Jumat pagi, dua hari setelahnya...
Matahari bahkan belum menampakkan semburatnya ketika empat truk pleton telah berjajar di luar gerbang SMA Harapan Rancabali. Biusan cuaca dingin ba'da Subuh membuat panitia Camping Pendidikan Dasar (CPD) dan guru-guru berkutat mencari kehangatan lewat jaket tebal dan kupluk.
Seluruh warga sekolah bersiap menuju Gunung Puntang, Pangalengan—kawasan yang terkenal bersuhu dingin, diselimuti kabut tebal, dan dipayungi rimbun pepohonan tua yang menyimpan sunyi khas alam bebas.
"Masuk eskul mana ya, Zarra?" Arifin kelimpungan mencari targetnya di antara kerumunan.
Namun, mata elangnya berhasil menemukan Zarra yang sedang mengantre di truk milik anak-anak Pramuka. Arifin langsung berlari menepuk dada Abichandra. "Bi! Titip Neng Zarra, ye! Jangan terlalu keras nge-bintal-nya!"
"Loh, memang Zarra anak Pramuka?" Wisnu dan Abichandra kaget.
"Makanya update! Zarra baru daftar minggu ini demi sertifikat eskul," cetus Sandi, Pradana Putra yang berwajah jutek.
Tak lama, truk-truk pleton itu membelah jalan raya yang sepi. Di salah satu truk, Arifin menggenjreng gitar usangnya, lalu melemparkan galon kosong ke Abichandra untuk mengiringi lagu Virgoun versi koplo
"Woy, Bi! Tolong kandangin dong! Kita mainkan lagu Virgoun versi koplo!" seru Arifin.
"Hooh, Bi! Biar makin seru!" pinta kawan-kawannya kompak.
Cuma Riki, sang Ketua DKM, yang kurang setuju mereka gegembrengan di jalan. "Gimana kalau kita kecelakaan pas lagi hura-hura gini? Mendingan banyakin zikir tau!"
"Heh, Ki, kamu ini ngomongin kecelakaan segala, kita lagi di jalan kayak gini. Seram! Lagian kan kita udah berdoa tadi!" protes Chandra, memelototi Riki garang.
Kesal, semua ikut memandangi Riki. "Huuuuu. Iya, ngerusakin suasana aja!"
"Tahu nih, Riki. Tuh, adik-adik kelas kita wajahnya pada tegang kepikiran pelantikan. Menghibur diri sedikit kan enggak ada salahnya, ya toh! Ya toh!" Teuku menggalang dukungan yang diiyakan kawan-kawannya.
Riki manyun mendengarnya. "Sabodolah kalau memang enggak mau dibilangin!" serunya agak BT.
"Yeeeeeeu, Pak RT ngambek!" Arifin mencibir.
"Bukan gitu. Tapi usia kan enggak ada yang tahu. Gimana kalau malaikat Izrail mencabut nyawa pas Arifin lagi modusin Anita, misalnya," kata Riki datar, memandangi satu per satu wajah kawan-kawannya. "Gimana coba pertanggungjawabannya? Memangnya kita udah siap?"
Mayoritas anak-anak memanyunkan bibir sebagai jawaban.
Abichandra menghela napas melihatnya. "Ya udah, sebentar aja ya nge-dangdut-nya, jangan berlebihan! Riki benar tuh. Kita enggak bakal tahu kapan ajal menjemput. Kita niatkan dulu gegenjrengan ini bukan dalam rangka hura-hura, tapi sekadar ice breaking! Buat menghibur adik kelas. Deal?" jelasnya. Lalu mulai memukul-mukul pantat galon.
"Deeeeeaaaaal! Iyaaaa, Biiii! Siaaaaap deh Pak KETOOOOOS!" koor semua mengiyakan, daripada harus lebih lama mendengar kultum selanjutnya.
Genjrengan pun berlanjut. Ditingkahi gebukan ember dan panci, tak disangka malah menghasilkan aransemen dangdut "Surat Cinta Untuk Starla." Semua bertepuk tangan kencang-kencang. Girang betul mereka. Para penumpang kendaraan lain sampai harus melongokkan kepala mencari sumber keributan.
***
Sesampainya di lokasi, anak-anak OSIS kembali menyempatkan briefing di tenda utama. Mereka memanfaatkan waktu ketika eskul lain sedang melakukan bongkar muat aneka perlengkapan dan menata ulang tenda. Beberapa anggota senior dibantu alumni sudah dari kemarin siang mendirikan tenda-tenda eskul, menginap duluan sekaligus mengamankan arena. Abichandra dan beberapa anak OSIS juga sudah bolak-balik survei ke lokasi.
Sesampainya di lokasi, anak-anak OSIS berkumpul di tenda utama. Sebagai ketua penyelenggara, Abichandra memimpin briefing dengan cekatan.
"Tim, koordinasi harus tetap jalan walau kita menyebar di eskul masing-masing. Dinginnya gunung lagi ekstrem. Waspadai peserta yang punya riwayat penyakit, masukkan daftar prioritas pengawasan. Walkie-talkie wajib dibawa ke mana pun."
Briefing bahkan belum lama berakhir ketika Arifin dan Wisnu menerobos masuk ke tenda utama dengan napas memburu.
"Bi! Zarra pingsan di posko medis!" seru Arifin.
"Darahnya keluar dari hidung, terpercik ke bajunya. Kasihan banget!" timpal Wisnu cemas.
Abichandra langsung beranjak mengambil walkie-talkie-nya. "Tes... Posko medis masuk, laporkan keadaan! Ganti."
Suara Sarah di seberang radio segera mengonfirmasi. "Korban cuma mimisan dan lemas akibat kelelahan benturan suhu dingin. Tekanan darahnya sudah stabil. Nanti malam boleh ikut kegiatan asal tidak dipaksa."
Abichandra mengembuskan napas lega, lalu merogoh pulpen dan mencatat nama Zarra di lembar pengawasan khusus. "Zarra masuk daftar prioritas. Tolong koordinasi sama medis dan Pradana Putri untuk awasi dia," tegasnya.Semua mengangguk sepakat. Sejauh ini, ada tujuh orang peserta camp yang memerlukan perhatian intensif, rata-rata dari mereka punya riwayat asma atau kondisi tubuhnya sedang kurang fit.