My Truly Destiny Part 2

Vina Marlina
Chapter #34

Sebuah Pesan

Abichandra termenung di meja makan. Kebiasaan anak itu masih sama; jika sedang banyak pikiran, selera makannya pasti berkurang drastis.

Mama dan Ayah saling bertukar pandang, mencoba menyamakan persepsi di kepala masing-masing. Jangan-jangan, Abi sedih karena Saka akan menikah bulan depan. Lalu, ia terbawa perasaan karena belum bertemu jodoh sejak hubungan khitbahnya diputus oleh Zarra.

“Bi, makannya yang betul. Nanti nasinya nangis dicuekin sama kamu…” kata Mama bercanda, membuat Abichandra tersenyum geli mendengarnya. Sejak ia kecil hingga sekarang, tema "nasi nangis" selalu menjadi senjata andalan Mama.

Tak mau membuat orang tuanya khawatir, Abichandra mulai mengisi piringnya dengan nasi dan lauk-pauk, lalu menyantapnya. Malam Minggu itu, mereka terpaksa hanya makan bertiga karena Andatari sudah dijemput pulang oleh Bang Arif. Saka pun tidak pulang dari kos karena sedang merancang desain surat undangan pilihannya sendiri.

“Bi, kamu sebentar lagi skripsi, yakin nggak mau menerima tawaran Saka buat diajukan taaruf? Calonnya Saka manis dan baik hati, loh. Kali aja ada tipe kamu, Bi. Kan namanya juga usaha…” kata Mama memberi saran hati-hati.

Diam-diam, Mama takut jika di balik gaya cueknya, Abi sebenarnya masih trauma ditinggal Zarra. Abichandra hanya menjawab dengan senyum dikulum tanpa berkomentar apa-apa. Otaknya sedang sibuk memikirkan peristiwa tadi siang di Masjid Salman.

“Kalau Mama, senang banget kalau kamu cepat nikah, Bi. Biar kamu ada yang jagain dan Mama bisa punya banyak cucu di usia muda. Keren banget kayaknya,” lanjut Mama, yang lagi-lagi hanya dibalas senyuman.

Sadar obrolan ini akan menjadi monolog karena Abichandra tampak tidak berminat, Mama terus memotivasi dirinya untuk mencurahkan isi hati. “Jangan keterusan gagal move on-nya dong, Bi. Mama sedih.”

Celetukan tiba-tiba itu praktis menyita perhatian Abichandra sepenuhnya. Cowok berkacamata itu memandangi Mama lekat-lekat. Gagal move on? Apa itu yang disangkakan semua orang padanya selama ini? Masya Allah, benar juga kalau dipikir-pikir, meski aslinya ia tidak bermaksud begitu. Wah, kalau benar begitu, ia harus bergerak cepat.

“Insya Allah, kalau semuanya sudah jelas, nanti Abi kasih tahu Mama dan Ayah soal calonnya Abi. Doain, ya…” kata Abichandra, membuat Mama dan Ayah penasaran mendengar pesan tersirat darinya.

Apa maksudnya kalau semuanya sudah jelas? pikir mereka dalam hati.

Duduk di atas ranjang kamarnya, Abichandra melanjutkan kembali analisis mengenai Zarra yang masih mengenakan cincin lamaran darinya setelah empat tahun berpisah. Rasanya aneh jika Zarra sudah punya calon lain tetapi masih mempertahankan peninggalannya. Atau itu sebenarnya cincin tunangan dari pria lain yang kebetulan modelnya sama persis? Atau Zarra sebenarnya sudah menikah tapi terlalu menyukai bentuk cincinnya? Ah, sepertinya pemikiran itu terlalu dipaksakan.

Ia yakin Zarra masih setia padanya, begitu pun sebaliknya. Itulah alasan ia selalu menolak tawaran taaruf dengan enteng; ia belum siap membuka hati untuk gadis lain.

“Sebenarnya, kita ini apa-apaan ya, Zarra? Kalau ternyata kita berdua masih saling suka terus tetap diam-diaman kayak gini, berarti kelakuan kita konyol banget. Apa mau sampai kakek-nenek begini terus?” gumam Abichandra jengkel pada dirinya sendiri.

Ia meraih ponsel dari meja belajar. Jempolnya menggantung ragu beberapa senti di atas layar, bergetar kecil antara keinginan menuntaskan rindu atau ketakutan akan penolakan. Namun, ia tidak boleh kehilangan jejak lagi seperti kejadian empat tahun lalu.

​“Bismillahirrahmanirrahim, la haula wala quwwata illa billah… Hamba mau mencari kepastian ya Allah, tolong mudahkanlah…” Abichandra menengadahkan tangan dan berdoa khusyuk sebelum mulai mengetik.

“Assalamualaikum, Zarra. Langsung aja, ya. Kira-kira, apa masih memungkinkan buat aku khitbah kamu lagi?”

Send.

Lihat selengkapnya