“Haduh, akadnya masih sebulanan lagi, lama nggak menurut kamu, Bi," desis Saka sembari menjatuhkan tubuhnya di atas karpet bulu ruang tengah.
Matanya menerawang menatap langit-langit, sementara satu tangannya bertumpu di belakang kepala. Baru kemarin ia mengkhitbah Ratih, calon istrinya yang sesama anggota liqo, namun hatinya sudah lebih dulu jumpalitan dilanda rindu.
“Hah?” Abichandra menjawab susah payah. Ia sedang berupaya menjaga keseimbangan kardus besar yang dipeluknya menuju kamar. “Lamaan mana sama nunggu empat tahun, Ka?”
Plak! Zarra yang mengekor di belakang suaminya langsung menepuk lengan Abi sebagai bentuk protes. Ia tidak suka suaminya mengungkit kembali momen "kesia-siaan" selama empat tahun akibat kesalahpahaman masa lalu itu.
“Aw! Hati-hati kardusnya jatuh, Neng,” seru Abi. Namun, begitu ia menoleh dan mendapati apa yang dilakukan istrinya, giliran ia yang tak terima. “Eit, eit, eit, Neng, kamu ngapain ikut angkut koper? Simpan di bawah saja, biar nanti aku yang bawa. Mending kamu temenin Mama di dapur, gih. Kasihan dedek bayi nanti!”
“Hamil gimana, Bi. Baru juga dua minggu nikah!” Zarra menimpali dengan bisikan sengit, takut terdengar oleh kakak iparnya.
Plak! Tepukan kedua kembali melayang. Kali ini Zarra berniat mengincar punggung Abi, namun sasarannya luput dan justru mendarat telak di bokong suaminya. Abi memekik kaget; tenaga istrinya itu tidak main-main.
Wajah Zarra seketika memerah padam. Disergap rasa malu yang luar biasa, ia menjatuhkan kopernya asal-asalan ke lantai sebelum melesat menuju dapur. “Aku mau bantuin Mama masak!”
Saka yang menyaksikan pemandangan monumental itu buru-buru mengubah tawa yang nyaris meledak menjadi batuk-batuk kecil. Ia hanya bisa menggeleng heran. Pasangan ini memang unik; yang satu terlalu protektif, yang satu lagi ceroboh luar biasa. Kapan ya, aku bisa merasakan kemesraan konyol seperti itu? Ah, iya, masih sebulan lagi...
Abi mengulum senyum. Empat belas hari ini terasa luar biasa baginya. Nyaris tidak ada hari tanpa kejutan. Zarra adalah karunia Allah yang paling ajaib; selalu ada polah konyolnya yang memicu tawa.
Setelah meletakkan kardus di sudut kamar, Abi mengamati ruangan bernuansa putih itu. Sesuai kesepakatan, kontrakan ini akan ditata minimalis tanpa banyak pernak-pernik. Setelah bulan madu singkat di kampung halaman, mereka memutuskan langsung pindah ke dekat kampus Zarra agar lebih strategis dan bisa belajar hidup mandiri.
“Makasih ya, Pak, sudah mengantar dan bantu-bantu pindahan anak kami, ya mangga silakan,” suara Ayah terdengar dari teras. “Loh, Saka, kamu kok leyeh-leyeh begitu. Tolong bantuin angkut barang dulu ke dalam semuanya, masih numpuk di luar nih!”
Di rumah inilah, di antara tumpukan kardus dan aroma cat baru, lembaran kehidupan Abichandra dan Zarra resmi dimulai. Sebuah tempat yang akan menjadi saksi bisu ladang jihad mereka berdua.
***
“Allahu Akbar,” desis Abi pelan.
Ia terpaksa membuka mata yang terasa sangat berat. Tangannya meraba-raba mencari kacamata di bawah tempat tidur—yang sementara hanya beralaskan kasur tanpa ranjang. Mengandalkan cahaya samar dari ventilasi jendela, ia memperhatikan siluet istrinya yang tengah terlelap. Setelah memakai kacamatanya, Abi mendekat.
Zarra tidur dengan mulut sedikit terbuka. Napasnya naik turun teratur, namun suara yang keluar dari tenggorokannya sungguh di luar dugaan. Abi tidak pernah menyangka perempuan seanggun Zarra memiliki kebiasaan unik yang mampu menandingi suara high soprano. Hampir setiap malam, dengkuran halus Zarra menjadi "kidung nasional" yang menemani tidurnya.
Abi bimbang; antara ingin mengecup pipi sang bidadari agar terbangun secara halus, atau membiarkannya saja karena tak tega. Namun, ia sadar diri. Daftar kekurangannya sendiri pasti tak kalah mengejutkan di mata Zarra.