My Truly Destiny Part 2

Vina Marlina
Chapter #37

The Day After Marriage

Kening Abichandra berkerut dalam. Tangan kanannya terangkat otomatis, menghalau silau cahaya yang mendadak menyerang indra penglihatannya. Tidurnya terusik paksa.

"Siapa yang nyalain lampu? Aku nggak bakal bisa tidur kalau terang," gumamnya dengan suara serak khas bangun tidur.

Perlahan, ia memaksa kelopak matanya terbuka. Dunianya masih buram, namun ia bisa menangkap siluet seraut wajah yang terbingkai kain putih, menunduk tepat di hadapannya dalam jarak yang amat dekat.

Eh, siapa itu?

Jantungnya berdesir. Abichandra meraba sisi tempat tidur, mencari benda yang menjadi penyambung penglihatannya: kacamata. Begitu benda itu bertengger di hidung, segalanya mendadak kontras dan jernih.

Di hadapannya, Zarra tengah tersenyum simpul. Gadis itu sudah mengenakan mukena, bertumpu pada kedua tangan di atas kasur sembari menopang dagu. Sepasang matanya yang bulat namun menyipit itu tampak bercahaya, memantulkan binar kebahagiaan yang tulus.

Wajahnya berseri-seri. "Pagi, Abi..." sapanya lembut.

Abichandra tak bisa menahan tawa kecil. "Pagi juga, Umi," balasnya spontan. Ia nyaris lupa status barunya. Maklum, baru beberapa jam lalu kalimat akad diucapkan. Rasanya masih seperti mimpi jika ia bukan lagi seorang lajang.

Zarra menyengir lebar. Panggilan itu membuat hatinya berbunga-bunga; sebuah validasi manis bahwa mereka kini telah sah. "Kamu tahu, Bi... Aku paling suka lihatin kamu tidur. Ini kedua kalinya, lho..." ucapnya tiba-tiba.

Abichandra mengernyit heran. Dua kali? "Emang kamu pernah lihat aku tidur sebelumnya, Zar?"

Zarra mengangguk mantap. "Waktu kemping dulu pas CPD. Di mushola, aku lihat kamu tidur. Aku lihatin sampai hampir azan subuh," akunya tanpa ragu.

"Whoaaaa! Kerajinan amat, Zarra." Abichandra menggeleng tak percaya, namun senyumnya tak luntur. "Kenapa pingin lihatin aku tidur?" tanyanya penasaran. Ia kemudian mengubah posisi menjadi menyamping agar bisa lebih leluasa memandangi istrinya.

"Abis lucu. Kamu kalau tidur kayak anak kecil," Zarra tergelak. "Dan kamu mau tahu rahasia lainnya?"

Ketertarikan Abichandra memuncak. "Apaan?"

"Aku ngelobi Pak Trisno supaya bisa sekelas sama kamu, Bi," terang Zarra polos.

"Masa?" Mata Abichandra membelalak senang. Ia benar-benar terkejut. Dulu, ia dan Wisnu sempat bertanya-tanya mengapa Zarra tiba-tiba pindah kelas. Ia mengira itu hanya karena Zarra ingin selalu bersama Sarah. Ternyata, ada plot twist yang tak terduga.

"Makasih, Sayang..." ucap Abichandra tulus, suaranya merendah penuh afeksi.

Seketika, rona merah merambat di pipi Zarra. "Tapi makasih buat apaan, Bi?"

"Makasih udah mau sekelas bareng aku. Makasih udah mau nerima lamaran aku. Makasih udah mau jadi istri aku," urai Abichandra satu per satu.

Lihat selengkapnya