My Truly Destiny Part 2

Vina Marlina
Chapter #41

The Unspoken Oath

"Dua anak itu bener-bener keterlaluan. Maksudnya aku tahu kalau si Zarra itu rada oon dari dulu ya, Ma..."

Meski tangannya sibuk bergelut dengan sabun di bak cuci piring, Saka menyempatkan diri mengomel heboh. Sayangnya, aksi "misuh-misuh" itu langsung terhenti saat Mama menoleh dan mengernyit tajam.

"Ssst, Saka! Nggak baek ngatain adik ipar sendiri!"

Saka nyengir tanpa dosa. "Hehehe, iya iya, sori kelepasan jujur. Tapi emang begitu adanya kan, Ma? Kadang polos sama oon itu bedanya tipis. Pokoknya aku sebel banget, kenapa si Abi mesti ikut-ikutan Zarra kurang peka!"

Mama yang berdiri di samping Saka sambil memotong kangkung hanya bisa menahan senyum. Beliau sudah hafal di luar kepala apa sumber kegusaran putra keduanya ini. Narasi yang sama selalu diputar ulang setiap kali Saka berkunjung ke kediaman mereka di Rancabali—setidaknya selama sebulan terakhir.

"Tau ngga, Ma? Kayaknya mereka harus ditegor deh. Nebar kemesraan di mana-mana, bikin eneg yang liat!" ujar Saka menggebu-gebu.

Tepat sasaran. Mama terkekeh pelan dalam hati.

"Pernah ya Ma, waktu aku mampir ke rumah mereka di Jatinangor, tahu nggak aku mergokin mereka lagi ngapain? Si Zarra lagi duduk di meja dapur deket kompor, lagi nungguin sayur mateng kayaknya. Terus si Abi berdiri di depannya, sok-sok manja gitu ndusel-nduselan sama Zarra, tangannya meluk-melukin pinggangnya. Terus Zarra nya balas ngelus-ngelusin rambut si Abi. Kan geli banget aku liatnya, Ma. Bah, kayak nggak ada tempat lain buat romantis-romantisan aja."

Pletak! Mama menyentil dahi Saka dengan gemas. Pusing juga mendengar kebawelan putranya yang menceritakan detail kejadian dengan begitu ekspresif. Namun, di balik rasa gemas itu, ada sejumput haru yang menyelinap di hati Mama.

Ah, Abi sudah jadi lelaki dewasa sekarang... batin Mama melankolis. Rasanya baru kemarin anak-anaknya masih balita yang menggemaskan.

"Ya biarin aja sih. Sirik aja kamu. Namanya juga pengantin baru, nanti juga sepuluh hari lagi kamu bakal ngerasain sendiri sama Ratih, ngga usah cemburu gitu atuh, Ka."

Saka mengembuskan napas kasar. Dadanya terasa dongkol karena merasa kehilangan dukungan, padahal ia sedang semangat-semangatnya mencari sekutu. Ah, Mama mah nggak asyik!

"Ngomong-ngomong kemana perginya dua anak kurang peka itu, Ma? Tumben ngga keliatan, bukannya mereka udah nginep disini dari kemaren malem ya?" tanya Saka sambil celingukan, baru menyadari sunyinya rumah tanpa gangguan sang adik.

"Oh, Zarra lagi pergi fitting terakhir sama kakakmu. Kalau si Abi katanya kan hari ini memang ada jadwal ngajar sampai sore di kampusnya."

Di Sebuah Salon, Cimahi

Di salah satu kursi tamu, Andatari menatap adik iparnya dengan dahi berkerut, jari telunjuknya mengetuk dagu pelan. Sejak tadi ia memperhatikan Zarra yang tampak gelisah di depan cermin besar.

"Kenapa, Zar? Kebaya nya kekecilan apa gimana? Keliatannya kamu kok kamu kurang nyaman make nya."

"Mm, ngga tahu nih, Kak. Kayaknya aku gendutan sekarang. Ukurannya jadi ngepas gini. Padahal waktu fitting tiga minggu lalu ukurannya sengaja dilonggarin. Aduh, aku jadi ngga pede," jawab Zarra gugup. Ia merona, menyadari bahwa kehidupan pasca-menikah sering ia habiskan dengan berburu kuliner bersama sang suami.

Andatari terkejut. Ia bangkit dan mendekat untuk memeriksa. Benar saja, saat tangannya menyentuh pinggang Zarra, kain kebaya itu tampak menempel sempurna.

"Eh, iya juga, Zar. Ini sampai kelihatan lekukannya begini loh. Waduh, tapi kayaknya ngga ada waktu buat rombak lagi nih, Zar. Udah mepet. Kepaksa kita minta diakalin pake kain atau hijab panjang aja, kayaknya. Ya udah kamu duduk dulu sana, Zarra. Biar aku panggilin Mbak Ina nya buat diskusiin ini."

Zarra mengangguk pasrah. Ia mengempaskan tubuh di kursi berlengan dan segera mengeluarkan ponsel. Bibirnya mengerucut sebal. Sebuah pesan meluncur ke sosok yang saat ini baru saja menyelesaikan kelas Statistika di Kampus Ganesha.

Kampus ITB Ganesha

Abichandra tersenyum sendiri di meja kerjanya, menatap layar ponsel yang menampilkan kontak bernama "My Precious". Ia abai pada tatapan heran mahasiswanya. Biarin saja.

Zarra sedang kumat jahilnya, atau mungkin kebiasaan? Ia mengirim pesan dalam bahasa Prancis yang membuat Abi harus membuka aplikasi penerjemah.

