Cuma satu kata yang mampu menggambarkan kondisi SMA Harapan Rancabali setelah Zarra resmi terdaftar sebagai siswi: Chaos.
Semenjak kedatangan gadis berwajah oriental itu, kurva semangat belajar para siswa meningkat drastis. Pelajaran Bahasa Indonesia mendadak favorit karena bisa dijadikan alasan mengutip puisi cinta. Anak-anak Mading bahkan kebanjiran titipan sajak yang semuanya ditujukan untuk nama yang sama: Zarra.
Euforia makin meledak begitu tahu fakta bahwa Zarra bukan adik kelas X, melainkan siswi kelas XI. Seketika anggota OSIS yang paling tengil sebangsa Arifin, Teuku, Chandra, dan Wisnu semakin gencar melancarkan aksi PDKT dadakan.
"Bunga mawar bunga melati. Kusirami setiap hari. Wahai Dek Zarra pujaan hati, izinkan Abang mencintai sepenuh hati!" Arifin nekat membacakan pantun ciptaannya sendiri tepat di depan kelas Zarra, sebelum ia melesat kabur menghindari Bu Risma yang siap menjewernya.
Berbanding terbalik dengan para siswa, siswi-siswinya banyak yang tak rela ekosistem sekolah mereka terusik. Kekesalan itu merembet hingga ke kelas Abichandra. Pagi ini, ketika semua jam pelajaran kosong karena para guru mengadakan rapat dadakan, kubu cewek dan cowok mendadak tegang.
"Gila... norak banget tahu enggak cowok-cowok!" cerocos Bonnie murka seraya menggebrak meja. "Tiap si Zarra lewat mau ke WC, mata mereka melotot. Masa si Chandra nekat nyiulin dia pas pelajaran PAI. Lagi bahas tajwid loh padahal!"
"Eh... monyong, monyong!" Anita yang latah terkaget-kaget, ikut manggut-manggut. Dalam hati, dia sedih. Soalnya Teuku yang dikecenginnya juga pernah kepergok modusin Zarra di depan perpustakaan.
Tiwi menyambar, napasnya masih memburu. "Gue yang paling tragis! Masa tadi pagi si Arifin tega menculik buku PR Matematika gue cuma demi disetorkan ke Zarra? Padahal Zarra-nya kagak minta! Nyaris aja gue kena setrap Pak Endang!"
"Seharusnya si Zarra teh enggak usah pindah kemari. Bikin kacau dunia persilatan aja," timpal Santi dari sudut lain.