My Truly Destiny Part 2

Vina Marlina
Chapter #23

Tamu di Tengah Malam

"Mama, hati-hati di jalan," pesan Zarra.

Ia memeluk Mama Abichandra sekali lagi, seolah enggan membiarkan wanita itu pulang. Koneksi yang tercipta di antara mereka malam ini terasa begitu kuat, hampir menyaingi kedekatan ibu dan anak kandung, melampaui batas hubungan calon mertua dan menantu.

Mama tersenyum, membelai kerudung Zarra penuh kasih. "Iya, Sayang. Rasanya Mama ingin sekali mengajakmu pulang ke rumah malam ini juga. Sayang, kita masih harus menunggu sebulan lagi."

"Gantian dong, Ma. Aku juga ingin pamitan sama adik ipar," protes Andatari dari belakang.

"Calon adik, keles! Sampai nanti ya, Zarra. Bye!" Saka mengoreksi dengan cengiran lebar. Ia melambaikan tangan, lalu bergegas menuju mobil tempat Ayah sudah menunggu. Beliau hanya memerhatikan sesi pamit-pamitan itu dari kursi penumpang dengan senyum yang tak pudar.

Zarra dan Mama akhirnya melepaskan pelukan. Sebelum menyusul Saka, Mama mendaratkan kecupan hangat di ubun-ubun Zarra. "Jaga diri, Zarra. Insya Allah nanti Mama main lagi ke sini."

Zarra mengangguk antusias. Ia melambaikan tangan pada Saka dan Mama, lalu beralih menyambut pelukan Andatari.

"Nggak apa-apa aku meluknya lama? Dobel soalnya. Aku sekalian mewakili Abi meluk kamu," bisik Andatari jahil.

Seketika wajah Zarra merona hebat. "Ah, Kakak," tegur Zarra. Ia hampir lupa bahwa kakak sulung Abichandra ini adalah ratu ledek di keluarga mereka.

Andatari tertawa renyah. Ia melepaskan pelukannya, mencubit pipi merah Zarra dengan gemas, lalu masuk ke baris kedua mobil bergabung bersama Mama.

Kini tinggal Abichandra yang tersisa. Pemuda itu tampak gugup, bahkan sebelum memulai kata-kata. Beberapa saat lalu, tamu-tamu lain sudah pulang. Sarah dan ibunya menumpang mobil Bu Rucika, sementara rekan-rekan seperti Wisnu, Arifin, dan Riki ikut di mobil Pak Trisno bersama Pak Endang. Kini, hanya doa restu yang mereka tinggalkan untuk kelancaran niat suci kedua calon pengantin ini.

"Ehm... Zarra," Abichandra membuka suara dengan kaku. Pandangannya jatuh pada sandal Zarra yang bergerak-gerak gelisah—persis seperti pemiliknya.

Melihat tingkah itu, Abichandra merasa geli sekaligus gemas. Ia perlahan mengangkat wajah, menatap lurus ke arah calon istrinya. Ia ingin merekam setiap gurat malu di wajah Zarra. Sebuah senyuman manis tersungging di bibirnya, namun rasa gugup kembali menyergap hingga ia terpaksa menunduk lagi. Banyak hal yang ingin ia sampaikan, tapi lidahnya mendadak kelu.

Akhirnya, hanya satu kalimat yang berhasil lolos, "Cepat masuk, Zarra. Di luar dingin."

"Oh, iya. Kamu juga, Bi," balas Zarra canggung, bingung harus menimpali apa lagi.

Abichandra mengangguk, lalu berbalik hendak pergi. Namun pada detik terakhir, ia menoleh kembali. Entah mengapa, rasanya berat sekali meninggalkan rumah itu. Secercah penyesalan muncul di dasar hatinya; kenapa tadi tidak langsung nikah saja, sih? Bukankah tempo hari Mama Zarra sudah memberi lampu hijau?

Lihat selengkapnya