihatan Ayah tak lagi tajam, terlebih untuk berkendara di malam hari.
"Wisnu kayaknya bentar lagi nyampe," jawab Abichandra gelisah. Ia terus mengerling ke luar jendela.
Mata Abichandra menjelajahi jalanan, mencari penampakan sahabatnya yang bertubuh tambun itu. Keterlambatan Wisnu menambah tensi di kepala Abi yang sudah pening memikirkan rundown lamaran. Mau ditinggalkan, ia merasa kasihan karena Wisnu sudah memohon sejak jauh hari ingin menyaksikan momen penting ini. Namun jika terus menunggu, seisi mobil tampak mulai senewen.
"Ke mana si Wisnu? Jangan-jangan salah lihat tanggal, Bi. Disangkain besok atau lusa. Maklum, pengangguran baru lulus biasanya suka lupa hari," celetuk Arifin dari belakang.
Dandanan si playboy apkiran itu paling mencolok. Kepalanya yang plontos ditutupi topi bundar putih ala Tompi, dipadu kemeja marun lengan pendek, celana pogo sebetis, dan sepatu kets. Seolah ia sedang melakukan napak tilas gaya busana tahun 80-an.
"Entar, aku telepon." Abichandra meraih ponsel dari saku jins, menempelkannya ke telinga.
Jika tak ada aral melintang, malam ini akan terasa sangat spesial. Prosesi lamaran ini tidak hanya dihadiri keluarga, tapi juga sahabat dekat mereka. Perwakilan kelas XII IPA 2 dan beberapa guru pun berencana hadir. Bahkan Pak Endang menawarkan diri untuk memberikan sambutan mewakili pihak Abi.
Awalnya, Abichandra keberatan acara ini dibuat ramai. Baginya, momen sakral cukup dikonsumsi orang terdekat saja. Namun, entah mengapa semua orang begitu bersemangat. Untungnya, Mama berinisiatif mengirimkan hantaran kue lebih awal ke rumah Zarra. Jika tidak, pihak perempuan pasti keteteran menyambut tamu sebanyak itu.
Abichandra memasukkan kembali ponselnya ke saku. "Nggak diangkat..." gumamnya pelan.
Saka menoleh ke belakang. "Suruh nyusul ke rumah Zarra aja atuh, Bi? Nggak enak nih, udah kemaleman banget. Telat! Di rumah Zarra mungkin udah ngumpul banyak orang sekarang. Mana kita mesti jemput Pak Endang dulu, kan?" usulnya.
"Ya, udah. Kita berangkat sekarang," Abichandra akhirnya setuju.
Baru saja Saka hendak menginjak pedal gas, sebuah ojek memasuki pelataran rumah. Wisnu datang.
"Bi, tungguin!" jerit Wisnu histeris. Si "Jumbo" itu membayar ongkos terburu-buru lalu menghampiri mobil dan mengetuk kaca jendela.
Abichandra bergegas membuka pintu, memberi ruang agar Wisnu bisa menyempil di sebelahnya. "Dari mana aja? Udah bangkotan tau kita..." tegurnya kesal. Hampir setengah jam mereka terbuang hanya untuk menunggu.
"Hehe, maafin ya, semuanya. Tadi aku habis nyetrika dulu baju resmiku, masih belum kering betul ini juga," kata Wisnu menyapa semua orang dengan seringai malu-malu.
Yang disebut "pakaian resmi" oleh Wisnu ternyata adalah setelan jas lengkap dengan dasi—pakaian yang ia gunakan saat perpisahan sekolah beberapa minggu lalu.
Semua orang terperangah. Penampilan Wisnu justru tampak seperti direktur bank, padahal si empunya acara hanya mengenakan batik dan jins sederhana. Tadi selepas magrib, Abi memang dipaksa Mama mengenakan kemeja batik cokelat yang seragam dengan seluruh anggota keluarga.
"Huuuuuu!" Sorakan riuh teman-temannya pecah dari bangku belakang.
Debar di Rumah Zarra
Zarra mematung di kamar. Ia mengintip dari celah pintu saat Sarah dan ibunya menyambut tamu yang mulai berdatangan. Beberapa tetangga, kawan sekelas, hingga anggota DKM sudah duduk melingkar di atas karpet ruang tamu.