"Biiii!"
Suara cempreng Arifin melengking, menembus speaker ponsel dan menghantam gendang telinga Abichandra dengan telak. Abi spontan menjauhkan ponselnya, wajahnya meringis menahan nyeri yang berdenyut.
"Fin, opening dulu napa? Assalamualaikum, gitu!" tegur Abi sambil memijat telinga kanannya yang mendadak pengang.
"Sorry... sorry... Habisnya aku shock berat! Si Satria udah ketemu, Bi! Dia ditemukan pingsan di pinggiran Banjaran. Barusan ada yang nelpon, katanya sekarang dia dirawat di Rumah Sakit Bale Endah!" Arifin bercerita dengan nada yang lebih pelan, meski napasnya masih terdengar memburu di seberang sana.
Jantung Abichandra seakan berhenti berdetak sesaat. Satria?
"Di ruangan mana? Aku ke sana sekarang!" tanya Abi tanpa menunggu penjelasan lebih panjang.
Pikirannya mendadak riuh. Satu menghilang tanpa kabar, yang satu muncul setelah tiga bulan raib bak ditelan bumi. Zarra dan Satria—dua orang yang paling memenuhi kepalanya kini seolah sedang bermain estafet dalam hidupnya.
***
Bau karbol dan antiseptik yang tajam menyambut Abi saat ia melangkah masuk ke bangsal kelas tiga. Di atas ranjang besi yang mulai berkarat di sudut-sudutnya, sosok itu terbaring kaku.
"Dia belum sadar juga? Kata dokter apa, Fin?" tanya Abichandra. Suaranya merendah, nyaris berbisik.
Satria tampak kehilangan separuh nyawanya. Tulang pipinya menonjol tajam di bawah kulit yang kusam dan dehidrasi, membingkai wajah yang kini tirus karena jarang tersentuh makanan. Rambutnya yang dulu rapi kini gondrong sebahu, lengket dan menggumpal. Bau apek yang menusuk menguar dari pakaian dekilnya, seolah debu jalanan telah menyatu permanen dengan serat kain.
"Dehidrasi parah, Bi. Demam tinggi tapi nggak ada yang ngurusin. Aku nggak bisa bayangin gimana dia bertahan di jalanan sendirian," jawab Arifin lirih.
Tiba-tiba, Arifin mencoba menarik napas dalam, berusaha mengusir kesedihan. "Untung yang nemuin orang baik, Bi. Coba kalau preman beneran, mungkin Satria udah dikira saingan wilayah gara-gara brewoknya yang lebih tebel dari sapu ijuk ini," celetuk Arifin dengan nada cemprengnya yang khas, mencoba mencairkan suasana meski matanya masih tampak sembab.
"Tungguin di sini. Aku mau beli baju, makanan, sama alat cukur," ucap Abi pendek sambil menepuk bahu Arifin.
Tak lama kemudian, Abi kembali. Dengan telaten, ia mulai membersihkan wajah Satria. Tangannya yang stabil menggerakkan pisau cukur, membabat habis hutan liar di wajah sahabatnya itu. Seiring hilangnya kumis dan janggut yang berantakan, wajah asli Satria mulai kembali terlihat.
"Nah, sudah manusiawi sekarang," gumam Abi puas.
"Gokil lu, Bi. Kalau Satria bangun terus liat kaca, dia pasti ngira kita salah bawa dia ke salon, bukan ke rumah sakit," timpal Arifin sambil nyengir, meski tangannya sibuk memeras waslap hangat untuk menyeka tubuh Satria.
Beberapa jam kemudian, Satria mulai terjaga. Kelopak matanya bergerak perlahan sebelum akhirnya terbuka sepenuhnya. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah Abi dan Arifin yang menatapnya penuh harap.
"Hei, kalian..." bisik Satria parau.