My Twin Flame

Nadya Suhendra
Chapter #1

Sepasang Jiwa

Hati dan pikiranku berisik menyebut namamu. Kita adalah sepasang jiwa, dijodohkan Maha Cinta di atas bumantara jauh sebelum terlahir ke bentala. Kau dan aku terikat simpul roh sekaligus kehidupan. Jiwa ini selalu merindukan separuhnya—yang ada dalam dirimu. Karena Tuhan dengan sadis memisahkan kita, menempatkan kita di dua negara yang berbeda. Walau begitu batin kita masih saling mencari untuk reuni.

Askara berpendar di antara benda-benda langit di cakrawala. Tuhan dan semesta berkolaborasi menciptakan skenario kehidupan kita. Kau dan Aku. Kita bertemu kembali setelah sekian purnama. Memenuhi janji, menyelesaikan visi-misi jiwa di dunia.

Sedari tadi netraku tenggelam di atas lembaran prosa. Sebuah sastra romansa nan Agung memikat hatiku sebagai pembaca. Fokusku terpecah, saat angkasa menghempas tangisnya ke bawah permukiman Ubud. Hujan selalu membawa ingatanku pada seorang pria yang selama dua tahun ini bertakhta di sanubariku.

Kopi latte hangat yang tadi kupesan perlahan mendingin bersama cuaca malam ini. Aku memutuskan menjeda bacaanku yang masih menggantung di bagian 18.

Sesaat aku termangu memutar ulang kenangan yang tampak samar. Sosok pria bertubuh jangkung, punggung lebar dan kulit putih bersih, berjalan membelakangiku tanpa ragu. Ia meninggalkan dengan murka, sedang aku mengiringi kepergiannya bersimbah air mata. Aku terisak seraya menjatuhkan tubuhku pelan ke aspal.

Tak lama, pikiranku menyeretku kembali ke masa sekarang. Gerimis mengucur tragis di pelupuk mataku yang sipit. Aku menyekanya, mengembus napas—membuang gemuruh di dada. Buku dalam genggaman perlahan kututup. Novel berjudul “My Twin Flame” ditulis olehku: Nadya Suhendra. Novel pertama dalam hidupku yang berhasil diterbitkan di toko buku besar Indonesia. Perasaan haru dan bangga memenuhi sukmaku malam ini. Aku tak pernah membayangkan sebelumnya, kalau aku akan jadi seorang novelis yang memiliki banyak pembaca dan bukuku terjual laris di toko daring juga konvensional. Sungguh pencapaian luar biasa di usiaku yang segera menginjak kepala tiga. Senyumku merekah, meraba sampul depan novel yang berhasil kuterbitkan tahun ini. Selepasnya mataku beralih pandang keluar jendela kedai kopi.

Suasana malam di Ubud, Bali, memiliki keindahan tersendiri di hatiku. Aku begitu menikmati panorama yang tertangkap oleh pupilku. Kendaraan lalu-lalang, lampu jalanan dan pantai, pejalan kaki lokal hingga mancanegara, semuanya menyatu dalam suasana ramai. Hanya saja, di tengah keramaian ini jiwaku merasa sepi.

Di antara banyaknya manusia yang sedari tadi berlalu-lalang, adakah satu … yang mengarah pada takdirku?

“Welcome to Ubud Coffee Shop!¹”sambut seorang barista pada pengunjung pria yang baru saja datang.

Hiasan penangkap mimpi berayun mesra saat pria itu menarik pintu masuk. Denting merdunya menyelinap ke dalam indera pendengaranku. Semilir angin menyentuh lembut hijab pashmina putih yang kukenakan. Batinku seakan berbisik memberitahu, kalau takdir yang kuharapkan sedang menuju ke sini. Aku sigap menoleh ke arah pintu masuk kedai kopi.

Pria berwajah teduh melangkah setengah menunduk menuju kasir. Aku tertegun memandangnya tanpa putus. Waktu terus berputar, namun diriku seperti masih terperangkap dalam hubungan masa lalu.

Apakah kami sedang mengulang takdir? Atau ... Tuhan dan Semesta sedang memberi kami kesempatan ... untuk memperbaiki takdir? Bahkan setelah perpisahan kita masih dipertemukan kembali.

Adalah Zhang Yan. Tokoh pria utama dalam buku novel yang tadi kubaca. Pria yang juga sempat melintas dalam bayangan masa laluku. Ia pergi bersama amarah sekaligus rasa kecewa.

Lihat selengkapnya