Sarah berjalan sendirian memasuki gerbang pesantren Al Falah.
Hari Minggu itu sekolah libur, namun pengajian rutin mingguan akan di gelar ba'da dzhuhur di masjid dan terbuka untuk umum. Setengah melamun, gadis manis berpipi merah itu kepikiran satu hal yang sedang menjadi trending topic diantara anak-anak didiknya atau tepatnya pernah ditanyakan salah satu murid padanya tiga hari yang lalu.
"Bu Sarah, emangnya Aa Satria teh mau pergi kemana? Saya denger katanya mau pergi dari pesantren ini?" celetuk Iwan, muridnya kelas 3 saat jam istirahat.
Waktu itu Sarah sangat kaget mendengarnya. Satria akan pergi?
Dia langsung membungkuk dan menumpukan kedua tangan di lutut supaya dapat sejajar dengan Iwan, sebelum balik bertanya. "Iwan tau darimana Aa Satria bakal pergi?"
"Aa Satria yang cerita. Mau cari pengalaman katanya," jawab Iwan.
Hmm, begitu.
Kalau dipikir lagi, wajar kalau Satria ingin meninggalkan pesantren. Empat tahun menempa diri, rasanya sudah saatnya bekal ilmu yang dimiliki cowok itu teraplikasikan di luar. Apalagi Satria masih muda, masa depannya masih panjang. Mungkin Satria ingin kembali mengejar akademisi, mengikuti paket C kemudian kuliah. Atau mungkin belajar berdakwah. Atau melanjutkan pembelajaran di pesantren lainnya. Atau apa? Banyak sekali pilihannya.
Sarah melangkah di lorong menuju masjid, melewati deretan kelas-kelas yang kosong. Senyumannya mengembang samar mengingat segala bentuk proses yang ditapaki Satria untuk menggapai hidayahnya. Rela menggelandang di jalanan berbulan-bulan hingga dikeroyok preman pasar. Begitu gigihnya cowok itu mencari jalan kebenaran. Dan Alhamdulillah, Satria bisa sedikit demi sedikit berproses meninggalkan kekelaman masa lalunya. Kecanduannya terhadap alkohol pun sudah hilang. Digantikan hasrat diri untuk terus belajar.
Ketika itulah di salah satu kelas yang kosong, lamat-lamat terdengar suara orang yang sedang mengaji. Sarah otomatis mendongakan kepalanya penasaran ke arah pintu kelas, meskipun dalam hati sudah bisa menerka suara siapakah itu.
Satria.
Ngajinya sudah lancar, tak lagi terbata-bata. Membuat senyum Sarah semakin terkembang karenanya.
"Semoga kamu istiqomah, Satria," gumam Sarah dalam hati. Ya. Itu yang akan dia lakukan. Selalu mendoakan yang terbaik untuknya.
Tiba-tiba smartphone Sarah berbunyi. Mewartakan satu pesan masuk di whats up. Gadis itu menarik dirinya dari ambang pintu kelas, tak ingin mengganggu kekhusuan Satria. Dia melanjutkan kembali langkahnya di lorong. Jemarinya membuka satu pesan dari Zarra. Baru dua tahun lalu, sahabatnya itu menghubunginya lagi setelah sekian lama menghilang. Dan mereka saling bertukar kabar semenjak itu.
Tapi pesan dari Zarra saat ini menyebabkan hatinya terperanjat dan langkahnya seketika terhenti.
Waaaah, gimana ceritanya Zarra bisa ketemu Abi dan...lamaran lagi! Ajaib. Bukannya mereka nggak pernah saling kontak selama empat tahun? Masya Allah....ternyata ada kejadian seaneh ini. Sang tulang rusuk telah kembali ke pemiliknya. Kalau sudah jodoh memang nggak akan kemana-mana.
Sarah terpekik kecil. Tanpa sadar mengeluarkan tawa, namun di saat yang sama sudut matanya juga berkilauan air mata. Dia menangis haru karena dua orang yang menempati tempat khusus di hatinya, akhirnya bisa menemukan kebahagiaan.
Zarra dan Abichandra.
