Isak langit disertai halilintar membawa aroma aspal basah nan mengundang nostalgia di antara kami berdua. Lewat jendela transparan menjadi pemisah kami dari hiruk-pikuk jalan raya, aku dan Yan bercermin sendu ke masa lalu. Kala itu, kami sedang di titik terendah dalam hidup.
Februari, 2024
Suara berat pria paruh baya mengisi penuh ruang rapat di sebuah kantor ibu kota. Pak Wang, pemilik usaha swasta itu mengalami gulung tikar. Rasa sesal dan sebait permintaan maaf meluncur tulus dari mulutnya selaku pimpinan perusahaan. Seluruh staf di meja persegi panjang tertegun menerima kenyataan pemutus hubungan kerja. Di barisan kanan depan, Zhang Yan tertunduk pasrah usai resmi menyandang status pengangguran. Emosi kontras tersorot dari paras kusut Feng. Pria berkeluarga yang baru saja menikah beberapa bulan lalu. Duduk di samping Yan, Feng bisa dikatakan cukup dekat dengannya sebagai rekan kerja.
Di akhir rapat, Wang berharap para stafnya bisa mendapatkan pekerjaan baru yang lebih baik lagi. Selepasnya seluruh mantan pekerja kompak saling melempar semangat dalam rangkulan singkat. Dengan tungkai berat Yan meninggalkan ruang rapat membawa beban mentalnya hingga kubikel pribadi. Hidupnya saat ini bak sudah jatuh ditimpa tangga pula. Prahara karier dan hubungan asmaranya retak di waktu yang berdekatan. Tangan maskulinnya terus mengemas barang di meja kerja ke dalam kardus cokelat.
“您直接回家吗?¹ ”
“是,你呢?² ”
“我们去喝一杯,³ ” ajak Feng.
Yan mengangguk setuju. “好,走啊! ⁴”
Budaya minum di negara tirai bambu sudah jadi hal lumrah dilakukan masyarakat Tionghoa. Biasanya mereka akan meneguk minuman bernama bir itu saat pertemuan bisnis, reuni, atau sekadar mengusir lara bersama sejawat seperti rencana Feng dan Yan barusan. Mereka pergi mendatangi salah satu kedai bir di sudut kota.
Sementara di situasi berbeda, aku seorang pengelana profesi begitu kesulitan mendapat peluang karier setelah berhasil meraih gelar sarjana 2 tahun lalu. Bahkan hari ini aku gagal dalam tesku sebagai jurnalis di kota domisili.
Seisi ruangan membuat jantungku berpacu cepat melawan serangan panik. Napasku memburu kacau seperti kehabisan oksigen di atas podium presenter. Aku demam panggung, mengacaukan semua persiapan matang yang kubawa dari rumah.
“3, 2, action!⁵” Suara sutradara mengudara di studio memberiku instruksi berperan layaknya pembawa berita.
“Selamat siang pemirsa, Anda saat ini menyaksikan liputan pekan bersama saya Nadya Suhendra. Berita utama datang dunia sepak bola tanah air...”
“...tim nasional Indonesia U-22 berhasil menyabet penghargaan medali emas pada ajang Sea Games 2023 yang diselenggarakan di Kamboja...” Mataku menyipit membaca barisan teks yang bergerak mekanis di layar prompter.
“...penantian panjang selama 32 ini tahun akhirnya berbuah manis berkat kemenangan yang di ... diraih pemain kesebelasan ... setelah sukses mengalahkan tim Thailand.” Lidahku mendadak kelu merapalkan naskah berita yang seolah sedang berkejaran dengan waktu. Membuat semua pasang mata tertuju heran padaku.
“...kemudian berita selanjutnya, e ... terkait isu politik. Penggelapan dana melibatkan sejumlah e...” Belum sempat mengakhiri tantangan berdurasi 8 menit, suara tegas dari pojok studio langsung memangkas fokusku.
“Oke, cukup. Tidak perlu dilanjutkan lagi,” kata pria semampai berambut klimis. Ia salah satu juri yang menilai penampilan setiap peserta hari ini. Ia juga merupakan jurnalis senior di media JCTV.
“Baik, Pak.” Suaraku nyaris tertelan di balik paras nan murung.