My Truly Destiny

Vina Marlina
Chapter #1

Awalan Kisah

Bagai negeri dongeng, kabut putih tebal melayang-layang menyelimuti kaki Gunung Patuha. Namun, dinginnya pagi tak sebanding dengan perasaan beku yang bersarang di dada Zarra.

Perlahan, semburat kemerahan di ufuk timur kian meronakan langit, seolah hendak membujuk gadis itu bahwa hari baru telah dimulai. Di luar sana, manusia sedang mensyukuri kesempatan untuk hidup, untuk berjuang, untuk melakukan hal-hal berarti...

Namun, tidak dengannya.

Zarra berdiri di ambang jendela lebar khas arsitektur kolonial. Menantang gempuran hawa dingin, menatap kegelapan yang mulai memudar di luar sana.

Dari kejauhan, kokok ayam jantan bersahut-sahutan.

"Dasar parasit tak tahu diuntung! Harusnya kau dan anak harammu itu tahu diri. Kalau bukan karena aku, kalian pasti sudah jadi gelandangan!" Suara bariton lelaki menembus dinding kamar, saking kerasnya.

"Jaga omongan kamu, tua bangka! Ngapain bawa-bawa Zarra. Kamu lupa selama ini siapa yang ngurus si Rey? Anak dari selingkuhanmu yang bejibun banyaknya itu? Aku! Dan siapa yang kemarin mohon-mohon supaya aku mau diajak kabur ke kampung antah berantah gini, ha! Sudah pikun?!"

"Alah, banyak bacot kau! Kalau bukan karena tingkahmu yang sok pamer di Instagram, isteri sahku enggak bakalan tahu soal kita!"

"Tapi aku juga isterimu! Aku bosan harus selalu sembunyi! Aku bukan pelacur seperti ibunya Rey!"

PRANG!

Bunyi barang pecah belah terdengar. Diikuti bunyi tamparan keras dan ratapan nyaring wanita dewasa yang barusan berteriak.

Zarra refleks menutup telinga di dalam kamarnya. Keningnya mengernyit perih. Hatinya terasa sesak oleh tumpukan rasa sakit. Namun yang paling menyedihkan, dia tak punya tempat berbagi kecuali dirinya sendiri.

"Aku capek, Tuhan," katanya lirih, di antara lelehan cairan bening yang melintasi pipi.

"Kalau aku tidak lahir, mungkin semuanya akan lebih baik," bisik Zarra, memilukan. Menjalani kehidupan sebagai eksistensi yang tak pernah diharapkan oleh mama dan sang papa tiri, laksana neraka, baginya. Aku ingin pergi... Tapi ke mana?

Sementara itu, beberapa kilometer dari tempat Zarra berada, pagi datang dengan wajah yang sama sekali berbeda.

Di balkon lantai dua, seorang remaja lelaki menikmati pemandangan sekitar dengan senyum lebar. Kabut tipis yang berpadu dengan aroma kayu bakar di udara. Bunyi derit timba sumur, ditingkahi riuh celotehan ibu-ibu yang bersiap mencuci di jamban umum.

"Allah, nikmat mana lagi yang bisa kudustakan?" tukasnya sembari menggenggam erat tongkat pel, seolah-olah senjata paling berharga di dunia.

Di lantai bawah rumahnya, hiruk pikuk kehidupan terasa begitu dekat.

DUK! DUK! DUK!

"Woooy, Sakaaa. Cepetan udah kebelet!" Seorang cewek berperawakan bongsor menggelosor ke lantai, sekuat tenaga menahan rasa mulas di perut, hanya untuk mendengar seruan bernada santai dari dalam kamar mandi.

"Bentaaaar, kagok lagi sampoan!" Suara salah satu adik lelakinya.

"Aaaaaah! Buruan! Keburu brojol!" Beringas, si gadis kembali menggedor pintu kamar mandi.

"Astagfirullah, Andatariii, jadi cewek jangan brutal, persis tarzan aja! Kalau pintunya hancur, gimana?" seru wanita separuh baya, melongok dari dapur. "Saka, kamu juga harus kasihan sama kakakmu!"

Lihat selengkapnya