My Truly Destiny

Vina Marlina
Chapter #16

The Loneliness

Wisnu baru saja mengusap wajahnya usai salam. Ketika memutar badan untuk berzikir, dahinya berkerut mendapati Abichandra melangkah masuk ke mushola. Tatapan sahabatnya itu lurus dan kosong.

"Kenapa si Abi?" bisik Wisnu pada diri sendiri. "Mukanya kok kosong begitu?"

Abichandra baru bersiap mengangkat kedua tangan untuk takbiratul ihram qabliyah Zuhur ketika Wisnu menepuk pelan lengannya.

"Bi, kamu mau salat pakai baju kotor begitu?" Wisnu menunjuk bagian depan kaus olahraga Abichandra yang belepotan noda lumpur pekat.

Abichandra menunduk. Pandangannya terpaku pada bekas tanah yang menempel di dada pakaiannya. Memori singkat saat Zarra menubruknya di jembatan mendadak berputar ulang di kepalanya.

Guna menepis bayangan itu, Abichandra menggelengkan kepala kuat-kuat. "Ah, enggak! Enggak!" gumamnya keras, menggetok dahinya sendiri seraya berbalik melangkah keluar mushola untuk mengganti pakaian.

Wisnu hanya menatap punggung sahabatnya dengan kerutan dahi yang semakin dalam. "Kunaon nya?"

Beberapa jam berlalu. Abichandra berdiam diri di tepi hutan, bersandar pada sebatang pohon dengan kedua tangan di saku celana. Pandangannya tertuju pada anak-anak Kelompok Pecinta Alam (KEPAL) yang menghabiskan petang di arena perang-perangan.

Ia melirik jam tangan digitalnya. Sudah pukul empat. Tiba-tiba walkie-talkie di sakunya bergetar.

"Rajawali masuk, Elang di sini. Permainan di arena lain sudah selesai, kecuali arena perang. Tolong dibantu sounding-kan. Ganti!" Suara Arifin terdengar sangat formal melalui pengeras suara kecil itu. Tak ada lagi nada iseng atau bercanda.

Abichandra meringis pelan, berusaha menenangkan gejolak di dadanya. Ia mengangkat tangan, memberi isyarat pada anak-anak KEPAL. "Waktunya habis, guys! Kita balik ke tenda sekarang!"

Kabar tentang peristiwa di jembatan merambat pelan, seperti api yang menjilat ilalang kering.

Saat rapat evaluasi sore di posko utama, suasana terasa membeku. Teuku bersila seraya berpura-pura asyik memandangi layar ponselnya. Chandra memaksakan senyum tipis yang mendatar, persis pasien sakit gigi. Sarah haya menunduk di dekat Rita yang menatap Abichandra dingin. Sementara Arifin duduk berjongkok, mengunyah permen karet tanpa henti dalam diam.

"Wisnu izin, Bi. Katanya sakit perut," ujar Teuku singkat, tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.

"Ya," balas Abichandra pelan. Rapat evaluasi sore itu pun diselesaikan dalam pembawaan yang serba kaku dan singkat.

Saat berjalan menuju tendanya usai evaluasi, langkah Zarra terhenti oleh dua orang siswi berkaus PMR yang berjalan lambat di depannya.

Lihat selengkapnya