Di XI IPA 4, Sarah Husna Amalia sedang dilanda galau yang akut. Sebisa mungkin ia mencoba memungkiri perasaan terpendamnya, tetapi selalu gagal total. Benaknya tetap mengingat satu nama.
Abichandra. Cinta pertamanya semenjak SMP kelas IX.
Sarah menghela napas berat, menyesali kelabilan dirinya karena belum sanggup meneladani sang Ketua OSIS yang berprinsip dan visioner itu. Untuk ukuran remaja, tingkat kedewasaan cowok itu berada di atas rata-rata—bukan sekadar ganteng dan pintar semata. Itulah alasan Sarah mencintainya diam-diam. Abichandra begitu menjaga dirinya.
Tanpa bisa dicegah, angan Sarah melayang ke masa SMP.
"Rokok, Bi?" Andi, anak cowok bertubuh cungkring yang selalu jadi biang keonaran dan tukang bolos di kelas, menyodorkan sebatang rokok pada Abichandra. Saat itu mereka sedang kerja kelompok tugas PKK membuat bolu panggang di rumah Sarah.
Tuti, teman sebangku Sarah, menutup hidungnya. Dasar tak tahu adat, merokok di rumah orang, masih berseragam SMP pula. Ia mengibas-ngibas asap rokok berulang-ulang, khawatir Ibu Sarah pulang dari pengajian.
"Aku enggak merokok, Di," Abichandra mengembalikan rokok itu ke tangan Andi. Tanpa canggung atau gengsi, dia ikut membantu mengocok adonan bolu memakai pengocok manual milik ibu Sarah. Urat-urat halus di lengan tangannya menegang, pelipisnya bahkan berpeluh, tetapi hembusan napasnya tetap teratur. Tekun sekali dia mengocok adonan hingga berbuih dan mengental sempurna.
Sarah terpukau, diam-diam memperhatikan keseriusan cowok itu. "Kamu biasa bikin kue, Bi?" tanyanya sambil mengoleskan mentega di atas loyang.
"Kadang-kadang, kalau lagi bantu Mama," Abichandra tersenyum tipis tanpa menghentikan gerakannya. Sorot matanya fokus dan penuh kesungguhan.
Sarah saja yang cewek tak serepot itu. Tiba-tiba, ia terbatuk-batuk. Tuti juga sama. Asap rokok Andi sudah menguar cepat menjalari ruangan kecil itu, bikin sesak dan mata perih.
Abichandra tak tinggal diam. Ia meletakkan pengocok adonan, lalu menatap Andi tegas. "Di, mending kamu rokoknya di luar. Kasihan Sarah sama Tuti."
Sarah merekam kejadian itu baik-baik dalam kepalanya. Gentleman and friendly.
Di momen lainnya...
"Bi, menurut kamu mana yang lebih cantik? Si Siti atawa Mona? Eh ketang jangan mau sama Mona, dia mah pacarnya banyak," tanpa sengaja Sarah mendengar 'rumpian' ala cowok saat jeda olahraga di pinggir lapangan.
"Aku mau ke sana dulu," alih-alih ikut menanggapi, Abichandra memilih menjauhi kerumunan itu.
Benak Sarah mencatat hal ini juga. No gossip.