My Truly Destiny

Vina Marlina
Chapter #19

Along The Way Home

Napas Zarra mencicit cepat di antara gigi-giginya yang bergemeletuk menahan serbuan dingin. Jarum jam seolah bergerak terlalu cepat, berkejaran dengan detak jantungnya yang bergemuruh hebat. Dia berlari terhuyung-huyung di atas tanah yang licin; sepatu sekolahnya yang semula putih kini telah sepenuhnya terbenam dalam lumpur pekat perkampungan penduduk. Perasaan mencekam yang luar biasa merayapi punggungnya, mencekam jiwanya dalam ketegangan yang membakar.

Tetapi, Zarra tak berani berhenti sejenak pun. Kepalanya menoleh berulang kali ke belakang dengan pandangan liar dan panik. Bayangan ketakutan itu begitu nyata. Rey pasti sudah sadar sekarang, dia tahu betul tabiat laki-laki itu. Situasinya benar-benar tidak aman!

Napasnya makin memburu ketika suara gerungan mesin di kejauhan seolah mendekat. Tanpa berpikir panjang, Zarra terpaksa membelokkan langkahnya secara tajam ke arah hamparan kebun teh yang melandai. Dia merayap cepat di bawah tepian jalan, tak peduli lagi pada ranting-ranting tajam yang menggores kulit tangannya. Dalam kepanikan yang membuncah itu, matanya menangkap sebuah celah—sebuah cekungan lubang alami di bawah pondasi jalan raya.

Tanpa ragu sedikit pun, Zarra menekuk tubuhnya yang gemetar, menyusup masuk ke dalam cekungan pit tersebut. Dia menarik kedua lututnya rapat ke dada, membiarkan sebagian tubuhnya terkubur dalam kegelapan lubang. Bau tanah basah dan dedaunan busuk tercium sangat pekat, namun bau itu tak lagi penting. Pikirannya riuh, dipenuhi kepingan skenario terburuk jika Rey berhasil menemukannya.

"Cari solusi, Zarra. Cepat! Pikirkan sesuatu!" bisiknya parau, tertahan di antara napasnya yang patah-patah dan rasa panik yang nyaris melumpuhkan logika.

Di saat genting dan tak berdaya itu, memori dalam benaknya memutar lagi satu nama. Seseorang yang selalu hadir bagai keajaiban setiap kali dia berada dalam jepitan kesulitan. Ya, sosok yang kerap dia sebut sebagai malaikat pelindungnya dalam hati.

Dengan jemari yang bergetar hebat, Zarra bergegas menarik tas sekolah yang basah dari punggungnya. Ia merogoh bagian dalam tas, mengeluarkan smartphone-nya yang beruntung masih menyala. Layar ponselnya sedikit terkena cipratan lumpur, namun matanya dengan cepat memindai daftar kontak hingga menemukan nama Abichandra—nomor yang baru disimpannya beberapa pekan lalu. Tanpa ragu sedikit pun, tombol panggil berwarna hijau itu segera ditekan.

Ponsel itu menempel erat di telinganya. Suara nada sambung terasa seperti keabadian. Namun, tepat pada nada bip yang kedua, panggilan itu terhubung.

"Hallo, Assalamu..."

"Abi!" terdorong oleh puncak kepanikannya, Zarra memotong salam itu begitu saja, mengabaikan segala kesopanan.

"Ini siapa?" Suara Abi terdengar keheranan di ujung telepon, bernada ragu karena nomor yang memanggilnya belum sepenuhnya familier.

"Zarra! Bi, tolongin aku... aku nggak tahu harus ke mana lagi!" Suara Zarra terpecah, serak karena isak tangis yang akhirnya pecah meledak.

"Kamu di mana, Zar?" Suara Abichandra langsung berubah drastis, nada santainya lenyap berganti keseriusan yang mendalam.

"Di dekat rumah... area kebun teh! Aku sembunyi!" Zarra sengaja melirihkan suaranya serendah mungkin, memicingkan mata ke arah jalan raya, takut jika gema suaranya akan terdengar oleh orang yang salah.

"Jangan bergerak dari sana. Nanti aku telepon balik. Aku ke sana sekarang!"

Klik! Panggilan dimatikan secara sepihak.

Zarra melepaskan ponselnya dari telinga dan mengeluarkan decitan napas panjang—sebuah adonan emosi yang rumit antara kelegaan luar biasa dan ketakutan yang belum surut. Lega karena ia tahu ia tidak lagi bertarung sendirian, namun di saat yang sama ketakutan menyerangnya karena Rey bisa saja menemukannya detik ini juga sebelum bantuan datang.

Oh Tuhan, tolong halangi Rey... jangan biarkan dia datang mendekat sedikit pun, Zarra memanjatkan doa sepenuh hati dalam kepungan kegelapan lubang.

