Para siswa-siswi dari beragam ekstrakurikuler sudah mengenakan seragam olahraga SMA Harapan Rancabali.
"Siaaaaap, priiiiit!"
"Horee! Ayo... Ayo... Ayo...!"
Suara peluit terdengar di berbagai tempat, menandakan dimulainya acara team building. Sorak-sorai para peserta yang menyemangati rekan setimnya menambah gegap gempita bumi perkemahan Gunung Puntang.
Anak-anak Paskibra tampak mengerumuni arena kolam ikan setinggi dada orang dewasa, menunggu giliran menaiki perahu tanpa dayung yang melaju hanya dengan menarik seutas tali bentangan kolam.
Tiga orang anak Paskibra, termasuk Arifin, didaulat mencoba tantangan lebih dulu. Seharusnya sebagai koordinator acara, dia tak boleh merangkap peserta. Namun dengan gesit Arifin melobi Pak Endang demi mendapatkan izin khusus.
"Kamu kan harus keliling arena, Fin! Gimana bisa keliling kalau kamu malah ikut main!" tegur Abichandra sewot melihat Arifin sudah bersiap di bagian belakang perahu.
"Bi, please! Pak Endang aja udah ngizinin. Santai saja, anggap ini try out!" jawabnya bandel, seraya meniup peluit yang terkalung di lehernya—menjadi wasit bagi dirinya sendiri.
Abichandra geleng-geleng kepala. Mengajak Arifin berdebat tak akan pernah ada habisnya. Dibanding ambil pusing, ia memilih melanjutkan patroli.
Di lereng bawah jembatan, Sarah tampak memimpin tim PMR mengawasi tantangan menaiki tali bonggol sepanjang enam meter untuk melatih keberanian di ketinggian. Matras tebal dihamparkan di dasar bekas aliran sungai kering untuk keamanan.
Arena selanjutnya terletak paling dekat dengan tenda mereka. Tanah di sekitarnya sudah dibasahi air banyak-banyak sehingga menjadi lumpur pekat. Di atasnya dipasangi tiga rentetan ban bekas sepeda mengelilingi arena yang bisa ditembus tiga tim sekaligus. Mereka harus merangkak melewatinya seraya membawa bola kecil berwarna hijau, biru, dan merah untuk diambil masing-masing tim. Di ujung arena sudah disiapkan tiga buah ember kecil penampung bola-bola tersebut.
Di sini, anak-anak Pramuka tidak kalah ekspresifnya. Setelah melihat wajah dan sekujur tubuh rekan-rekan yang kebagian main duluan berubah cemong-cemong, gelak tawa merebak! Mereka saling menunjuk teman-temannya.
"Kapan lagi bisa main lumpur-lumpuran kayak gini, anggap aja lagi Agustusan!" seru seorang anak Pramuka bersemangat.
Abichandra terus berpatroli melewati kerumunan anak-anak. Bahkan anak-anak DKM yang biasanya cool pun bisa riweuh juga ternyata. Mereka asyik bermain perang-perangan di tepi hutan. Khusus arena ini, medannya sengaja diset agak luas agar para peserta bisa leluasa berlari serta berlindung di berbagai tempat. Di dada mereka terpasang karton putih untuk dijadikan sasaran tembak pistol air berwarna. Masing-masing tim harus mempertahankan bendera yang sudah disembunyikan di tempat rahasia. Siapa yang berhasil menemukan bendera lawan duluan, dialah yang menang. Sebelum pergi, Abichandra sempat melihat Riki berjoget ala Bang Jali, girang karena tembakannya banyak mengenai lawan. Gawat juga games ini, sudah mengubah orang sekalem Riki jadi tengil begitu! Abichandra terkekeh geli.
Di dekat musala, anak-anak KEPAL (Kelompok Pecinta Alam) sedang berusaha memanjat untuk mengambil bahan-bahan yang diperlukan untuk lomba memasak nasi goreng. Yang kesulitan memanjat boleh mempergunakan bantuan kursi-kursi plastik yang sudah disediakan. Lumayan, nanti hasil masakannya bisa dinikmati bersama saat jam makan siang. (Hari libur untuk tim dapur umum!) Cabai, bawang, plastik berisi nasi, kecap, dan bahan-bahan lainnya sudah tergantung manis di pohon itu. Meski arenanya seputar masak-memasak, para peserta tidak kalah antusias berlomba hingga titik darah penghabisan. Tak peduli minim pengalaman memasak, yang penting bisa dimakan dan halal!
Abichandra ikut bergembira menyaksikan pemandangan lucu di mana-mana. Ia bersyukur, karena semua teman-temannya tampak menikmati acara yang dia agendakan. Setelah puas berpatroli, dia pun mampir ke posko utama, tempat Pak Endang serta para guru berkumpul. Biasa, hendak laporan.
"KETOS masuk, KETOS! Ini Arifin ganteng, ganti!" bunyi walkie talkie dalam genggaman Abichandra. Beberapa guru menoleh, senyum-senyum mendengarnya.
Si Arifin nih, padahal kemarin sudah sepakat mau pakai kode Rajawali dan Elang! omel Abichandra dalam hati. Dia kurang suka dipanggil KETOS, yang dalam bahasa Sunda berarti budek (tuli).
"Rajawali di sini. Silakan Elang laporannya!" Abichandra mengubah kembali panggilan sesuai kode yang sudah disepakati, beranjak agak menjauhi bapak-ibu gurunya yang sedang duduk-duduk santai di atas tikar.
"Anak-anak Paskib sudah beres di arena kolam, KETOS-ku sayang. Sekarang bersiap ke arena lumpur, sementara Pramuka kini lagi pergi ke jembatan, bergantian sama anak PMR yang lagi pada ngebet pengin main perahu. Laporan selesai. Ganti!" nada suara Arifin terdengar lembut-lembut merayu.