Bi, masa kebayaku kekecilan sih? Baru tiga minggu nikah aku kok gendutan sekarang, hiks 😢

Abichandra bisa membayangkan wajah Zarra saat ini. Pasti bibirnya mengerucut lucu. Zarra memang menjadi jauh lebih sensitif sekaligus manja akhir-akhir ini. Gemas sekali.

Ia pun mengetik balasan:

No need to worry, precious. I love you just the way you are, no matter what. Let's always face it all condition together. By the way, you aren't fat at all. But... so sexy, really. And I kinda love that much.

***

"Hey, Bi. Rencananya aku mau main ke tempat kau lah..."

Di dekat pintu keluar bandara, Wisnu menenteng tas besar sambil menelpon Abi. Logat Medannya masih sekental dulu meski sudah lama di Bandung. Ia datang untuk menengok kakek-neneknya di Rancabali sekaligus menghadiri resepsi sang sahabat.

Jujur, Wisnu masih sedikit "dongkol" karena Abi melakukan akad nikah mendadak tanpa memberi tahu dirinya.

"Iya, aku minta maaf, Wis. Boro-boro kepikiran mau nelponin sahabat atau keluarga, yang ada aku gemeteran ngapalin kalimat Ijab-Kabul..." kilas balik Abi saat Wisnu menginterogasinya tempo hari.

Saat itu, di perjalanan pulang dari Jakarta, Zarra hanya bisa tertawa menyaksikan perdebatan dua sahabat itu di telepon.

"Pada ngobrolin apaan sih kalian, ketawa-ketawa mulu dari tadi. Mentang-mentang baru resmi!" celetuk Saka yang saat itu menyetir dengan wajah masam.

Melihat kakaknya sedang dalam mode "jomblo ngenes", sisi jahil Abi bangkit. Sengaja ia mengecup pipi dan kening Zarra berkali-kali di depan Saka. Hasilnya? Saka hampir meledak karena iri.

Tiga Hari Menjelang Resepsi

Malam itu, suasana rumah hangat namun santai. Mama masih sibuk berkoordinasi dengan keluarga besan lewat telepon, sementara yang lain berkumpul di ruang tengah.

"Bi...,"

"Neng...,"

"Yaelah kompakan ni yeee," Andatari menggoda saat melihat Abi dan Zarra bicara bersamaan. "Yah, jadi kangen bang Arif. Sayang baru bisa ketemuan nanti malem," lanjutnya sambil melirik Saka yang telinganya mulai memerah.

Saka memilih kabur ke dapur mencari camilan daripada menjadi sasaran empuk godaan Andatari. Di karpet ruang tamu, sisa anggota keluarga menemani Ayah menonton acara kuis favoritnya, Family 100.

"Sayang, kamu mau bilang apa tadi, hm?" bisik Abi saat iklan tayang. Tangannya mengusap lembut kepala Zarra.

Andatari mendesah dalam hati. Si Abi kalau sudah mode 'keju' begini, bawaannya bikin eneg! Ia pun teringat suaminya, Arif, yang jauh dari kata ekspresif.

"Boleh besok aku main ke Al Falah, Bi? Aku mau ketemu Sarah," pinta Zarra dengan mata berbinar.

"Boleh, Sweety. Nanti aku anterin."

Melihat interaksi itu, Andatari kembali melirik, lalu menyesal. Tatapan mereka terlalu dalam, seolah dunia milik berdua. Edaaaaan, dalem amat kayak sumur belakang rumah!

"Iiih, saling ngebucin banget sih kalian berdua, dasar budak cinta! Iya deh, kita semua mah bakal ngontrak ke Pluto ajaaa!" pekik Andatari akhirnya pecah tawa. "Ke dapur dulu ah, kurang baik buat kesehatan jantung aku sama si baby!"

Ayah hanya bisa menahan tawa melihat kelakuan anak-anaknya. Beliau bangga, ternyata putra bungsunya punya sisi romantis yang—menurut klaim sepihaknya—turun langsung dari sang Ayah.

Pertemuan di Pesantren & Kerinduan Sahabat

"Sarah!" pekik Zarra memeluk sahabatnya di kantin pesantren.

Setelah melepas rindu, Sarah menatap Zarra lekat. "Nambah cantik aja kamu, Zarra." Ia urung mengomentari pipi Zarra yang agak berisi karena merasa itu tidak sopan.

Namun, saat Zarra bertanya soal Satria, raut wajah Sarah meredup.

"Satria masih di Bandung, Zarra. Kata Umi Zenab lagi fokus nemenin ibunya di rumah sakit," jelas Sarah lirih.

Zarra terdiam. Ada rasa bersalah yang mencuat. Apakah Sarah harus kehilangan orang yang disukainya lagi? Namun, suasana mencair saat Sarah memberi kabar gembira bahwa ia akan mulai kuliah di bulan September.

Di tempat lain, di balkon rumah Abi, Wisnu dkk sedang melakukan Video Call dengan Arifin yang kini bekerja di Arab Saudi.

"Eyyy, ya begitulah. Boleh dibilang banyak banget lah yang bilang aku tuh mirip Omar Borkan Al Gala..." Arifin berujar percaya diri, memancing tawa pecah dari Wisnu, Teuku, dan Chandra.

Candaan mengalir deras, membangkitkan memori masa sekolah yang penuh kenakalan. Kini mereka sudah dewasa, dengan tanggung jawab masing-masing, namun ikatan brotherhood itu tak pernah luntur.

Lihat selengkapnya