My Truly Destiny Part 2

Vina Marlina
Chapter #29

Bittersweet Memories

Zarra tetap termangu. Ia bergeming, tak sedikit pun memberontak saat sang mama membantunya kembali menjejakkan kaki ke lantai kamar. Tatapannya tertuju pada wanita yang kini histeris menangis itu, namun wajahnya hampa. Ekspresinya datar, seolah seluruh kemanusiaan—rasa sedih, marah, atau bahagia—telah terkuras habis dari dirinya. Gurat yang terukir di wajah itu tampak mati, menyerupai sosok tanpa jiwa.

"Zarra! Tolong jangan hukum diri kamu lagi kayak gini, Nak. Mama nggak tahan ngeliatnya!"

Guncangan batin yang hebat selama beberapa hari terakhir telah membuat jiwa Zarra retak. Awalnya, ia hanya menatap mamanya dengan sorot mata kosong. Namun perlahan, kesadarannya mulai merayap naik. Fokusnya kembali. Ia tersentak pelan; apa yang sebenarnya telah ia lakukan? Mengapa mama menangis sehebat itu? Ya Rabbi... Zarra hanya ingat ia ingin mencari udara segar. Namun, mengapa semuanya terasa kabur?

"Tolong jangan kayak gini, Zarra. Ngapain kamu duduk di jendela kayak tadi? Mau bunuh diri? Demi Tuhan, kelakuan kamu sama aja kayak nyakitin Mama, Zarra!" Isak tangis mama pecah. Tubuhnya meluruh, jatuh terduduk di atas lantai.

Dalam isaknya, memori tentang tumpukan dosa masa lalu berputar bak kaset rusak. Perzinaan, pelarian dari keluarga besar, jerat alkohol, hingga keputusannya menempatkan sang putri dalam lingkungan berisiko. Kini, ia merasa sedang memanen badai dari benih yang ia tanam sendiri.

Zarra tersentak sepenuhnya. Astagfirullahaladzim... benarkah ia baru saja mencoba mengakhiri hidup? Ia tak bermaksud demikian. Zarra menggelengkan kepala berulang kali, air matanya mulai merebak membasahi pipi.

Ya Allah, ampuni aku! Kenapa aku jadi begini? bisiknya merana dalam hati.

"Mama pingin ngasih apa aja sekarang, supaya Tuhan berhenti hukum Mama lewat kamu, Zarra..." ratap sang mama.

Mendengar kata "Tuhan" terucap dari bibir mamanya—sesuatu yang tak pernah Zarra dengar seumur hidupnya—membuat gadis itu tertegun. Ia segera menekuk lutut, menyejajarkan diri dengan wanita yang melahirkannya itu.

"Mama tadi bilang apa?" tanya Zarra lirih, menuntut kepastian.

"Demi Tuhan, Mama nyesel. Mama pingin berubah," sahut mama di sela sedu sedan yang menyayat hati.

Zarra terharu. Ia merengkuh tubuh mamanya, mendekapnya erat-erat. "Maafin Zarra udah bikin Mama sedih...."

Maafin aku juga, ya Allah. Maaf! Zarra meratapi kekhilafannya yang nyaris berujung maut.

Tepat seminggu tanpa kabar dari Zarra, kecemasan mama memuncak. Ia tak lagi mempan diberi seribu alasan oleh Abichandra. Entah mengapa, anak bungsunya itu seolah sengaja membentengi dirinya untuk menemui Zarra.

Mama menghampiri Abichandra yang tengah membuang energi di balkon, menghantam samsak taekwondo dengan tendangan-tendangan keras. Napas cowok itu memburu, kaos oblong dan celana pendeknya basah kuyup oleh keringat yang bercucuran hingga ke wajah.

"Kamu ini gimana, Bi? Kemarin Mama ngajakin kamu ke tempat Zarra, bilangnya kamu sakit perut. Kemarinnya lagi bilang motor kamu bermasalah. Terus sekarang, kamu bilang Zarra mungkin lagi pergi ke Bandung buat shopping. Memangnya kamu tahu darimana dia shopping? Kayak nomornya bisa dihubungi aja! Sebenernya ada apa ini? Coba cerita!" omel mama dari ambang pintu sambil berkacak pinggang.

Abichandra tak berani membalas tatapan mamanya. Ia tahu wanita itu sedang dalam puncak kemarahan. Ia menghentikan ayunan samsak dengan kedua tangannya, mencoba menenangkan debar jantung sementara otaknya berputar mencari kalimat yang tepat. Mungkin, ini saatnya keluarga tahu yang sebenarnya.

Lihat selengkapnya