Sepulang sekolah hari itu, Abichandra menunaikan janjinya terhadap Riki.
"Bi, afwan. No tepe-tepe. Inga-inga, pandangan dijaga, senyuman sewajarnya..." Tak lupa sang Ketua DKM Daarul Ulum menyelipkan wejangan khasnya sebelum sang KETOS menaiki mimbar. "Pokoknya dilarang menebar pesona, Bi."
Abichandra mengiyakan, biar cepat. Tegang, nih! Di atas mimbar musala, cowok itu berdehem guna melancarkan tenggorokan. Ia demam panggung. Meskipun sudah sering tampil orasi dan briefing di depan khalayak, urusan dakwah begini tak ayal bikin nyalinya menciut sedikit. Ia merasa belum kompeten mengejawantahkan ayat-ayat Allah yang mahaindah.
Sampaikanlah ilmu meski satu ayat. Hadits itulah yang menjadi pegangannya sekarang.
Bismillah. Lancarkan lisanku ya Allah, jangan biarkan lidahku kelu, izinkan mereka memahami perkataanku... Abichandra memanjatkan doa.
"Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh!"
"Wa'alaikumussalam warrahmatullahi wabarakatuh!" koor jamaah menjawab nyaring. Musala mungil itu dipenuhi siswa-siswi kelas X, sementara suara dari pengeras suara menggema halus ke seantero sudut sekolah.
Setelah membacakan doa pembuka majelis, Abi mulai berbicara.
"Adik-adik dan rekan sekalian yang dimuliakan Allah. Siang ini, kita diajak untuk melihat kembali betapa indahnya Islam memandang dan mengagungkan kaum wanita. Islam hadir sebagai agama yang penuh kasih sayang, yang mengangkat derajat wanita begitu tinggi dan mulia."
Abichandra kembali berdehem. Menyempatkan berzikir di sela tarikan napasnya.
"Banyak yang mikir, 'Duh, aturan di Islam kok ribet banget sih buat cewek? Harus nutup aurat lah, enggak boleh berduaan lah, dibatas-batasin mulu.' Padahal kalau kita bedah bareng-bareng, semua aturan itu hadir bukan untuk mengekang atau membatasi kebebasan, tapi bentuk perlindungan paling nyata dari Sang Pencipta."
Abi tersenyum tipis, menatap audiens remajanya yang mulai fokus.
"Bayangin deh handphone mahal yang paling kalian pengin. Pasti bakal dipasangin casing paling bagus, dikasih tempered glass, dijaga baik-baik supaya enggak tergores atau jatuh, kan? Nah, kalau barang aja kita lindungi segitunya, apalagi manusia? Wanita itu ibarat perhiasan paling berharga di dunia. Allah enggak mau kehormatan kalian ternoda atau cuma jadi tontonan gratisan. Syariat berhijab dan menjaga batas itu ibarat benteng, biar kalian tetap aman, dihormati, dan terjaga harganya."
Di teras depan perpustakaan yang sepi, Zarra duduk sendirian di atas bangku kayu. Tas sekolahnya ia dekap erat di pangkuan, menunggu jemputan mamanya yang tak kunjung datang.
Suara dari pengeras suara musala itu perlahan merembes ke sunyinya pikiran Zarra.