My Truly Destiny Part 2

Vina Marlina
Chapter #27

Pelataran Yang Sunyi

Abichandra memacu motornya memasuki pelataran rumah Zarra. Sebuah pekarangan luas yang dipagari barisan pepohonan dan bunga beraneka jenis yang rimbun. Akses masuknya cukup lebar, mencerminkan kelas sosial pemiliknya yang mampu menampung kendaraan besar dengan leluasa.

Sekitar lima belas meter dari jalan raya utama, berdiri sebuah bangunan putih bergaya kolonial yang megah. Rumah itu tampak mencolok, kontras dengan hunian penduduk sekitar yang didominasi bilik kayu mungil nan asri. Namun, kemegahan itu kini tampak seperti monumen mati.

Dari kejauhan, insting Abichandra sudah menangkap ada yang tidak beres. Ia memarkir motor off-road milik Saka tepat di depan teras. Matanya terpaku pada lantai teras yang biasanya mengilat, kini kusam tertutup debu. Jejak kaki kucing yang bercampur lumpur kering bertebaran di sana-sini—sebuah tanda visual bahwa tempat ini tidak tersentuh kehidupan selama berhari-hari.

Dihantui rasa penasaran yang menyesakkan, Abi melangkah naik. Hatinya mencelos. Tirai-tirai besar menutupi jendela, sementara lampu teras masih menyala pucat di bawah sinar matahari siang. Sebuah rumah yang kehilangan jiwanya.

Zarra.... Apa kamu nggak ada di rumah?

Ia menggedor pintu kayu jati itu berkali-kali. "Assalamualaikum, Zarra!"

Hening. Hanya suara desau angin yang menyahut.

"Zarra!"

Masih tak ada jawaban.

"Zarra, Ini Abi...!" Suara Abichandra meninggi, serak oleh kecemasan. Ketukannya berubah menjadi hantaman tangan yang bergetar.

Suasana tetap senyap.

"Zarra, tolong... ini aku, Abi!" Kalimat itu nyaris terdengar seperti rintihan.

Menyerah, Abichandra menyandarkan keningnya pada permukaan pintu yang dingin. Tubuhnya melemas, seolah seluruh tenaganya baru saja dikuras habis. Shock, kalut, dan rindu beradu menjadi satu beban berat yang menghimpit dada.

Zarra, kamu pergi...? Pergi kemana...?

Di jalan raya, Arifin dan kawan-kawannya mulai kehilangan arah. Abichandra memacu motornya seperti orang kesetanan, menghilang di tikungan secepat mantra Apparate dalam kisah Harry Potter.

"Si Abi kemana, kira-kira! Tebakin, dong!" teriak Arifin dari jok Revo birunya sembari membonceng Wisnu.

Lihat selengkapnya