Seketika, seolah menjawab jeritan hatinya, bumi dikilaukan oleh seberkas cahaya putih menakutkan. Tak lama kemudian, guruh alam terdengar menggemuruh dahsyat, menggetarkan langit dan permukaan bumi di atasnya. Kilatan petir menandakan badai belum benar-benar usai. Zarra menutup kedua telinganya rapat-rapat, menciut sendirian di dalam lubang persembunyiannya.

Di tempat lain, Abichandra sedang memacu sepeda motornya dengan kecepatan tinggi menembus sisa-sisa air hujan di jalan raya. Angin sore yang dingin menusuk jaketnya, namun pikirannya terfokus sepenuhnya pada keselamatan Zarra. Ia beristigfar terus-menerus setiap kali percikan kilat menyambar dan guruh bergema menggetarkan dada.

Ya Allah, lindungi kami semua... faghfirlii.. selamatkan Zarra, batinnya berdoa tanpa henti.

Lambat laun, curah hujan yang tadinya lebat mulai menipis, menyisakan titik-titik gerimis kecil yang menempel di kaca helmnya. Abichandra melirik cepat ke kaca spion kanan dan kiri. Saka, kakak lelakinya belum terlihat menyusul.

Mendekati belokan tajam di kawasan Danau Patenggang, kecepatan motor dipelankannya secara drastis. Abichandra menarik kaca helmnya ke atas, memicingkan mata tajam-tajam mencoba membedah sore yang menggelap untuk melihat keadaan di sekitar. Hamparan kebun teh yang membisu mulai kelihatan di bawah remang cahaya lampu jalan.

Zarra pasti ada di sekitar sini, tapi di sebelah mana persisnya? Abichandra mengerem motornya hingga berhenti sempurna di bahu jalan. Ia segera merogoh smartphone dari saku jaketnya untuk menelepon balik.

"Zarra, di mana kamu? Aku sudah ada di belokan danau!" Abichandra langsung bertanya cepat begitu nada sambung pertama diangkat.

"Terus jalan sedikit lagi ke arah kolam air panas Walini, Bi. Aku nunggu di pinggir jalan..." ucap Zarra dengan nada relief yang amat sangat. Dia akhirnya memberanikan diri keluar dari lubang persembunyiannya setelah memastikan keadaan sekitar cukup aman.

"Oke. Bertahan di sana, aku ke sana sekarang," Abichandra menutup telepon dan kembali memutar gas motornya.

Begitu mendekati gerbang area Walini, sorot lampu depan motor Abichandra menangkap sesosok gadis berseragam SMA. Kain seragam putih-abunya tampak sobek kecil di beberapa bagian, sekujur wajah dan tubuhnya belepotan noda tanah liat yang basah, serta rambutnya basah kuyup melekat di dahi. Gadis itu berdiri mematung di pinggiran jalan yang sepi.

"Ya Allah, Zarra!" Abichandra memekik pelan dari balik helmnya.

Jantung Abi serasa berhenti berdetak sesaat. Dia tidak lagi melihat sosok gadis yang biasanya anggun, melainkan seseorang yang berjuang antara hidup dan mati untuk lolos dari bahaya. Hati Abichandra teriris melihat pemandangan di depannya.

Dia menghentikan motor persis di samping Zarra. Gadis berwajah oriental itu kelihatan sangat mengenaskan. Tubuhnya bergetar tak terkontrol karena gabungan antara hipotermia dan ketakutan mendalam, bibirnya berubah keunguan, dan pandangan matanya terpaku kosong, terus-menerus melirik waspada pada kegelapan jalan di belakangnya.

Abichandra tahu ini bukan saatnya bertanya soal kronologi kejadian. Dia melepaskan helm, lalu dengan sigap mengambil jas hujan dari bawah jok motornya.

"Pakai ini dulu, Zar," katanya sangat lembut, menyerahkan jas hujan tebal itu untuk menutupi tubuh Zarra dan seragamnya yang basah serta kotor.

Zarra menerima jas itu tanpa bersuara. Tangannya gemetar hebat saat berusaha memasukkan lengannya ke dalam jas. Begitu selesai mengenakannya, tanpa diduga Zarra langsung mencengkeram lengan jaket Abi kuat-kuat, seolah-olah Abi adalah satu-satunya pegangan hidupnya di dunia.

"Bi... kalau Rey lihat aku..." suara Zarra patah-patah, bahunya naik turun cepat menahan napas yang memburu. "Tolong bawa aku pergi dari sini! Sekarang!"

Siapa sebenarnya Rey? Abichandra mengernyitkan dahi. Rasa penasaran membakar benaknya, namun ia tahu situasinya sangat mendesak. Masalah ini pasti sangat serius.

Tepat pada waktunya, suara gerungan khas mesin motor off-road milik Saka terdengar dari kejauhan. Motor jangkar itu berhenti tepat di belakang motor Abichandra. Saka membuka kaca helmnya dan berteriak tegas di atas mesin motornya yang masih menyala, "Bi, ajakin Zarra ke rumah kamu dulu! Jangan ngomongin apa-apa di jalan, entar aja ngobrolnya di rumah!"

Lihat selengkapnya