Menyaksikan deraian air mata di pipi Wisnu sebenarnya sudah menjadi kelumrahan yang nyaris wajib. Cowok itu tidak bisa mendengar cerita sedih sedikit saja tanpa membuat perasaannya hancur, bahkan melampaui histeria penonton drama Korea. Namun, melihat Wisnu menangis sesenggukan di tukang tambal ban adalah pemandangan yang—jujur saja—sangat memalukan.
"Masa si Rey bilang mau nikahin Zarra? Gelo pisan! Terus Zarra-nya emang udah bilang mau? Ah, ngga percaya aku!" kata Wisnu terbata-bata di tengah isaknya yang dramatis.
Ia berjongkok di depan kios tambal ban kecil di pinggir jalan, bersikap masa bodoh meski si tukang tambal berkali-kali berjengit kaget. Pria itu tampak bingung melihat kontradiksi antara tangisan pilu dan postur tubuh Wisnu yang bongsor.
"Yee, udah dong, Wis. Malu, nih..." Arifin yang berjongkok di sebelah Wisnu menegur sambil menyikut lengannya. Wajah Arifin merah padam, menyadari pandangan si tukang tambal ban terus-menerus tertuju pada Wisnu ketimbang fokus pada ban motor mereka.
Kejadian ini bermula saat Arifin dan Wisnu sedang mendorong manual Revo biru mereka yang kempes. Di tengah jalan, mereka berpapasan dengan Abichandra dan Chandra yang hendak pulang. Di sanalah Chandra dan Teuku sempat menepi, melakukan sesi 'curhat' singkat tentang tragedi yang menimpa Abichandra.
Sementara Abichandra sendiri? Ia justru terus meluncur pulang lebih dulu, seolah tak sadar dengan dunia di sekelilingnya. Pikirannya tersumbat oleh nama Zarra dan Rey hingga sesak.
"Nggak kebayang sedihnya si Abi kayak gimana. Tiga minggu mau nikah malah ditinggal Zarra pergi. Kayak cerita di tipi-tipi yang batal kawin tea geuningan. Dasar, si Rey manusia durjana! Nggak mungkin si Zarra mau nikah sama dia. Ah, bullshit! Kan kita udah tahu selama ini Zarra selalu menghindar dari si borokokok! Yang aku takutin tuh si Zarra kepaksa pergi gara-gara dia!" Wisnu merepet panjang lebar.
Seandainya semua orang tahu betapa akuratnya intuisi Wisnu saat itu.
"Iya, iya. Udah atuh Wis. Kan kita mau balik ke tempat si Abi. Jangan malah bikin dia tambah sedih lihat kita baper semua gini. Terus inget nggak si Chandra tadi bilang apa? Abi pesen jangan sampai keluarganya tahu dulu soal ini. Jadi udah dong stop nangisnya. Entar Mama si Abi curiga!" Arifin berusaha meredam suasana.
Maka, setibanya di beranda rumah Abichandra, Wisnu langsung menghambur dan membenamkan wajah di pundak sahabatnya. Meski matanya sudah bengkak dan sembab, stok air matanya seolah tak pernah kering.
"Bi..., aku bener-bener nggak bisa ninggalin kamu sekarang. Sobat macam apa aku yang malah pergi, padahal kamu lagi butuh dukungan!" Wisnu mengerang kencang. Tangannya menyeka air mata dengan kasar sembari merengkuh punggung Abichandra.
Abichandra membalas rangkulan itu dengan hangat, sorot matanya yang redup menyiratkan pengertian mendalam.
"Nggak apa-apa, Wis. Doain moga cepet ada jalan keluarnya," kata Abichandra sabar. Ia menepuk-nepuk punggung Wisnu pelan, mirip gestur seorang ayah yang menenangkan putranya.
Di dekat mereka, Arifin, Chandra, dan Teuku terdiam. Mereka berdiri berjejer, siap untuk pamit karena langit sudah mulai menjingga, menyambut magrib.
"Aku cancel aja penerbangannya ya, Bi. Aku tunda sampai semuanya clear," isak Wisnu penuh penyesalan.
"Jangan. Nanti Mamak sama Babe kamu di Medan kecewa," ucap Abichandra, mencoba tetap tegar meski hatinya sendiri sedang hancur lebur.
Arifin perlahan mendekat, ikut menepuk bahu Wisnu. "Iya, Wis. Kamu tenang aja, kan ada kita di sini yang bakal bantuin Abi," katanya ikut terbawa suasana haru.
Perpisahan selalu menyisakan getir yang aneh. Teuku, yang biasanya cuek, kini hidungnya sudah semerah tomat. Ia ingin menangis, tapi harga dirinya sebagai lelaki menahan bendungan itu. Ia lebih memilih pura-pura memperhatikan kendaraan yang lewat daripada harus kehilangan wibawa di depan teman-temannya.
"Tapi... tapi... tapi..." Wisnu masih mencari celah untuk tinggal. Namun, Chandra segera memotongnya.
"Nggak ada tapi-tapian. Kita janji bakal terus ngabarin kamu, Wis. Udahan atuh nangisnya, sisain tenaga buat perjalanan ke kampung. Kalau kamu keburu kelemesan di jalan, gimana?"