Sambil terus berderaian air mata, Sarah bermaksud membalas pesan Zarra. Mendoakan kelancaran acara sahabatnya sekaligus minta maaf karena tak bisa datang mengingat rumah Zarra sangat jauh di Jakarta.
Aku ikut bahagia buat kamu Zarra...! Buat Abi juga! batin Sarah ikut larut dalam kebahagiaan mereka.
Gadis itu menyeka air matanya dengan punggung tangan, bibirnya masih mengembangkan senyuman. Tapi sedang asyik mengetik pesan balasan untuk Zarra, tiba-tiba ada yang menyodorkan sebuah kain slayer pendek padanya.
Eh, apa, sih?
Sarah menoleh ke samping dan terlonjak karena ternyata Satria sudah berdiri tak jauh darinya.
"Ngagetin aja kamu!" tegur Sarah.
"Ambil. Anggap aja pengganti tisu. Baru aku cuci itu, jadi bersih," kata Satria.
Cowok itu sudah mengenakan setelan bepergian ala backpacker. Ransel hitamnya yang sangat besar digendong di punggungnya. Jaket hijau army ditambah celana jeans belel nya membuat gaya Satria mirip seperti jaman badung nya dulu. Bedanya, raut wajah Satria sekarang lebih ngedemin, tak lagi membuat takut orang-orang di sekitarnya. Bahkan anak-anak kecil pun sangat lengket berdekatan dengannya.
Di luar nalar, Sarah mengambil kain slayer dari tangan Satria dan mengamati penampilannya sekilas. Rasa bahagianya tercemari sudah. Wajahnya agak murung. "Kamu mau pergi, ya?" tanyanya ragu-ragu.
Satria mengangguk. "Hari ini aku mau pamitan. Aku mau nengok orang tua di Bandung. Empat tahun nggak nengokin mereka, aku jadi kayak anak durhaka. Tapi nanti aku balik lagi. Udah betah aku di sini," jelasnya panjang lebar.
Oh. Jadi cuma pergi sementara. Satria bakal balik lagi...
Mimik Sarah berubah lega. Satria yang melihatnya jadi tercenung, keheranan.
"Kenapa malah senyum-senyum, Neng Iroh. Seneng aku bakal pergi atau seneng denger aku mau balik lagi?" tanya cowok itu enteng.
Bibir Sarah mengerucut sedikit. Anehnya, hatinya justru senang.
Neng Iroh...Neng Iroh. Mulai lagi tuh gokilnya keluar.
"Dua-duanya!" jawab Sarah tanpa berpikir.
Tapi begitu kalimat itu terlontar, Sarah baru sadar kalau dia kelepasan bicara, terutama di bagian kata yang terakhir. Waduuuuh....gawat! Bisa-bisa Satria menafsirkan lain.
"Oh, jadi kamu seneng kalau nanti aku balik lagi?" tembak Satria telak. Ada cengiran jahil di bibirnya.
Tuuuuh, kaaaan!
Wajah Sarah langsung kembaran dengan tomat rebus. Malunya nggak ketulungan. Nggak tahu mesti ngebales apa, Sarah memutar balik tubuhnya, terburu-buru pergi dari situ.
Iiiiih, nyebelin! Malu-maluin aja! sungut Sarah dalam hati. Menyesali kecerobohan dirinya.
Diburu rasa malu, Sarah lalu berlarian hingga lenyap di tikungan. Kerudung putih panjang yang dipakainya kiwir-kiwir bergoyang seiring langkahnya. Slayer milik Satria masih berada dalam genggaman, kelupaan nggak dikembalikan.
Melihat itu, Satria senyum-senyum dan menggelengkan kepala.
"Sarah...Sarah...Lucu juga tuh anak lama-lama. Mana manis," gumamnya pelan.
Sebetulnya selain dari keinginannya menengok orang tua, Satria bermaksud mampir ke bank dan mengambil tabungan pribadinya yang berjumlah cukup banyak disana.
Untuk apa?
Yah, selain untuk modalnya memulai usaha, kalau tidak salah Sarah pernah mengatakan ingin melanjutkan minatnya belajar Kimia setelah dananya cukup. Jadi Satria sekalian ingin membantu mewujudkan keinginan gadis itu. Dia sudah tahu gimana beratnya memperjuangkan mimpi seorang diri.
