Dalam aliran waktu yang tak terhingga, cinta dan pengorbanan adalah cahaya yang menuntun kita menemukan kebahagiaan sejati—bukan ketika seseorang kehilangan mimpinya demi orang yang dicintainya, melainkan ketika dua hati belajar tumbuh tanpa saling memadamkan.
Di tepi sebuah hutan tua, tempat pepohonan berbisik bahkan ketika angin sedang diam, berdirilah sebuah pondok kecil dari kayu ek. Usianya telah begitu panjang hingga tak seorang pun di desa mengetahui siapa yang pertama kali membangunnya. Lumut menutupi sebagian dindingnya, bunga-bunga kecil tumbuh di antara celah batu, dan pada malam hari, kelopak-kelopaknya memancarkan cahaya lembut seperti kunang-kunang yang lupa terbang. Hutan itu menyimpan banyak hal yang tak pernah tercatat dalam buku sejarah, sementara penduduk desa lebih suka menganggap bisikan pepohonannya sebagai dongeng untuk menakuti anak-anak agar tidak berkeliaran setelah matahari terbenam. Namun, bagi Arelith Liliora, hutan itu adalah tempat segala kemungkinan bermula.
Arelith tinggal di pondok tersebut bersama kedua orang tuanya dan seorang adik perempuan bernama Orthelia. Sebagai anak sulung, ia terbiasa membantu pekerjaan rumah dan memahami keterbatasan keluarganya tanpa perlu banyak bertanya. Mereka tidak memiliki banyak harta, tetapi selalu berusaha menyediakan tempat bagi kebahagiaan di antara segala kekurangan. Sebuah meja makan, dua kamar kecil, beberapa piring yang retak di tepinya, dan tungku yang terkadang lebih banyak mengeluarkan asap daripada kehangatan merupakan sebagian besar dari apa yang mereka miliki. Namun, setiap malam, ketika keempatnya duduk mengelilingi meja dan berbagi makanan sederhana, rumah itu terasa lebih luas daripada istana mana pun. Arelith sering berpikir bahwa mungkin kebahagiaan memang tidak membutuhkan banyak ruang; ia hanya membutuhkan seseorang untuk membaginya.
Meski demikian, Arelith menyimpan sebuah dunia yang belum pernah benar-benar ia perlihatkan kepada siapa pun. Dunia itu berdiam di dalam sebuah buku kulit tua yang selalu dibawanya ke mana-mana, meskipun sebagian besar halamannya masih kosong. Setiap malam, setelah keluarganya terlelap, ia duduk di dekat jendela dan membiarkan pena menari di atas kertas. Ia menulis tentang seorang gadis yang berjuang melawan kutukan kegelapan di hutan magis hingga roh yang terperangkap di lautan waktu. Arelith belum tahu siapa yang kelak akan membaca kisah-kisah itu. Ia bahkan belum tahu apakah suatu hari nanti seseorang akan menganggapnya layak dibaca. Ia hanya tahu bahwa setiap kali menulis, dunia terasa sedikit lebih luas, seolah-olah ada pintu-pintu tersembunyi yang menunggu untuk dibuka.
Arelith ingin menjadi seorang penulis. Bukan semata-mata agar namanya dikenal, melainkan karena ia ingin menciptakan tempat bagi mereka yang merasa tidak memiliki tempat di dunia. