My Truly Destiny Part 2

Vina Marlina
Chapter #33

Momen Yang Tak Disangka

Seorang gadis bermata sipit mendekap erat tumpukan buku tebal—kamus bahasa Prancis dan deretan novel sastra. Kerudung instan hijau botolnya terjuntai hingga menyentuh betis, senada dengan gamis panjang yang sedikit menyapu lantai. Peluh membasahi wajah putihnya yang memerah, terbakar udara pengap di dalam bus Damri jurusan Dago. Karena tak kebagian tempat duduk, ia terpaksa berdiri berimpitan, berpegangan erat demi mencapai satu tujuan: gedung Ganesha ITB.

Ia adalah Zarra.

"Kok dadakan banget Asma Nadia ngadain acaranya, Zarra?" protes temannya yang mengenakan hijab serupa, hanya berbeda warna.

Zarra tertawa kecil. "Bukan Bunda Asma yang dadakan, aku saja yang baru tahu jadwalnya dua jam lalu, Ninda..."

Melalui media sosial, Asma Nadia mengumumkan seminar muslimah di gedung Ganesha—kampus tempat Abichandra kini menimba ilmu matematika. Jarum jam sudah melewati angka sebelas, sementara acara dimulai pukul sembilan. Mudah-mudahan materi pengarang itu belum habis, batin Zarra cemas.

"Oh, pantesan," gumam Aninda paham. Ia melirik buku-buku di dekapan sahabatnya. Gadis oriental itu awalnya mengajak mengerjakan tugas terjemahan di Taman Cikapundung, namun tiba-tiba berubah haluan menuju Dago.

"Kiri, Pak!" seru Zarra saat gerbang kampus terlihat. Bus berhenti seketika.

"Kita mesti jalan kaki sedikit lagi ke sana, Nin!" Zarra melangkah semangat, memberi petunjuk pada sahabatnya yang berasal dari Kediri itu.

"Oh, begitu toh. Yo wis lah..." Aninda menurut, mengekor di samping Zarra.

Dua tahun ini, Aninda sudah khatam dengan kebiasaan Zarra berburu seminar kemuslimahan atau sastra. Sebagai teman sekamar di kosan sekaligus rekan sefakultas di Sastra Prancis Unpad Jatinangor, ia sangat mengenal tabiat gadis itu. Namun hari ini, ada yang berbeda. Zarra tampak lebih tegang dari biasanya.

Aninda tidak tahu bahwa debar di dada Zarra muncul karena kampus ini memiliki ruang istimewa di hatinya. Beberapa tahun lalu, ibunya memberikan syarat pada seorang pemuda: tiket masuk ITB sebagai bukti kesungguhan cinta. Pemuda itu berhasil. Jika studinya lancar, Abichandra seharusnya sedang menapaki tahun terakhir di sana.

"Di mana ya tempat seminarnya?" gumam Zarra celingukan. Pelukannya pada buku-buku kian mengerat.

Di jari manis kanannya, sebuah cincin emas putih bermata satu berkilau tertimpa cahaya matahari. Hadiah dari ibu Abichandra itu tak pernah ia lepas sehari pun. Cincin itu melingkar abadi, seperti perasaannya yang tetap ajek meski keadaan di sekelilingnya telah berubah.

"Kita tanyain saja, yuk. Tuh, banyak akhwat di sebelah sana!" usul Aninda, menggandeng tangan kiri Zarra menuju kerumunan di depan salah satu gedung.

Tak jauh dari sana, Abichandra berdiri membelakangi jalan setapak. Ia tengah berbincang dengan teman sekelasnya.

"Yang namanya seminar muslimah, pasti isinya kaum hawa semua, Bi," tutur kawannya terkekeh. Tadi mereka sempat mengintip karena penasaran, namun langsung balik kanan saat melihat lautan hijab.

Abichandra hanya menyeringai, membetulkan letak kacamata minusnya yang sedikit turun. Dengan kemeja lengan pendek dan jeans biru, tampilannya tampak seperti mahasiswa biasa, alih-alih seorang asisten dosen Statistika.

"Nah, di sini tempatnya, Nin! Lihat, ada banner-nya di dekat pintu!" suara renyah Zarra membelah udara.

Abichandra spontan menoleh. Namun, ia hanya sempat menangkap siluet dua gadis berhijab lebar yang masuk tergesa-gesa. Satu hijau botol, satunya hitam pekat. Wajah mereka tak terlihat jelas.

Suaranya familiar... pikir Abichandra, mencoba mengingat-ingat.

Satu jam kemudian, saat azan Zuhur berkumandang, mereka keluar dari ruangan. Hati Zarra diselimuti kecewa. Ia merasa bodoh karena sempat berharap bertemu Abichandra di kampus seluas ini. Mencari satu orang di sini ibarat mencari jarum dalam tumpukan jerami.

Lihat selengkapnya