My Truly Destiny Part 2

Vina Marlina
Chapter #25

Dear God

Di atas ranjang, Wisnu menumpahkan keluh kesahnya.

"Bi, aku kepingin banget bisa nyaksiin kamu nikah, tapi susah ngelobi si Babe. Katanya urgent, dua hari lagi aku kudu pulang ke Medan. Si Babe mau buka cabang jadi aku kudu jagain kios satunya, bantuin si Mamak," keluh Wisnu murung.

Wajahnya tertekuk lesu, persis orang yang baru saja mengendus bau belacan yang menyengat. Beginilah nasib anak perantauan temporer; kapan pun panggilan pulang menggema, kaki harus melangkah kembali. Tangan Wisnu membolak-balik halaman komik Detektif Conan koleksi Abichandra tanpa minat membaca sedikit pun.

Abichandra menghentikan jemarinya yang sedari tadi berselancar di laptop. Ia baru saja asyik menggali informasi mengenai kampus barunya, termasuk mencari referensi indekos di sekitar sana.

Zarra pernah berucap sangat ingin kuliah Sastra Prancis atau Inggris, tak peduli di mana kampusnya berada. Lucunya, menurut sang mama, gadis itu belum melakukan persiapan atau riset apa pun terkait rencana studinya.

Jika Zarra memilih Sastra Inggris, pilihannya melimpah dari negeri hingga swasta. Namun, untuk menjadi mahasiswa Sastra Prancis, setahu Abichandra pilihannya cukup terbatas. Di Bandung, jurusan itu hanya ada di UNPAD dan UPI—keduanya universitas negeri dengan persaingan ketat. Sisanya berada di luar Jawa Barat, paling dekat mungkin UI di Depok. Namun, sebisa mungkin ia ingin menghindari LDR. Ucapan Chandra ada benarnya: tidak seru jika pengantin baru harus menjalani hubungan jarak jauh.

Kenapa Zarra malah santai-santai saja tidak ikut tes SBMPTN kemarin? Zarra... Zarra...

Ataukah dia ingin ke swasta saja? Ada jurusan Sastra Prancis di STBA. Sebenarnya, di mana gadis itu ingin berlabuh? Abichandra bertekad menanyakannya nanti. Ia perlu gambaran untuk menentukan lokasi hunian mereka setelah menikah, agar letaknya strategis di antara ITB dan kampus Zarra.

Kembali ke urusan Wisnu, Abichandra menutup laptop dan memberikan perhatian penuh pada sahabatnya. Mendengar kabar kepulangan Wisnu ke Medan, ada rasa kehilangan yang menyelinap. Tiga tahun mereka berbagi bangku dan tawa, kini perpisahan sudah di depan mata.

Abichandra beranjak, ikut duduk di sisi ranjang. Ia melihat mata sahabatnya yang tambun itu mulai berkaca-kaca. Benar saja, butiran bening mulai luruh. Abichandra hanya bisa berharap genangan itu tidak berubah menjadi tangis bombay yang merepotkan.

"Kenapa waktu kok cepet banget berlalunya ya, Bi? Perasaan baru kemaren kita masih kelas X, diospek bareng, masuk OSIS, becandaan, jajan di kantin bi Cucun, kemping, ledekin Arifin, liwet party, tapi sekarang kita harus pisah aja..." ucap Wisnu terbata-bata, berjuang mengendalikan emosi yang menghentak dada. Ia menyapu air mata di pipinya menggunakan ujung kaos oblong. Wisnu memang pria yang kelewat sensitif.

"Emang sunatullahnya begitu, Wis. Tiap yang dikandung akan lahir dan tiap yang lahir akan mati. Semua berputar sesuai masa yang telah ditentukan. Walaupun kita udah lulus dan jalani hidup masing-masing, kan masih bisa ketemuan atau minimal vi-call an atau whats-uppan. Seribu jalan buat silaturahim dimudahkan teknologi kekinian di jaman sekarang mah," hibur Abichandra tenang.

