My Truly Destiny

Vina Marlina
Chapter #12

Slowly But Sure

"Kak Abi, minta tanda tangannya dong!"

"Kak Abi, saya juga!"

Para siswa dan siswi kelas X berebut menyodorkan buku dan pulpen. Beberapa bahkan nekat mencolek lengan dan bahunya. Abichandra dengan lincah berkelit, melepaskan diri dari kepungan mereka.

"Stop! Stop!" seru Abichandra tegas sambil mengangkat tangannya. "Ini siapa yang nyuruh? Senior yang mana?"

"Iya, Kak. Buat pelantikan CPD. Kami diminta kak Arifin minta tanda tangan semua senior, dan nama Kakak harus ada di urutan paling atas," jelas seorang siswi berpostur kurus.

Abichandra menghela napas lelah. Dasar Arifin! Sejak dulu ia kurang setuju dengan tugas-tugas yang rentan jadi ajang senioritas seperti ini. "Sini, mengantre yang rapi!" serunya lantang.

Meskipun kurang setuju, Abichandra tetap meraih buku-buku itu karena kasihan melihat wajah polos adik-adik kelasnya. Namun, antrean mengular hampir memenuhi seluruh koridor sekolah. Mengingat total anak kelas X mencapai 350 orang, tangannya pasti bisa patah.

Ketika bel masuk berdentang, antrean masih menyisakan banyak murid. Abichandra memanfaatkan momen itu untuk menyelamatkan diri.

"Nanti lagi ya tanda tangannya, keburu masuk!" serunya seraya mengembalikan buku, lalu bergegas pergi meninggalkan kerumunan yang mendesah kecewa.Baru saja bernapas lega, lengan Abichandra ditarik oleh Wisnu menjauhi koridor utama.

Apa lagi ini, keluh Abichandra letih. Mulutnya sudah bergerak ingin memprotes, tetapi terhenti melihat keseriusan wajah Wisnu yang penuh tuduhan.

"Bi, aku mau nanya. Kata Abah Rudi beneran kemarin kamu nganterin Zarra pulang?"

Mendengar itu, Abichandra tampak enggan menjawab. Ia malah balik bertanya, "Abah Rudi ngasih tahu yang lainnya juga?" Duh, ia malas sekali jika harus jadi ‘buronan’ the crazy paparazi se-SMA Harapan Rancabali.

"Tenang, aku sudah minta Abah jaga rahasia."

"Iya, kemarin aku nganterin dia pulang."

Wisnu terperangah, napasnya tertahan. "Tapi kenapa? Kok bisa? Bukannya kamu nggak pernah tertarik sama Zarra?" Perasaan tidak adil menyengat di dadanya. Abichandra selama ini bersikap cuek bebek, tapi kenapa berani mencuri start di belakangnya?

"Panjang ceritanya! Yang jelas, semua itu kebetulan. Kamu jangan dulu mikir macam-macam, Wis, nanti aku ceritain selengkapnya," jelas Abichandra, memahami betul gejolak dalam diri sahabatnya itu.

Wisnu tidak menjawab, hanya mengangguk kaku. Dia masih membeku, sorot matanya sulit disembunyikan.

Abichandra baru akan melangkah ke pintu kelas ketika Arifin muncul dari belakang. Wajahnya kecut campur sedih. "Ah, hari ini bakal jadi hari ter-boring dalam hidupku! Nggak seru, ah!"

"Kenapa memangnya?" Abichandra tertarik.

"Zarra nggak masuk. Kata si Evy, teman sebangkunya, dia nggak ngasih surat atau apa pun. Apa kesiangan, ya?" terang Arifin sambil masuk ke kelas.

Abichandra terpekur. Alisnya bertaut. Aneh. Apa ada hubungannya sama kejadian kemarin? Hatinya mulai cemas.

Beruntung, Abichandra cukup diandalkan oleh guru-guru. Ia bisa leluasa keluar masuk ruang guru setiap hari. Sekadar untuk membantu membawakan buku-buku tugas dan catatan teman-teman sekelasnya, sambil menyelam mencari info tentang Zarra.

"Zarra alpa, Bi," kata Bu Risma setelah selesai mengajar di kelasnya.

Lalu esok, dan esok, dan esoknya lagi, gadis itu masih tetap absen tanpa keterangan apa pun.

Di hari keempat Zarra absen, Abichandra dan Wisnu baru saja keluar kelas di waktu istirahat, berbaur dengan siswa lain menuju kantin. Abichandra menyampaikan sebuah rencana pada Wisnu.

"Wis, nanti kalau Zarra alpa lagi, kita langsung ke rumahnya aja bareng Pak Ahmad. Kamu wajib ikut."

Sejujurnya, Wisnu masih merasa perih mengingat 'kelancangan' sahabatnya. Dia sangat cemburu. Namun, akal sehatnya berkata, 'ah, masa sih harus kehilangan best-friend gara-gara cewek?' Apalagi alasan Abichandra masuk akal: kepaksa mengantar Zarra yang pulang kesorean.

Maka, ditekannya ego kuat-kuat. "Oke deh," jawab Wisnu singkat.

"Wooooy! Awas! Awas! Minggir… kasih jalan!"

Dua anak PMR kelas XI, Ringgo dan Aditya, tampak menggotong seorang gadis pingsan menuju UKS. Mereka berteriak-teriak menyingkap kerumunan.

"Siapa sih yang pingsan?" celetuk siswa-siswa. "Siapa itu, Dit?!"

Banyak siswa-siswi melongokkan kepala, ingin tahu. "Zarra!" Aditya berteriak sambil lalu.

"Hah!" Napas Wisnu tercekat. "Eh, itu Zarra, Bi…" gumamnya, terpaku pada sosok Zarra yang kian menjauh.

Abichandra speechless. Rasa cemas itu datang lagi, menyeruak dari dasar perutnya.

Sontak desas-desus pun menyebar heboh di antara siswa, dari perkiraan yang masuk akal sampai yang paling aneh. Semua bergerombol meramaikan situasi di depan UKS.

"Tuh anak nggak sarapan kali."

"Hamil kali!"

"Hus!"

"Putus cinta meureun (kali)."

"Palingan juga dia lagi sakit, kan kemarin-kemarin nggak masuk."

Sebagai Danpas PMR sekaligus teman sekelas Zarra, Sarah terlihat ikut menembus gerombolan, memasuki UKS. "Permisi, punten (maaf)!"

Tidak ketinggalan, Arifin tiba-tiba muncul entah dari mana, berusaha menyelinap masuk ke ruangan tempat Zarra berada. "Zarra… Dek Zarra, Abang datang, Dek!"

Namun, sesaat kemudian, Arifin dan beberapa siswa lainnya langsung diusir oleh Sarah. "Maaf, yang tidak berkepentingan dilarang masuk!" katanya tegas sebelum menutup pintu UKS.

Lihat selengkapnya