Hujan mengguyur jalan setapak tanpa ampun. Seragam putih abu-abunya menempel seperti kulit kedua. Air hujan merembes sampai ke tulang, membuat rahangnya bergetar tak terkendali. Setiap langkah yang ia lakukan terasa semakin berat. Guruh bersahut-sahutan di langit yang menghitam. Tak ada seorang pun yang cukup nekat berada di tengah cuaca semacam ini.
Gigi Zarra bergemeletuk keras. Pandangannya kabur tertutup tirai air. Ketika langkahnya makin lunglai, dua sorot lampu mobil mendadak menerobos kegelapan, berhenti tepat di sisinya.
Seorang cowok berkaus putih turun dari mobil menembus hujan, memburu langkah Zarra.
"Zarra, ayo kita pulang!" serunya di antara gemuruh angin.
Langkah Zarra terhenti seketika. Hatinya mencelos. Matanya membelalak ketakutan.
Tidak...itu Rey!
"Ayo, Zarra. Orang tua kita sudah nunggu di rumah!" panggil Rey lagi, berusaha meyakinkan. "Ada Mama sama Papa!"
Zarra terpaku di tempat. Tubuhnya mendadak kaku, namun di saat bersamaan menggigil hebat.
"Kamu kedinginan," bisik Rey mendekat. Tangannya memegang lembut lengan Zarra, membimbingnya masuk ke kursi penumpang. "Kamu suka lupa bawa payung. Aku cuma mau nganter kamu pulang."
Tak punya pilihan lain di tengah badai, terlebih tenaganya sudah terkuras, Zarra terpaksa menurut.
Begitu masuk ke bangku kemudi, tanpa memedulikan dirinya sendiri yang basah kuyup, Rey menyambar jaket kulit di kursi belakang dan membungkus bahu Zarra erat-erat.
Napas Zarra berembus cepat. Kilasan menyakitkan dua tahun lalu muncul, mengirimkan sengatan perasaan takut. "Jangan pegang-pegang aku, Rey!" tegasnya seraya menepis kasar tangan cowok itu.
Rey membeku sejenak. Tangannya tertahan di udara sebelum ditarik kembali ke kemudi.
"Kamu masih marah, Zar," kata Rey pelan. Hening sejenak sebelum ia melanjutkan, suaranya hampir tenggelam di balik deru hujan. "Soal dua tahun lalu... aku cuma mabuk. Aku enggak sadar apa yang aku lakukan." Tatapannya lurus menembus kegelapan jalanan, tangannya mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih.
Zarra hanya melempar pandangan ke luar jendela kemudian memejamkan mata, berusaha keras melupakan kejadian dua tahun lalu.
Lantaran tak mendengar jawaban apa pun, Rey tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia menginjak pedal gas dan mulai melintasi jalanan perkampungan yang lengang.
Tak butuh waktu lama hingga mobil berhenti di pekarangan rumah. Dada Zarra makin berdebar kencang karena setelah memperhatikan sekitar, ternyata pelataran itu sepi.
Mobil ibunya tak tampak di sana.
"Mana Mama?" tanya Zarra gelisah.
"Lagi keluar sebentar paling. Masuk yuk," sahut Rey tenang. Sambil menyambar payung di kursi belakang, ia beringsut turun lalu membukakan pintu untuk Zarra. Dengan tangkas, ia membuka payungnya, mengangkat tangannya ke atas kepala Zarra agar tak terkena hujan.
Dulu, perlakuan manis semacam ini mampu membuat Zarra tersentuh. Tapi kali ini hanya perasaan muak yang ia rasakan.
Zarra melangkah cepat memasuki rumah. Lampu ruang tamu menyala redup, tetapi televisi mati. Tak ada aroma masakan, tak ada derap langkah kaki, ataupun suara Mama yang memanggilnya. Keheningan itu terasa ganjil dan menusuk.
Krek.