Menjelang sore hari di sanggar OSIS, Abichandra masih setia mengetik laporan kegiatan untuk disetorkan ke pembinanya besok. Suasana sekolah berangsur sepi. Hanya terdengar gemuruh anak-anak PASKIBRA yang sedang latihan baris-berbaris di lapangan.
"Zarra," suara seorang cowok mengalun merdu dari depan perpustakaan, persis di seberang sanggar OSIS. Nadanya dibuat-buat.
Belakangan, perpustakaan memang menjelma jadi panggung pergombalan tak resmi karena Zarra sering berada di sana. Modus utama mereka apalagi kalau bukan untuk mendekati gadis itu.
"Ih, kok diam aja..."
No response.
"Lagi ngerjain PR-nya, ya?"
Still no response.
"Mm, lagi sibuk banget?"
Another no response.
"Kalau gitu aku duluan."
Skakmat.
Abichandra terkekeh di dalam sanggar, membayangkan mupeng-nya cowok yang lagi-lagi gagal mendekati Zarra. Baru-baru ini saja, si playboy afkiran Arifin dibuat galau setengah mati olehnya. Curhat berjam-jam di telepon semalaman, sampai Abichandra terkantuk-kantuk.
"Bi, aku enggak tahu mesti gimana lagi ngadepin Zarra, cewek itu sadis banget. Tiap kali aku deketin, eh senyum pun enggak. Tapi sekali doang deh pernah senyum, pas aku kena marah Bu Risma gara-gara nyabutin kembang buat dihadiahin ke dia. Huaduuuuuh, itu senyum manisnya enggak nahanin, Bro! Sampai kebawa mimpi. Apa aku harus sering aja bikin guru marah supaya bisa lihat dia senyum lagi?"
Percakapan telepon baru berakhir ketika Abichandra mengiyakan saja gagasan Arifin, "Iya kayak gitu aja, Fin, setuju." Padahal sampai sekarang Abichandra tak pernah ingat apa yang pernah dia setujui. Salah sendiri orang ngantuk malah diajak curhat.
Chandra lain lagi strateginya. Cowok penyuka olahraga itu mencoba menggali informasi lewat Bonnie, sang asisten tak resminya Pak Dodi.
"Bonnie cantik, bagi alamatnya Zarra, dong. Tolong mintain ke Pak Dodi data siswanya," Chandra mencoba sepersuasif mungkin.
"KAGAAAAK MAUUUUU!!!!" Bonnie berkacak pinggang. Ludahnya muncrat ke mana-mana.
Gagal total lagi!
Abichandra tak habis pikir melihat kelakuan teman-temannya. Kenapa tak dibiarkan saja Zarra sendiri? Lambat laun dia jadi merasa kasihan pada cewek itu. Pasti enek banget dikuntit paparazzi gadungan setiap hari. Meskipun banyak yang memuja, jumlah pembencinya juga tidak sedikit. Padahal Zarra hanya ingin tenang. Ya Allah, mau menimba ilmu di sekolah saja banyak banget rintangannya.
"Siapa tahu dia udah punya pacar. Udah lupain aja!" Abichandra berkata sewaktu gengnya berkumpul selepas rapat OSIS kemarin di rumahnya.