Zarra berjalan sendirian di jalan setapak yang sempit dan berbatu. Mobil SUV Mama tidak menjemputnya hari ini, setelah lebih dari sejam ia habiskan di sekolah untuk menunggu. Apa boleh buat, ia harus berjalan kaki. Meski sebenarnya, ia terpaksa melakukannya sebab angkutan umum yang melintas di perkampungan Rancabali ini bisa dibilang sangat langka.
Treeet! Kilasan cahaya kilat disusul bunyi guruh yang menggelegar, membuat nyali Zarra menciut. Awan di langit bergulung-gulung dan menebal dengan cepat. Hujan sepertinya akan segera menderas. Zarra mempercepat langkahnya. Tas ransel hitam kecil di punggungnya bergoyang seirama langkahnya.
Setibanya di belokan jalanan tempat rumah Abichandra berada, Zarra menghentikan langkah. Ia mendongak mengamati. Sungguh rumah mungil yang cantik. Zarra selalu menyempatkan melihatnya kapanpun ia melintas. Rumah itu memancarkan aura kedamaian, sama seperti Abichandra, sosok yang ia anggap malaikat pelindungnya.
Mungkinkah Tuhan sengaja mengirimkan cowok itu ke dunia untuk melindunginya? Tanpa sadar, gadis itu terpekur dalam pikiran. Bersamaan dengan itu, titik-titik hujan luruh bak peluru.

Di kamar, Abichandra menoleh menatap jendelanya yang terbuka. Kuatir air hujan akan merembes masuk, ia pun bergegas menutupnya rapat-rapat. Ia tak sempat melihat bahwa di bawah sana, ada seorang gadis yang tersaruk menembus gugusan air.
Cowok itu baru selesai salat Zuhur. Ia melepaskan seragam sekolah dan mengaitkannya di atas pintu kamar, berganti pakaian dengan kaus oblong biru kesayangannya. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan keceriaan.
"Abi, makan dulu yuk, Saka juga udah nungguin, nih!" ajak Mama dari lantai bawah.
"Iya, Ma!" Abichandra menyahut lesu. Pikirannya penuh, ruwet bak bola kusut. Ia terusik oleh gosip yang disebarkan pihak-pihak tak bertanggung jawab, dan ia belum merasa tenang sebelum menemukan solusinya.
Tak mau Mama dan Saka menunggu lebih lama, Abichandra pun turun menghampiri keluarganya.
Di meja makan, Mama beberapa kali memperhatikan piring Abichandra yang nyaris tak tersentuh. Sejak pulang kemping kemarin, putra bungsunya itu lebih banyak diam.
"Bi, kamu sakit?" tanya Mama cemas.
"Enggak kok, Ma. Abi sehat," jawab Abichandra, memaksakan senyum tipis seraya menyuapkan nasi tanpa semangat.
Saka yang duduk di sebelahnya mengamati adik dan ibunya bergantian. Sebagai kakak sesekolah, ia paham betul gosip panas yang sedang menghimpit Abichandra.
Usai makan, Saka mengikuti adiknya naik ke lantai dua. Begitu memasuki kamar Abichandra, Saka langsung memutar kunci pintu.
"Bi, duduk dulu," ajak Saka seraya menarik tangan adiknya untuk duduk bersama di atas kasur. "Jangan bilang enggak ada apa-apa. Aku tahu di sekolah lagi heboh soal apa."
Abichandra terdiam. Kedua kakinya diangkat ke atas kasur, memeluk lututnya sendiri.