Mama sedang berbahagia. Setelah melihat Zarra berkerudung sepulang sekolah tadi siang, Mama menjerit kegirangan.
"Zarra! Ini beneran kamu? Beneran??!"
Kegembiraan Mama serasa menemukan putrinya yang hilang. Lengkap sudah kini mimpinya. Sedari dulu, Mama memang mendambakan anak perempuan yang sangat girlie. Sayangnya, Andatari tak masuk hitungan.
Mama sudah lama berjuang keras. Beliau ingin si sulung kalem. Kalau ketawa jangan ngakak-ngakak. Kalau jalan, melangkahnya jangan lebar-lebar. Jangan tanding duel dengan kedua adik lelakinya. Namun, Andatari tak pernah menanggapi serius semua itu. Cuek bebek hingga Mama lelah sendiri dan melambaikan bendera putih. Mama ikhlas menerima tabiat anak gadis semata wayangnya itu. Mungkin memang sudah dari sananya Andatari lebih berjiwa ksatria perang daripada seanggun putri negeri dongeng.
Maka tak heran, begitu Zarra datang, Mama sempat speechless. Tindak-tanduk Zarra yang halus, patuh, dan feminin sukses memikat perhatian beliau. Entah sejak kapan pastinya, rasa sayang Mama pada Zarra terasa makin besar dari hari ke hari. Beliau tak sampai hati mendengar kisah hidup gadis itu yang sebatang kara dan kurang kasih sayang keluarga. Seisi rumah sudah paham keadaan Zarra, kecuali Andatari yang memang belum sempat pulang lantaran sibuk kuliah menjelang ujian semester. Ketinggalan berita deh dia.
"Udah, Ma, kan Zarra hijabannya juga sementara," Saka mengingatkan, begitu dilihatnya Mama mulai kelihatan hyper mengenang tampilan baru Zarra.
Sore itu, Saka menemani Mama ke pasar membeli beberapa setelan seragam sekolah berbahan panjang buat Zarra. Mumpung Abichandra ada tugas kelompok di rumah Wisnu dan baru bakal pulang menjelang magrib. Sebelum berangkat ke pasar, Saka sudah memastikan gerbang rumah terkunci rapat dan meminta Zarra tak perlu keluar ke mana-mana. So far, aman kalau Zarra ditinggal sendirian di rumah.
"Enggak apa-apa gara-gara sembunyi juga. Mudah-mudahan bisa keterusan," Mama menukas ringan. Harapan Mama melambung tinggi, karena ke depannya Zarra sudah setuju akan berhijab ke sekolah untuk menghindari Rey.
"Aduuuh, kalau aja diperbolehkan, Mama rasanya kepengen banget ngadopsi Zarra. Kasihan dia. Mama juga udah terlanjur sayang," mata Mama menerawang.
Mereka sedang berjalan menuju parkiran motor Saka. Di tangan Mama sudah ada sekeranjang belanjaan. Mendengar itu, Saka malah terkekeh. Mama sih, belum tahu apa yang terjadi di balik layar antara Zarra dan Abichandra. Baru seminggu berselang Zarra di rumah mereka, sudah banyak kejadian yang membuat Saka geleng-geleng kepala.
Saka tahu benar bagaimana protektif dan perhatiannya si bungsu pada Zarra. Setelah tahu Zarra orangnya pelupa tingkat dewa—terutama sering lupa membawa handuk ke kamar mandi—Abi selalu turun tangan. Pernah Saka memergoki Abi sengaja berdiri canggung di depan kamar mandi cuma untuk memastikan Zarra sudah membawa handuknya, saking tak mau gadis itu bolak-balik naik tangga.
Belum lagi kalau Zarra bersin sedikit, Abi tanpa ba-bi-bu langsung menyodorkan obat flu. Ditambah bagaimana kikuknya mereka berdua kalau tak sengaja berpapasan. Yang satu pipinya memerah, yang satu lagi garuk-garuk kepala karena salah tingkah. Intinya, sudah tak memungkinkan Abichandra dan Zarra jadi kakak-adik. Kecuali kalau Mama mau mengambil risiko kejadian lagi peristiwa Zarra-Rey jilid dua. Ckckck, sudah macam sinetron.
"Kenapa kamu ketawa-ketawa gitu, Ka? Aneh emang kalau Mama niat ngadopsi Zarra?" tanya Mama keheranan.
"Bukan apa-apa, Ma. Cuma lucu aja. Masa mau ngadopsi anak segede Zarra yang pantesnya tuh jadi mantu Mama nantinya," Saka menyeka ujung matanya.