Teringat bagaimana dia pernah kebingungan sendiri di jalanan ingin melakukan pertobatan. Mungkin dia bakal terus menggelandang nggak karuan seandainya Abichandra dan Arifin tak kunjung menemukannya, lalu mengirimnya ke Al Falah.
Siang itu, alunan adzan dzuhur mengalun merdu dari masjid dan Satria segera menyambut panggilan indah tersebut memenuhi panggilan Tuhannya.
***
Di blok F no 14 A Puri Indah, Jakarta.
Beberapa sepupu Zarra yang lebih muda berinisiatif mengajak adik-adik mereka yang masih kecil untuk bermain di ruangan lain supaya tidak mengganggu acara para tetua dan tamu-tamu nya.
Mama Abichandra mengajak Zarra duduk bersebelahan di dekatnya. Masih merasa kangen berat dan enggan membiarkannya pergi jauh-jauh. Tangan kanannya tak lekang menggenggam jari gadis yang masih betah mengenakan cincin pemberiannya. Dan disisi Zarra yang lain, mama kandungnya duduk mengapitnya.
"Cincin dari Mama kamu pakai terus selama ini, Zarra?" tanya mama Abichandra kepo, setengah berbisik padanya. Ketika Zarra mengangguk malu-malu membenarkan, mama tampak semakin terharu.
"Masya Alloh, Zarra.," ucap mama penuh rasa sayang.
Dua keluarga pun melakukan basa-basi sebentar. Jam berapa dari Bandung, macet nggak, Lagi musim apa, Abichandra sudah semester berapa dan lain sebagainya. Tak ketinggalan, keluarga Zarra juga menceritakan secara umum mengenai keluarga mereka, silsilah, agama apa saja yang dianut sampai tradisi yang masih dilestarikan sampai saat ini.
Keluarga Abichandra menyimak penuturan mereka penuh perhatian. Menarik banget bisa merasakan lingkungan dengan kultur berbeda.
"Oh, jadi buyutnya Zarra memang asli Seoul toh? Pantesan," gumam ayah.
"Iya dan saudara kandung saya jumlahnya 12 orang. Mamanya Zarra anak ke 10, saya ke 11 dan adik bungsu kami, almarhumah Clara sudah wafat 7 tahun lalu karena kecelakaan pesawat." jelas om Beni.
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun..." gumam semua anggota keluarga Abichandra.
Mereka sudah tahu kalau tante Clara adalah seorang muslimah karena Zarra pernah cerita.
"Pokoknya kalau dihitung beserta anak, mantu, cucu, total keluarga kami jumlahnya 43 orang dan tersebar di berbagai tempat. Kakak nomor 1dan 7 tinggal di Jakarta, yang nomor 2 di Bogor, Nomor 3 di Bandung, Nomor 4 dan 9 di Surabaya. Nomor 5 di Bali...yang menetap di Jepang dan Korea pun ada kayak kakak nomor 6 dan 8. Biasanya, tiap hari raya agama masing-masing seperti natal, lebaran, waisak, dan lain-lain kami ngumpul di rumah ini. "
"Lalu sebulan sekali, kita sengaja saling berkunjung ke tempat sodara di daerah atau negara lain sekalian ngadain arisan, liburan atau jalan-jalan. Itu udah jadi kayak salah satu tradisi keluarga kami supaya bisa menjaga keakraban. Jadi selamat datang di keluarga kami yang rame. Terutama kamu, Abi, jangan kaget kalau bakalan diajak jalan-jalan melulu," Om Beni tertawa-tawa ngebecandain Abichandra.
"Wah, luar biasa," celetuk mama tersenyum simpul menggoda putranya yang bungsu. Sudah kebayang serunya hidup si Abi ke depan.
Setelah beres cerita ngalor ngidul, ayah Abichandra berangsur memusatkan jalur obrolan ke tahapan inti, mengutarakan maksud utama kedatangan mereka ke rumah Zarra. Tapi berhubung ini kali kedua bagi mereka meminang gadis itu, prosesnya berlangsung singkat.
