Ba’da subuh, Abichandra sudah tenggelam dalam rutinitas domestik. Sejak Saka mulai sibuk kuliah, praktis tongkat estafet menjaga kebersihan rumah berpindah sepenuhnya ke tangan Abi. Ia tak ingin melihat mamanya kelelahan, apalagi dalam waktu dekat ia pun akan menyusul jejak sang kakak; merantau demi bangku kuliah dan menetap di indekos.
"Bi, Mama nge-WhatsApp Zarra nggak dibalas-balas terus dari kemarin-kemarin," gumam Mama seraya mengernyit. Jemarinya yang terampil mengiris bawang merah terhenti sejenak di atas talenan.
Abi menghentikan gerakan kain pel di lantai. Ia menoleh, menatap wajah cemas ibunya. "Iya sih, Ma. WA dari Abi juga belum dibalas sampai sekarang. Padahal mau nanyain mahar..."
"Aduh, kenapa, ya? Kok Mama nggak enak hati. Baru kali ini Zarra lama banget balas WA Mama. Sampai berhari-hari. Masa belum aktif-aktif juga hapenya..." Mama meletakkan pisau, keresahannya tumpah sepenuhnya. Bawang merah di hadapannya terlupakan begitu saja. Fokusnya kini terkunci pada putra bungsunya.
Berhari-hari? Jantung Abi berdegup lebih kencang. Ia mengira ponsel Zarra baru mati sejak semalam, ternyata kegelapan informasi ini sudah berlangsung lebih lama dari dugaannya.
"Ntar sore anterin Mama ke rumah Zarra, Bi... Mama beneran kuatir."
"Oke, Ma..." jawab Abi singkat, meski benaknya mulai dipenuhi spekulasi yang tidak menyenangkan. Ada apa, Zarra?
***
Siang itu, suasana rumah Abi mendadak ramai. Arifin, Chandra, Teuku, dan Wisnu berkumpul untuk sebuah perpisahan kecil. Bagi Wisnu, ini adalah momen langka. Tugas menjaga kios di Medan akan membuat pertemuan seperti ini menjadi barang mewah di masa depan.
Di teras depan yang bersahaja, mereka menggelar ritual "liwet party". Duduk bersila di atas tikar, beralaskan daun pisang, mereka menyantap nasi liwet hangat lengkap dengan ikan asin jambal, tahu, tempe, serta sambal yang menggoda selera.
"Uenaaaak tenan, Bi... Mamamu memang the best!" puji Wisnu di sela kunyahannya yang lahap.
"Wis, take off jam berapa kamu besok?" tanya Arifin.
"Jam dua malam ini aku kudu ngikut travel ke Jakarta. Kalau pesawatnya sih terbang jam delapan pagi," jawab Wisnu sembari berjuang menelan suapan besar.
"Jangan lupa setibanya di sana langsung paketin oleh-oleh buat kita. Teri Medan atau apa gitu. Setdah! Ampun minah, sambalnya level berapa ini teh, Bi? Bener-bener seuhah lada-lada!" keluh Chandra yang wajahnya mulai memerah akibat sengatan cabai. Ia segera menyambar potongan ikan asin untuk meredam bara di lidahnya. Abi hanya terkekeh, tahu benar bahwa sambal buatannya memang "berbahaya".
"Bisa diatur lah itu. Yang penting jangan lupa streaming-in prosesi nikahnya si Abi, aku mau nyaksiin langsung dari sana. Kagak pake siaran tunda pokoknya... Heh, jatah aku ini mah!" seru Wisnu saat tangannya berebut potongan tempe terakhir dengan Teuku.
"Ampuni Baim, ya Allooooh... Pelit banget juragan Wisnu ini," keluh Teuku dramatis, akhirnya mengalah dan mengincar ikan jambal milik Arifin.
Di tengah gelak tawa itu, ponsel di saku celana jins Abi bergetar. Ting!