My Twin Flame

Nadya Suhendra
Chapter #1

Sepasang Jiwa

Dalam bahasa Indonesia : “Aku Cinta Kamu”. Namun dalam puisi aku mengatakannya: Hatiku, pikiran dan napasku, semuanya menyebut namamu.

Kita adalah sepasang jiwa yang dijodohkan Sang Pencipta di atas bumantara, jauh sebelum terlahir ke bentala. Kau dan aku terikat oleh takdir jiwa dan kehidupan. Jiwa ini selalu merindukan separuhnya—yang ada dalam dirimu. Karena Tuhan dan Semesta dengan kejam telah memisahkan kita, menempatkan kita di dua negara yang berbeda. Walau begitu … jiwa kita masih saling mencari dan memanggil untuk bertemu kembali.

Askara berpendar di antara benda-benda langit di cakrawala. Tuhan dan Semesta sedang bekerja menciptakan skenario kehidupan kita. Kau dan Aku. Kita bertemu kembali setelah sekian purnama. Memenuhi janji, menyelesaikan visi-misi jiwa di dunia.

Gadis 29 tahun itu tenggelam dalam bacaannya sedari tadi. Fokusnya mulai terpecah kala hujan menyirami permukiman Ubud. Hujan selalu membawa ingatannya pada seorang pria yang selama dua tahun terakhir ini merajai hatinya.

Kopi latte hangat yang tadi ia pesan mulai mendingin bersamaan cuaca malam ini. Ia memutuskan menjeda bacaannya yang masih menggantung di bagian 18. Sejenak ia merenung, memutar ulang kenangan yang tampak samar. Seorang pria bertubuh jangkung, punggung lebar dan kulit putih bersih, berjalan membelakanginya. Pria itu meninggalkannya dengan murka, sedang ia mengiringi kepergiannya dengan pancuran di mata. Wanita itu terisak seraya menjatuhkan tubuhnya pelan ke aspal.

☯️☯️☯️

Tak lama, pikiran wanita tadi menyeretnya kembali ke masa kini. Gerimis mengucur di pelupuk matanya yang sipit. Segera ia menyekanya, mengembus napas—membuang gemuruh di dada. Novel itu ia tutup perlahan. Novel berjudul “My Twin Flame” ditulis olehnya sendiri. Nadya Suhendra. Novel pertama dalam hidupnya yang berhasil diterbitkan di toko buku besar Indonesia. Perasaan haru dan bangga memenuhi sukmanya malam ini. Ia tidak pernah membayangkan sebelumnya, kalau ia akan menjadi seorang novelis yang memiliki banyak pembaca dan bukunya terjual laris di toko buku offline maupun online. Sungguh pencapaian luar biasa di usianya yang akan menginjak kepala tiga. Senyuman tipis terbentuk di bibirnya saat meraba-raba sampul buku novel itu.

Selepasnya ia beralih pandang ke luar jendela kedai kopi. Suasana malam di Ubud, Bali, memiliki keindahan tersendiri di hatinya. Ia begitu menikmati panorama yang tertangkap oleh netranya. Kendaraan yang lalu-lalang, lampu jalanan dan pantai, pejalan kaki lokal hingga mancanegara, semuanya menyatu dalam suasana ramai. Hanya saja … di tengah keramaian ini jiwanya merasa sepi.

Di antara banyaknya manusia yang sedari tadi berlalu-lalang, adakah satu … yang mengarah pada takdirku?

“Welcome to Ubud Coffee Shop!” sambut seorang barista pada pengunjung pria yang baru saja datang. (Selamat datang di kedai kopi Ubud.)

Hiasan dreamcatcher berayun-ayun kala pria itu menarik pintu masuk. Desir angin malam dan gantungan dreamcatcher berpadu menyelinap ke hati dan pendengaran Nadya. Angin itu juga menyentuh halus hijab pashmina putih yang dikenakannya. Hatinya berbisik seakan memberitahu, kalau takdir yang diharapkannya sedang mengarah ke sini. Nadya segera menoleh ke pintu masuk kedai kopi.

☯️☯️☯️

Lihat selengkapnya