Tiga puluh menit menjelang pukul delapan. Di kamar kosnya yang terletak dekat kampus, Abichandra telah mengganti kaus dan jins hariannya dengan setelan yang jauh lebih formal.
Kemeja panjang biru polos, celana katun hitam, dan sepatu pantofel yang dipoles mengilap. Pagi ini, ia mengemban tugas menggantikan dosen statistikanya untuk mengajar mahasiswa semester pertama. Sang dosen mengharapkan asistennya tampil seprima beliau, dan Abichandra, yang memang pada dasarnya perfectionist, menyesuaikan.
Namun, baru selangkah keluar pintu, ia teringat sebuah pesan masuk yang belum sempat dibuka. Ia pun merogoh ponsel dari saku celana, lalu membacanya sekilas.
Matanya terbelalak.
Satu pesan dari Zarra pagi itu seketika membuat dunianya yang selama empat tahun ini terasa abu-abu, mendadak meledak dalam spektrum warna yang menyilaukan. Selama ini, Abichandra hidup dalam ritme yang datar—kuliah, mengabdi, dan berdoa tanpa pernah berani menyebut nama itu di depan manusia lain. Ia telah belajar mengubur harapannya dalam-dalam hingga nyaris menjadi mati rasa.
Kini, pertahanannya runtuh. Tanpa sadar, Abichandra tertawa kegirangan. Sambil menggenggam ponselnya erat, ia menggerakkan kedua sikunya maju-mundur ke belakang dengan sisa-sisa energi kekanakan yang selama ini ia tekan. Yes, yes, yes! Gadis itu bersedia! Alhamdulillahirabbil 'alamiiiiin! Detik berikutnya, ia menekuk lutut, bersujud syukur di atas lantai koridor kos yang dingin.
Ya Allah, jadi ingin menangis, batin Abichandra mengharu biru.
Segala penantian dan kesabaran menanti jodoh terbaik seolah dibayarkan tunai oleh Allah hari ini. Gadis yang selama empat tahun ini hanya ia ceritakan kepada Tuhan dalam sujud malamnya, kini kembali dalam jangkauan realita.
Niko, teman sekosnya, sampai terpana memergoki kelakuan Abi. Masih mengenakan oblong dan celana pendek komprang, Niko mematung dengan handuk di leher sambil menenteng ember mandi. Langkahnya menuju kamar mandi terhenti total. Ia menggelengkan kepala, memperhatikan sang asdos yang biasanya tenang dan berwibawa kini tampak kehilangan kendali diri.
"Kunaon si Abi teh?" gumamnya keheranan.
Niko melihat punggung Abichandra berguncang pelan. Isak teredam mulai terdengar. Rupanya, sahabatnya itu benar-benar menangis dalam sujudnya.
"Kunaon, nya?" sekali lagi Niko bergumam, membiarkan rasa penasarannya menggantung di udara.
"Bi, gimana ceritanya kamu bisa dapat calon orang Jakarta? Siapa namanya?" tanya Andatari, masih tak habis pikir.
Dari bangku deretan kedua mobil, ia bertukar pandangan penuh selidik dengan Mama sebelum menoleh pada Abichandra dan Saka di belakang. Sejak putus dari Zarra, Abi menjadi sosok yang "dingin" terhadap urusan perempuan. Maka, ketika tiba-tiba ia mengumumkan ingin mengkhitbah seorang mahasiswi Sastra Prancis Unpad, seisi rumah gempar.
Keluarga mereka sedang melintasi Tol Cipularang usai salat Subuh. Bang Arif didaulat menjadi sopir pagi itu.
Ditanya begitu, Abichandra malah cengar-cengir misterius. "Namanya masih rahasia. Kalau proses kenalannya, nggak sengaja ketemu waktu seminar muslimah di kampus. Kebetulan, buku-bukunya ketinggalan dan aku yang mengembalikan," jelasnya singkat.
"Wuah! Kayak sinetron aja, Bi. Ketiban insiden hilang buku, ketemu jodoh!" komentar Saka sambil cekakakan.
"Mama penasaran, kayak gimana orangnya, Bi?" gantian Mama yang bertanya. Ada nada skeptis yang halus dalam suaranya. Mama mengamati raut wajah Abi, mencoba mencari celah.