My Truly Destiny Part 2

Vina Marlina
Chapter #32

Awalan Yang Baru

"Sarah..."

Sarah menengadahkan wajah, menjeda prosesi pemakaian sepatunya di tangga paling bawah Masjid Pesantren Al Falah. Sedetik lalu, dia mendengar sapaan dari satu cowok yang dulu sering menggodanya dalam mimpi. Ya, dulu, karena sekarang impian tentang cowok itu sudah tak lagi mengusiknya.

"Abi, kamu lagi apa di sini?" tanya Sarah keheranan. Lebih heran lagi begitu mendapati ada cowok tak asing yang berdiri di sebelahnya. Sarah terkesiap melihatnya.

"Satria?" panggilnya tak percaya. Bukannya kemarin-kemarin dia lenyap ditelan bumi? Eh, tiba-tiba datang kembali begitu saja ke bumi Rancabali.

Satria tampak cengengesan. Dia sudah mafhum mendapat respons begitu dari Sarah. Seharian ini, sudah berapa kali dia dihinggapi sorot ketidakpercayaan yang sama dari orang-orang yang dikenalinya di jalan. Semua notabene teman-teman sekolahnya.

"Hallo, Sarah. Kenapa? Kaget?" tukas Satria ringan.

Sarah menggeleng-gelengkan kepala. Satria... Satria... Dia tetap cowok cuek seperti yang diingatnya dulu. Sarah lalu beralih memandangi Abichandra prihatin. Ia berdiri menegakkan tubuhnya supaya posisi mereka sejajar. Dia sudah mendengar berita batalnya rencana pernikahan Abi dan Zarra. Kedua ibu mereka sudah curhat-curhatan sewaktu pengajian.

"Bi, aku ikut sedih denger berita menghilangnya Zarra," kata gadis bergamis biru dan berkerudung putih panjang itu tulus. Tapi Abichandra kelihatannya sudah ikhlas menerima suratannya. Di wajahnya tak kelihatan sedikit pun gurat kesedihan. Yang ada hanya ketabahan.

Si Abi kuat banget... komentar Sarah dalam hati.

"Zarra nggak menghilang kok, Sarah. Dia di tempat yang aman," cerita Abichandra singkat, tersenyum sabar. "Oh iya Sarah, mulai besok Satria ikut mesantren sama ustadz Yahya. Kamu ngajar di sini juga, kan? Titip Satria ya. Kalau dia bandel, kemplang aja kepalanya," gurau Abichandra, sambil memperagakan langsung bagaimana cara mengemplang kepala Satria yang baik dan benar. Tangan kanannya mengepal dan sudah dilayangkan ke atas, berniat menggetok tempurung Satria.

"Aduh. Yang bener aja, Bi. Nanti dianggap serius sama si Sarah bisa benjol kepala gua dikemplangnya tiap hari! " Satria protes, menghindari gerakan tangan Abichandra.

Sarah tertawa-tawa melihatnya. Eh, tunggu dulu, apa kata Abi barusan? Satria mau mesantren di sini? Si cowok tukang bikin onar sesekolahan itu? Masya Allah...! Sarah takjub.

"Mulai sekarang aku mau ganti nama, Sarah..." celetuk Satria sekenanya.

Sarah mengernyitkan kening. Jenis kejahilan apa lagi yang mau dibikin Satria?

"Jadi apa? Asep Saepulloh lagi?" kata Sarah keceplosan. Momen waktu Satria menggoda Zarra di hari pertama sekolahnya lumayan membekas di benak Sarah.

Satria dan Abichandra kompak terbahak.

"Bisa aja kamu, Sarah. Nggak tahu berubah jadi apa. Nanti mau minta saran ustad Yahya dulu. Nama Satria mau aku kubur-kubur dalam-dalam mulai sekarang. Nanti kalau nama barunya udah ketemu, tolong bikinin bubur merah bubur putihnya. Rasanya yang enak, tapi kasih kortingan, syukur-syukur utangan. Aku lagi tongpes soalnya," kata Satria bawel.

Yah, sesuka hati Satria lah, Sarah nggak mau ambil pusing. Ia sudah mengenal betul kenyentrikan cowok yang badung dan aneh itu.

Benar yang dikatakan orang-orang. Waktu merupakan obat paling mujarab untuk mengobati luka. Jalani saja jangan banyak mengeluh, lalu biarkan sang panah bernama waktu melumat segala peristiwa menyakitkan. Biarkan ia mengabur menjadi penggalan kenangan yang tersimpan sebagai bahan pembelajaran. Abichandra sudah merasakan sendiri khasiatnya.

Lantas, apa nama Zarra telah berhasil dilupakannya? Ya, nggak juga, sih. Selain amnesia, apa yang mampu membuat kita melupakan seseorang? Apalagi orang itu sangat istimewa di hati.

Nama Zarra tetap ada di sana. Mendiami satu bilik rahasia yang tak pernah disebutkan Abichandra. Pernah mendengar satu ungkapan, kalau seorang cowok itu biarpun kelihatan acuh namun perasaan yang sebenarnya bagaikan gunung es di bawah lautan? Begitu luas tak terselami, tapi tersamarkan dinginnya permukaan.

Malam menjadi saksi bisu bagaimana Abichandra selalu mendoakan yang terbaik bagi diri, keluarga, dan orang-orang terdekatnya. Terkadang, dihadiahkannya juga sebentuk harapan bagi Zarra, sepenuhnya mendoakan kebahagiaan gadis itu. Selama dia belum memiliki gadis lain yang merupakan jodoh sejatinya, rasanya tak apa bila Zarra masih tersebutkan dalam doa-doa panjangnya.

Abichandra tak tahu, ketika ia melafalkan nama Zarra, di suatu tempat nun jauh di sana si gadis pun melakukan hal serupa untuknya. Mereka bertemu dalam ikatan-ikatan ajaib yang tak kasat mata, meskipun raga mereka berjauhan. Satu sama lain saling merindukan dalam diam. Tak berdaya melawan desakan perasaan.

Abichandra menyapukan kedua tangannya ke wajah menutup doanya. Satu tahun sudah berlalu semenjak terakhir kali Zarra meneleponnya. Dan sudah selama itu pula ia berkutat dalam kesibukan kuliah. ITB merupakan satu kampus yang tak segan menjungkalkan para mahasiswa yang berleha-leha. Karena itu Abichandra nyaris jarang pulang. Tapi sekalinya pulang, selalu disempatkannya menengok Satria untuk mengecek sejauh mana kemajuannya di pesantren Al Falah.

Lihat selengkapnya