"Karena sebelumnya Abi dan Zarra sudah pernah ke tahapan ini sebelumnya, kita langsung aja.Soal rencana tanggal akad, apa keluarga Zarra ada usulan baiknya tanggal berapa?"
Om Beni, adik mama Zarra sudah ditunjuk sebagai perwakilan pihak keluarga untuk menyambut maksud tamunya karena dianggap akan lebih memahami tata cara dan istilah-istilah dalam Islam. Terlebih beliau seorang mualaf. Tapi tentu beliau nggak bisa memutuskan begitu aja sebelum mendiskusikannya lebih dulu ke yang bersangkutan.
"Gimana, Kak Katrina? Zarra...?" tanya om Beni menolehkan kepala memandangi keduanya.
"Sebentar, Ma" Zarra minta ijin untuk melepaskan tangan dari genggaman calon mertuanya lalu membisikan sesuatu ke telinga mama kandung di sebelahnya.
"Apa? Kamu yakin?" mama Zarra sangat kaget namun cepat menguasai diri.
Zarra mengangguk-angguk.
"Kamu ngomong aja sendiri. Mama takut salah ngucapin istilahnya..." kata mama Zarra pelan menyarankan. Tapi si gadis bermata bundar itu malah kelihatan salah tingkah.
"Begini... Zarra punya satu keinginan sebelum menerima Abichandra, katanya," mama Zarra memberitahu semua orang yang serempak menatap Zarra penasaran.
Abichandra termasuk yang paling kepo dibuatnya. Keinginan itu maksudnya syarat bukan ya? Dulu mama Zarra mensyaratkan tiket masuk ke ITB dan penghasilan minimal 7 juta. Sekarang apa kira-kira.
"Ya, Zarra. Nggak apa-apa, bilang aja biar jelas," kata Abichandra menatap calon istrinya.
Dipandangi keseluruhan pasang mata di ruangan itu sejujurnya bikin nyali Zarra melempem, tapi ini adalah keinginannya yang paling besar. Dia nggak mau menyia-nyiakan waktu lagi seperti dulu. Barang seharipun tak mau. Maka ditariknya napas beberapa kali sebelum memberanikan diri berbicara.
"Gini, Bi. Aku..." kata Zarra gelagepan. Wajahnya setengah menunduk menatap lantai, jari-jarinya memilin ujung kerudung yang dipakainya. Nervous abis!
"Aku pingin..." suaranya memelan, jantungnya degdegan. Rasa panik datang merayap ke tenggorokan, menyumbat mulut mungilnya.
"Ya?" dorong Abichandra.
"Mmm....Halalkan aku hari ini, Bi," suara Zarra terus melirih. Hingga perlu waktu sedetik kemudian bagi semua orang untuk dapat mencerna perkataannya barusan.
Keluarga Abichandra terkesiap mendengarnya. Halal. Maksudnya Zarra pingin ijabnya sekarang? Mereka semua karuan menoleh memandangi Abichandra. Terheran-heran melihat sikap cowok itu yang kalem saja, nggak nampak kaget sama sekali.
"Gimana, Bi? Kamu siap akad hari ini juga?" tanya ayah.
Beragam celotehan pelan segera menyeruak seisi ruangan, apalagi setelah om Beni menjelaskan pada seluruh angota keluarga besarnya mengenai keinginan Zarra.
Abichandra berpikir serius. Ya. Tentu dia bisa memahami perasaan gadis itu. Empat tahun sudah pernikahannya tertunda. Sudah terlampau lama.
"Insya Alloh siap, Ayah," jawab Abichandra mantap.
Kasak kusuk dan gumaman semua orang semakin riuh terdengar. Agak histeria mendapati fakta mendadak di depan mata. Baik keluarga Abichandra maupun keluarga Zarra langsung berembuk di kubu masing-masing.
"Persiapannya gimana ini?'
"Maharnya..."
"Bajunya kan belum beli, makanannya, bolunya"
"Penghulunya mesti dijemput dimana?"
"Siapa yang mau jadi saksi?"
"KUA kan libur..."