Tangan Zarra mencengkeram selimut erat-erat. Mengapa hawa di sekelilingnya terasa ganjil? Tengkuknya meremang. Di ambang kesadarannya yang belum pulih sempurna, ia bergidik. Dingin yang teramat sangat menyergap pori-porinya. Ia mencoba mencerna keadaan, namun kepalanya terasa seberat timah. Pusing dan mual. Matanya seolah terkunci, begitu pula fokusnya yang mengawang-awang di ruang hampa.
Zarra memiringkan tubuh. Aneh. Ada desau napas dan presensi asing di dekatnya. Siapa? Ia memaksa otaknya untuk terjaga. Firasatnya berteriak bahwa ia tidak sedang sendirian.
Begitu kelopak matanya terbuka perlahan, pandangannya langsung bertabrakan dengan sepasang mata cokelat milik Rey. Lelaki itu duduk di tepian ranjang, menatapnya dengan kilat mata yang sulit diartikan. Jarak mereka begitu intim. Tersentak, Zarra spontan bangkit dan menggeser tubuh menjauh. Saat itulah, rasa dingin yang sedari tadi menyiksanya terjawab sudah.
Astagfirullohaladzim! Ya Allah! jeritnya dalam hati, nyaris tak bersuara.
Tubuh Zarra hanya terbungkus selimut sebatas dada, menyisakan pundaknya yang polos terpapar udara. Tanpa perlu memeriksa lebih jauh, ia tahu tak ada sehelai benang pun yang tersisa di tubuhnya. Dengan gerakan kalut, ia merenggut selimut untuk membungkus dirinya lebih rapat. Mata bulatnya membelalak ketakutan, melemparkan tatapan penuh tuduhan pada Rey.
"Rey, ada apa ini?! Aku kenapa?!" bisik Zarra gemetar. Panggilan 'Kakak' yang biasanya ia sematkan, lenyap ditelan horor yang nyata.
Otaknya menuntut penjelasan, sementara hati kecilnya sudah membisikkan kemungkinan paling mengerikan. Rey berpakaian lengkap, namun fakta bahwa lelaki itu telah membekapnya hingga pingsan semalam membuat napas Zarra terasa sesak.
Allahu Akbar. Jantungnya seolah merosot ke dasar lambung.
Ditodong pertanyaan itu, Rey tetap bergeming. Sikapnya tenang, seolah telah siap menghadapi badai yang ia ciptakan sendiri.
"Aku siap tanggung jawab," kata Rey lugas.
Dunia seakan berhenti berputar. Mendengarnya, Zarra merasa mual yang hebat. Ia berharap telinganya salah menangkap informasi, namun nyatanya kalimat Rey barusan adalah pukulan telak yang menghancurkan seluruh dunianya.
Jika Rey siap bertanggung jawab, artinya... semua ketakutannya benar-benar terjadi.
Ya Rabbi. Zarra memejamkan mata, jemarinya memutih karena mencengkeram selimut terlalu kuat. Tak perlu penjelasan teknis; ia paham bahwa kehormatannya telah dirampas secara keji.
"Pergi..." gumam Zarra termangu. Luka di hatinya terasa seperti sayatan sembilu yang kian lama kian dalam, memelintir ulu hati.
"Zarra..." Rey mencoba mendekat, hendak menyusun pembelaan.
"Tolong pergi. Aku pingin sendiri," ulang Zarra. Ia tak sanggup lagi memandang wajah lelaki yang baru saja menghancurkan masa depannya.
"Tapi Zarra..."
Zarra kehilangan kendali. Emosinya meledak, hancur berkeping-keping.
"Aku bilang pergi! Pergi! Pergiiiii! Dasar jahat! Orang jahat!" pekiknya histeris. Air matanya tumpah ruah.
Zarra merenggut apa pun yang bisa ia jangkau—bantal, guling, deretan boneka di sisi ranjang, hingga jam weker dan gelas air di meja nakas—semuanya ia lemparkan ke arah Rey. Ia ingin melukai lelaki itu, ingin membalas rasa sakit yang tak tertanggungkan ini.
"Pergiiiiiii!"