Tangis Wisnu mereda, meski isaknya belum sepenuhnya hilang. "Iya, tapi momentumnya itu loh, Bi. Kagak bakal bisa balik lagi. Sekali kita lulus SMA ya udah nggak bakal bisa balik lagi jadi anak SMA..."

Abichandra tersenyum tipis. Mau bagaimana lagi? Tidak mungkin seseorang menjadi siswa SMA selamanya.

"Perpisahan bukan akhiran, Wis. Itu hanya awal kisah yang baru. Di depan sana, Allah akan ngasih kita petualangan hidup yang lebih menantang sebagai pembelajaran, untuk kita ambil hikmahnya. Tanggal ini di tahun depan, kamu juga mungkin udah jadi bos besar dan punya istri cantik. Seru, kan?" lanjut Abichandra.

Ia berusaha membuang pikiran melankolis. Baginya, menjalani apa yang terbentang di depan mata adalah bentuk totalitas penghambaan kepada Rabb-nya. Sebuah keikhlasan menerima setiap skenario yang telah digariskan di Lauhul Mahfudz, baik yang berasa manis maupun getir.

"Istri cantik," gumam Wisnu merenung. Seulas senyum tipis terukir di bibirnya. Ia teringat bagaimana dulu ia memuja Zarra dan sempat merajuk pada Abi karena gadis itu. Sebuah kekonyolan masa remaja yang kini terasa lucu.

"Kamu tuh yang sebentar lagi bakal punya istri cantik. Jagain Zarra baik-baik, ya... Aku akhirnya paham kata-kata kamu soal cerita cinta Salman Alfarisi, Bi. Kenapa Salman bisa menyerahkan gadis yang dia kecengin untuk sahabatnya, aku ngerasain betul hal itu. Kamu sahabat aku, cowok yang insya Alloh agama dan akhlaknya baik. Dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku ikhlas Zarra pilih kamu, Bi. Aku tahu dia bakal bahagia nya sama kamu," tutur Wisnu, menguraikan hakikat cintanya yang telah mendewasa.

Abichandra terenyuh. Hati Wisnu begitu lapang. Memang begitulah cinta yang sejati: merelakan yang tersayang menggapai bahagia, meski tidak bersama kita.

Ia merangkul bahu sahabatnya itu, menatap wajah Wisnu yang memancarkan ketulusan. "Kamu juga sahabat yang paling the best, Wis. Niatkan selalu pertemuan dan perpisahan kita karena Allah."

Bagian 2: Dilema Sarah

Sarah meremas gagang sapu lidi dengan kuat, mencoba meredam getaran hebat di dadanya. Sapu itu bergerak mekanis di pelataran rumah tanpa arah yang jelas. Pikirannya melayang jauh ke gerbang impian yang baru saja terbuka, namun terasa sulit dimasuki: dunia kampus.

Kabar kelulusannya di Fakultas Kimia Industri UNPAD—tempat Saka menimba ilmu—seharusnya menjadi berita bahagia. Namun, kenyataan pahit menghantamnya. Ibunya mengaku tidak memiliki dana untuk biaya kuliah. Sepetak tanah yang semula disiapkan untuk tabungan pendidikan terpaksa dijual lebih awal.

Harta peninggalan almarhum ayahnya kini ludes. Sang ibu terpaksa menggunakannya untuk menutup lubang modal usaha yang baru saja dikuras rekan bisnis yang tidak bertanggung jawab. Selama ini, ibunya bertahan hidup dengan mengandalkan kredit pakaian dan perlengkapan rumah tangga. Namun, rekan kepercayaannya tega membawa lari uang setoran konsumen dan menghilang tanpa jejak.

Sarah beristigfar, memperkokoh dinding pertahanannya. Beberapa malam lalu, sang ibu menangis tersedu, merasa gagal karena harus menunda kuliah putri sulungnya yang telah berjuang keras di SBMPTN.

"Maafin Ibu, Nak. Ini semua salah Ibu..." isak sang ibu kala itu.

Lihat selengkapnya