Angin berembus lirih, menerbangkan butiran debu dan dedaunan kering ke arah yang tak menentu. Di antara barisan nisan yang membisu, seorang pemuda melangkah dengan ritme yang tak beraturan. Tempurung kaki kanannya terluka, membuatnya sedikit terseok di atas tanah makam etnis Tionghoa, TPU Cikadut, Bandung.
Wajahnya yang hitam manis menyimpan jejak-jejak masa lalu yang keras; guratan bekas sayatan masih membekas di kening, pelipis, dan pipinya. Meski rambut gondrongnya sesekali menutupi mata, tatapannya tetap lurus ke depan. Ransel hitam besar di punggungnya seolah menjadi beban tambahan bagi luka fisiknya, namun ada beban lain yang lebih berat yang membawanya kemari sebelum ia benar-benar pulang ke rumah orang tuanya.
Ia mengenakan jaket army hijau dan jins belel yang telah menjadi identitasnya. Setelan itu bukan sekadar pakaian; itu adalah memori. Sebuah preferensi yang pernah disukai seseorang di masa lalunya.
Langkah Satria terhenti di depan sebuah nisan marmer. Ia berjongkok, menyentuh permukaan dingin yang memuat nama yang selama enam tahun ini menghantui tidurnya.
RIP
Anchiza Veronica Herawaty
(Tan Siaw Lin)
12 Maret 1998 – 20 Juli 2015
Anchiza, atau "Ancika" begitu ia biasa memanggilnya. Satria menghela napas panjang, mencoba menekan gejolak emosi yang mulai merayap di dadanya—sebuah campuran antara kerinduan, kesedihan, dan rasa bersalah yang akut.
Astagfirullah... nggak boleh! Gua udah janji nggak bakal ngebiarin perasaan ini muncul, tegurnya dalam hati.
Ia mengusap permukaan marmer itu, menyingkirkan debu tipis yang menempel. "Cika, apa kabar? Sorry, setelah enam taun aku baru bisa jenguk kamu lagi," katanya memulai. Sebuah senyum getir terukir di bibirnya saat menatap nisan itu, seolah sang gadis sedang duduk tepat di hadapannya.
"Aku punya banyak banget hal yang pingin diceritain. Kamu mau denger?"
Satria mulai bercerita. Tentang Abi, sahabat yang mengenalkannya pada konsep hikmah dan jalan kedamaian. Tentang masa-masa kelam sepeninggal Cika, di mana ia merasa menjadi orang buangan yang tak punya pegangan.
"Aku bertahan hidup dengan cara mengais bayangan kamu, Cika. Aku sengaja bebasin cewek-cewek malam di tempat kerjaan mereka semata-mata karena inget kamu. Aku selalu inget curhatan sedih kamu yang harus kepaksa ngelayanin cowok hidung belang..."
Suaranya merendah saat ia menceritakan tentang geng motornya, tentang niat baik yang berakhir tragis dengan gugurnya Rahmat, teman sekolah yang tewas demi melindunginya.
"Kalau kejadian meninggalnya kamu udah bikin aku jadi makhluk terbrengsek sedunia, maka peristiwa Rahmat nambahin itu semua, Cik. Rasa bersalah aku overdosis. Ngga ketahan lagi..." lirihnya. Kali ini, Satria membiarkan air matanya jatuh tanpa perlawanan.
Ia bercerita tentang kebingungannya saat ingin tobat, tentang bagaimana ia ditakuti oleh jamaah masjid karena penampilannya yang garang, hingga akhirnya dipukuli preman dan diselamatkan oleh Abi serta Arifin di rumah sakit. Itulah titik balik hidupnya. Kini, ia sudah menjadi santri yang belajar salat dan mengaji.
"Oya, ada yang kelupaan. Maafin tapi ya, Cik... Aku sempet melting waktu ketemu satu cewek bernama Zarra. Mukanya mirip sama kamu, luar biasa miripnya malah. Dan kelakuannya itu anehnya juga bener-bener reinkarnasi dari kamu," kata Satria, kali ini dengan nada yang lebih ringan.
Ia menceritakan kepolosan Zarra yang mudah dijahili, kemiripan ekspresi mereka, hingga kenyataan bahwa Zarra telah melabuhkan hatinya pada Abi. Satria tertawa kecil mengenangkan betapa "jaim"nya Abi dan betapa lugunya Zarra.
"Jujurnya aku sempet ngiri lihat mereka... Mereka bisa romantis dengan caranya sendiri meskipun ngga pacaran..."