Daksa ini menjerit melafaz namamu dalam kerinduan. Sepasang jiwa terbelah dua atas kuasa Ilahi, kau dan aku terikat sakral oleh simpul roh kehidupan. Jiwa ini selalu merindukan separuhnya yang ada dalam dirimu. Sebab Tuhan dengan sadis memisahkan kita, menempatkan kita di dua negara yang berbeda. Walau begitu batin kita masih saling mencari untuk reuni.
Askara berpendar terang di cakrawala, Tuhan dan semesta berkolaborasi menciptakan skenario kita. Kau dan Aku. Kita bertemu kembali setelah sekian purnama. Memenuhi janji, menyelesaikan visi-misi jiwa di dunia.
Sedari tadi netraku tenggelam di atas lembaran prosa. Sebuah sastra romansa Agung memikat hatiku sebagai pembaca. Fokusku terpecah saat angkasa menghempas tangisnya ke bumi. Setiap tetesannya berusaha menggali memoriku yang sudah terkubur mati.
Latte hangat yang tadi kupesan mulai mendingin bersama cuaca malam ini. Sesaat aku termangu memutar ulang kenangan yang samar. Sosok pria bertubuh jangkung, punggung lebar dan kulit putih bersih, angkat kaki dari hidupku dengan murka. Aku meraung berjongkok di atas aspal melepasnya penuh duka.
Tak lama, pikiranku menyeret kembali ke masa sekarang. Gerimis mengucur tragis di pelupuk mataku yang sipit. Jemari lentikku segera mengusir nestapa membuang gemuruh di dada. Buku dalam genggaman perlahan kututup. Novel berjudul “My Twin Flame” ditulis olehku: Nadya Suhendra. Novel pertama dalam hidupku yang berhasil diterbitkan di toko buku besar Indonesia. Perasaan haru dan bangga memenuhi sukmaku. Tak pernah terbayangkan sebelumnya, kalau aku akan jadi seorang novelis yang memiliki banyak pembaca dan bukuku terjual laris di toko daring juga konvensional. Sungguh pencapaian luar biasa di usiaku yang segera menginjak kepala tiga. Senyumku berseri meraba sampul depan novel yang berhasil kuterbitkan. Selepasnya mataku beralih pandang keluar jendela kedai kopi.
Suasana malam di Ubud, Bali, memiliki keindahan tersendiri di hatiku. Aku begitu menikmati panorama yang tertangkap oleh pupilku. Kendaraan lalu-lalang, lampu jalanan dan pantai, pejalan kaki lokal hingga mancanegara, semuanya menyatu dalam suasana ramai. Hanya saja, di tengah keramaian ini jiwaku merasa sepi.
Di antara banyaknya manusia yang sedari tadi berlalu-lalang, adakah satu … yang mengarah pada takdirku?
“Welcome to Ubud Coffee Shop!¹”sambut sang barista pada seorang pengunjung pria.
Hiasan penangkap mimpi berayun ritmis kala pria itu menarik pintu masuk. Dentingnya menyelinap mesra ke indera pendengaranku menyapa jiwa yang berteman sunyi. Menyusul semilir angin meniup lembut hijab pasmina putih yang kukenakan. Batinku berbisik seakan memberitahu, kalau takdir yang kuharapkan sedang menuju ke sini. Aku sigap menoleh ke arah pintu masuk.
Pria berparas teduh melangkah setengah menunduk menuju kasir. Ragaku menjelma beku menguncinya dalam pandangan. Waktu terus berputar, namun diriku sepertinya masih terperangkap di hubungan masa lalu.
Apa kami sedang mengulang takdir? Atau ... Tuhan dan semesta sedang memberi kami kesempatan ... untuk memperbaiki takdir? Bahkan setelah perpisahan kita masih dipertemukan kembali.
Adalah Zhang Yan. Tokoh pria utama dalam buku novel yang tadi kubaca. Pria yang juga sempat melintas dalam bayangan masa laluku. Ia pergi bersama kemarahan sekaligus rasa kecewa.
Langkah Yan terhenti di depan kasir. Mulutnya bergerak santun memesan americano yang masih menjadi kesukaannya. Seraya menanti pesanannya dibuat, mata dinginnya melibas kursi dan meja kosong untuk bersantai. Kisaran detik nayanika itu mengelilingi ruangan, penglihatan Yan terhenti di kedua bola mataku. Tatapan kami beradu penuh luka layaknya menyaksikan genangan darah di kolam netra kenangan masa lalu. Apa yang tinggal saat ini hanyalah RINDU.