My Truly Destiny

Vina Marlina
Chapter #10

First Moment

Tanpa dikomando, Abichandra dan Zarra berjalan berjauhan. Saling melipirkan langkah di sisi kanan dan kiri jalan raya. Keduanya tampak salah tingkah, terutama Abichandra. Jadilah mereka kompak berdiam diri sepanjang perjalanan, sibuk berkutat dengan pikiran masing-masing.

Jalan aspal yang mereka lewati membelah hamparan kebun teh yang luas. Angin gunung berembus membawa aroma pucuk teh yang masih basah oleh embun sore. Di kejauhan, siluet Gunung Patuha mulai diselimuti kabut tipis yang merayap perlahan. Tidak ada yang bersuara di antara mereka, hanya desir dedaunan dan derik jangkrik yang mulai bersahut-sahutan. Kecanggungan itu terasa begitu tebal.

Enggak kebayang kalau seisi rumah tahu aku pulang bareng cewek berduaan kayak gini. Bisa gempar! Abichandra meringis pelan, menggaruk kepalanya yang tak gatal. Bagi keluarganya, ini pasti sudah termasuk pelanggaran prinsip.

Aku enggak mau pulang... tapi aku enggak tahu harus ke mana lagi, Zarra berusaha keras membendung air matanya agar tak menitik jatuh. Adakah pilihan lain untuknya selain pulang? Sayangnya, tidak.

Setelah beberapa lama berjalan tanpa kata, Abichandra berupaya memecah kebisuan. Atap rumahnya sendiri sudah kelihatan dari kejauhan. "Rumah kamu di mana, Zar?" tanyanya.

Zarra betah memandangi kakinya saat berjalan. Pikirannya kalut. Namun tak urung dijawabnya juga sebelum disangka cuek. "Dekat danau."

"Oh, danau Patenggang. Sudah dekat kalau gitu," kata Abichandra berusaha kalem. Padahal, hatinya ribut berceloteh. Ya iyalah, Patenggang. Masa Danau Toba! Uh, ini pasti efek grogi.

Namun jarak danau masih tiga kilometer lagi. Tak bakal sampai sebelum Magrib jika harus berjalan kaki. Situasinya darurat. Abichandra berpikir keras sebelum sebuah solusi muncul di kepalanya. Vixion hitamnya!

"Zar, ng... keberatan mampir ke rumahku dulu? Aku mau ambil motor. Nanti aku antar kamu sampai rumah," Abichandra bertanya ragu-ragu, menunjuk rumah mungil berlantai dua di dekatnya. "Ada Mama sama Kakak-Kakakku kok di dalam," buru-buru ia menambahkan, khawatir Zarra menyangka yang tidak-tidak.

Zarra mengamati rumah Abichandra. Sederhana, tetapi tertata rapi. Rumah itu memancarkan kedamaian yang entah kenapa membuatnya sedikit tenang. Gadis itu perlahan menganggukkan kepala.

"Assalamualaikum, Ma," Abichandra merasa tenggorokannya seret. Tangannya mengetuk pintu beberapa kali.

Tak berapa lama, seorang wanita lembut keibuan berhijab panjang membuka pintu.

"Waalaikumussalam. Pakai ngetuk pintu segala, Bi... biasanya juga langsung masuk," kata Mama seraya tersenyum hangat.

"Ng, anu Ma," Abichandra kikuk, menggeser badannya sedikit ke samping untuk memperlihatkan Zarra yang sedari tadi bersembunyi di balik punggungnya.

Mama sontak terperanjat. Matanya menatap anak bungsunya penuh arti, lalu disapanya Zarra. "Eh, Neng ini temannya Abi? Ayo silakan masuk!"

Abichandra menjelaskan maksudnya secara singkat. Sementara Zarra tertunduk, tak mengatakan sepatah kata pun.

"Ooo begitu. Ayo cepat kamu antar pulang, takut kemagriban di jalan, Bi," kata Mama tersenyum ramah menatap Zarra. Segimanapun tak terduganya kejadian ini, beliau tetap mempercayai putra bungsunya.

Abichandra menoleh dan sempat melihat Zarra memeluk kedua lengannya menahan dingin. "Zarra, kamu enggak bawa jaket?"

Zarra baru menyadari jaketnya ketinggalan di rumah tadi pagi. "Enggak."

Tanpa berkata apa pun, Abichandra melesat masuk rumah. Terdengar suara percakapan di lantai dua, dan begitu keluar lagi, Abichandra sudah memegang jaket cewek tebal milik Andatari. Diserahkannya jaket itu pada Zarra, "Nih, Zar..."

Zarra menerimanya. Dulu dia punya seseorang yang selalu sigap membawakannya jaket karena tahu dirinya pelupa. Ah, kenangan itu terlalu menyakitkan untuk dibuka kembali.

Zarra mengerling Abichandra sekilas. Namun sikap Abichandra malah sebaliknya: acuh tak acuh. Selama mereka jalan berdua tadi, cowok itu sama sekali tak memaksanya mengobrol, berbeda dengan cowok-cowok lain.

"Hati-hati di jalan. Jangan ngebut. Ayo jaketnya dipakai dulu, Neng Zarra," kata Mama tersenyum tulus.

"Terima kasih, Bu, permisi," pamit Zarra sopan. Rasanya sudah lama ia tidak merasakan perhatian sehangat ini. Dipakainya jaket tebal Andatari sebelum menghampiri motor Vixion.

Lihat selengkapnya