My Truly Destiny

Vina Marlina
Chapter #25

Separation

Perlu waktu beberapa lama bagi Zarra untuk siuman. Kepalanya terkulai lemas di kursi rotan milik Sarah, dahinya dipenuhi keringat dingin, tetapi matanya mulai terbuka. Orang pertama yang dilihatnya adalah Abichandra yang berdiri tegap bak patung di hadapannya dengan sorot mata sarat kecemasan. Kemudian, sebuah tangan lembut menyeka keringat di dahi Zarra, membuatnya refleks menoleh. Ternyata itu Sarah.

"Zarra, kamu sudah baikan?" tanya Abichandra.

Zarra mengalihkan pandangannya kembali pada Abichandra, menjawab pertanyaan itu dengan anggukan lemah dan senyuman tipis. Di luar sana, keadaan berangsur sepi. Tak ada lagi anak-anak yang menjerit sambil berlarian.

Abichandra mengambil smartphone dari saku celana seragamnya lalu menelepon Saka. Lama sekali, tetapi tak ada jawaban. Apakah keadaan di jalan depan sekolah masih menggila sampai Saka kesulitan mengangkat telepon? Abichandra beranjak mengintip keluar jendela. Sepi.

"Bi, sebenarnya ada apa tadi di jalan? Kenapa banyak banget anak-anak yang lari?" Sarah bertanya keheranan. Menurut asumsinya, Abichandra dan Zarra pasti menjadi saksi di lokasi kejadian.

Abichandra dan Zarra bersitatap, seakan bertukar pikiran dalam diam. Mau tak mau Sarah memalingkan wajah, tak tahan menyaksikan bahasa isyarat mereka berdua. Perasaan cemburunya sudah terlampau menumpuk.

"Itu semua karena aku, Sarah," akhirnya Zarra mengakui pelan.

Sarah termenung, mencoba memproses informasi tersebut. Belum sempat ia mengajukan pertanyaan lanjutan, smartphone Abichandra berbunyi.

Dari Saka. Abichandra langsung menggeser layar.

"Abi, kamu di mana?"

"Aku di rumah Sarah, Ka."

Tak perlu lama menunggu, suara gerungan motor terdengar mendekat lalu berhenti tepat di depan rumah Sarah. Saka celingukan memantau keadaan sebelum turun dari motornya. Abichandra berinisiatif membuka pintu.

"Gila!" Begitu masuk rumah, Saka cengengesan dengan mata berkilat jenaka. "Tadi siapa yang punya ide bikin ricuh kayak gitu? Brilian banget! Ide kamu, Bi?" Saka menepak dada adiknya kencang sampai Abichandra mundur selangkah.

"Spontan aja tadi si Chandra ngasih peringatan. Nggak nyangka bakal heboh gitu," Abichandra ikut terkekeh, baru menyadari betapa absurdnya peristiwa tadi. Anggap saja kejadian barusan bonus pertolongan tak terduga dari Allah.

Saka langsung duduk di kursi tanpa perlu dipersilakan. Memang sudah jadi kebiasaannya yang suka mengambil inisiatif sendiri.

"Eh, nggak ada minum, nih?" ceplos Saka ringan, melihat meja hanya berisi baskom air, sapu tangan, dan minyak kayu putih.

Sarah tampak agak malu. "Maaf, tadi kelupaan," sesalnya sambil berlalu ke dapur.

"Baskom kompresan ini buat siapa?" Saka penasaran. Dia lalu memperhatikan Zarra yang duduk di seberangnya. "Kamu kenapa, Zar? Sakit? Wajahmu pucat banget," tanyanya khawatir.

Zarra berusaha duduk lebih tegak, sebal pada dirinya sendiri yang selalu tampak lemah. "Aku nggak apa-apa. Kecapekan aja sedikit. Kak, gimana Rey tadi? Masih ngejar?"

Saka mengangkat bahu. "Nggak tahu. Tadi waktu aku jalan, Terios-nya masih ada di depan sekolah."

Tiba-tiba Saka teringat sesuatu, ekspresinya berubah serius. "Eh, sebentar. Kayaknya tadi aku lihat salah satu sobat kamu dipanggil sama Pak Endang, Bi. Siapa ya namanya? Yang badannya jangkung, mukanya songong, suka sok kece dan kepedean banget itu?"

"Arifin?" Abichandra menebak. "Kenapa kira-kira?"

"Mending kita cek. Aku juga kudu balikin motor sama yang punya."

"Tapi Rey masih belum lewat. Kita tungguin dia lewat, baru antar Zarra pulang." Abichandra terus memantau keadaan dari balik jendela.

Tak lama, Sarah kembali ke ruang tamu membawa nampan berisi tiga cangkir air minum dan setoples kue. "Silakan diminum airnya."

Dengan sedikit kebingungan, Sarah mengamati Zarra. Tadi di dapur ia sempat mendengar percakapan soal 'mengantarkan Zarra pulang'. Sejak kapan Abichandra dan Saka jadi tim antar-jemput Zarra? Aneh.

"Sarah, kok sepi amat? Pada ke mana?" tanya Saka sekadar basa-basi.

Dia sudah kenal dengan Sarah; ibu mereka saling akrab karena ibu Sarah adalah ustazah di tempat pengajian mamanya. Kadang-kadang Saka atau Abichandra yang diminta tolong mengantar jemput ibu Sarah. Ayah Sarah sendiri sudah wafat beberapa tahun lalu, jadi praktis rumah itu hanya dihuni Sarah, ibunya, dan adik perempuannya yang masih kelas enam SD.

"Ibu lagi ngisi ta'lim di daerah Ciwidey, insya Allah habis asar pulang. Adik aku ikut ke sana," jelas Sarah.

"Oh..."

Mereka kemudian saling berdiam diri. Seisi ruangan menjadi hening, sampai-sampai detik jam dinding Sarah terdengar amat jelas. Ketegangan meningkat; ada rasa ganjil yang menggantung di udara.

Mobil Terios Rey belum juga lewat.

"Ka, kayaknya kita harus ke sekolah. Feeling aku bilang ada yang nggak beres di sana," ujar Abichandra, masih mematung di dekat jendela.

Saka mempertimbangkan hal itu baik-baik. "Aku juga nggak enak minjam motor si Rio terlalu lama. Tapi Zarranya gimana?" Saka mengerling ke arah Zarra.

Zarra ragu. Sebenarnya ia ingin cepat pulang ke rumah Abichandra dan Saka, tetapi takut berpapasan dengan Rey di jalan.

Abichandra menangkap dilema Zarra. Dia segera berlutut di depan gadis itu. "Zarra, kamu tunggu di sini sebentar, ya? Kalau keadaan aman, nanti kita jemput kamu," kata Abichandra pelan. Bagaimanapun, mereka tidak bisa seharian berdiam diri di rumah Sarah. Urusan ini harus diselesaikan.

Zarra tahu ia tidak punya pilihan lain. Kepalanya terangguk setuju.

Tak lama, Saka dan Abichandra tiba di sekolah. Terios milik Rey ternyata masih terparkir di tempat semula.

Pintu gerbang juga masih terbuka, padahal setahu Abichandra tidak ada kegiatan lain di sekolah hari ini. Selewat pos keamanan, Abah Rudi tiba-tiba berbisik memanggil, "Abi, sini!"

Abichandra dan Saka turun dari motor lalu menghampiri.

Lihat selengkapnya