My Truly Destiny Part 2

Vina Marlina
Chapter #40

About Love

Satria menarik napas panjang, menatap layar ponselnya dengan perasaan campur aduk. "Sekali lagi saya minta maaf, Bah. Saya kok kurang sopan banget minta bantuan Abah via telpon begini."

"Ngga usah sungkan, Yusuf... Kamu udah Abah anggap anak sendiri," suara tenang Ustaz Yahya mengalir dari seberang sana. "Tapi kalau boleh tau, kamu kok seperhatian ini sama Sarah. Kamu ada hati sama dia?"

"..........."

Satria kehilangan kata-kata. Tiga minggu terakhir, ada yang bergeser dalam dirinya. Entah karena rasa rindu yang membuncah pada suasana pesantren, para guru, dan santrinya, atau justru spesifik pada satu nama yang baru saja disebut sang guru?

"Mm... pertanyaan itu sulit saya jawab, Bah. Mungkin nanti setelah saya pikirkan baik-baik." Pemuda dengan bekas luka permanen di wajah itu mendadak kaku. Lidahnya kelu, sebuah pemandangan langka saat ia berbicara dengan guru tercintanya.

Tawa kecil Ustaz Yahya terdengar, memaklumi kegagapan muridnya tanpa bermaksud mendesak. "Ya sudah. Sekarang kamu fokus dulu pada prioritasmu. Amanah ini insya Allah akan Abah sampaikan sesegera mungkin."

Satria tersenyum simpul, sedikit lega. "Hatur nuhun, Bah. Sekali lagi mohon maaf saya belum bisa kembali mengunjungi pesantren. Salam silaturahim buat semuanya di Al Falah. Wassalamualaikum."

Klik. Sambungan terputus. Satria memasukkan ponsel ke saku celana jinsnya, lalu mengalihkan fokus pada sosok yang terbaring lemah di hadapannya.

Wanita itu tampak ringkih. Selang infus terpasang di hidung dan lengan kirinya. Tubuhnya yang dahulu tegap kini hanya serupa tulang berlapis kulit dengan rambut sebahu yang memutih. Tak ada lagi sisa keanggunan, pun tak ada lagi rentetan makian yang biasanya meluncur tajam dari bibir itu.

"Kamu ini gimana, Satria! Ditinggal mati si Ancika aja kamu bisa terpuruk begini, nggak malu kamu sama surat panggilan dari guru BP kamu, heh?! Ngebandel aja kamu pinter. Tapi nyatanya otak udang! Nyesel Ibu melahirkan manusia nggak berguna kayak kamu tuh! Nyesel!"

Satria memejamkan mata, mencoba memblokir rekaman kelam yang merangsek masuk. Luka batin itu masih menganga, terpatri kuat selama belasan tahun hingga rasa sesak sering kali datang tanpa permisi.

"Bagaimanapun, ibumu rela mempertaruhkan nyawa demi melahirkanmu, Yusuf. Di dalam tubuhmu ada bagian dari pengorbanannya yang tak bakalan sanggup kau balas sampai kapan pun. Selagi masih ada kesempatan, jemput kunci surgamu, Nak. Maafkan ibumu, rawat baik-baik. Usahakan ibumu rida padamu..."

Nasihat Ustaz Yahya kembali terngiang, menjadi penawar bagi amarahnya yang sempat tersulut. Kunci surga. Satria merenung; mungkinkah di balik ketajaman lisan ibunya dulu, ada harapan setinggi langit yang tak sanggup beliau bahasakan dengan lembut? Cinta yang salah bentuk?

"Gara-gara kebejadan kamu, Ibu sekarang koma di rumah sakit!" Suara Ayah di malam kepulangannya kembali menyentak kesadaran. "Padahal percuma mikirin sampah masyarakat kayak kamu!"

Astaghfirullahaladzim... Maafkan aku, Ya Allah.

"Cepat sembuh, Ibu... Aku ingin berbakti," bisik Satria parau. Ia meraih tangan kiri ibunya, menciuminya lama sementara air mata mulai membasahi sprei rumah sakit.

***

Di sudut lain Jatinangor, suasana jauh lebih hangat meski sedikit konyol. Zarra kembali terlelap di waktu yang tidak tepat.

Lihat selengkapnya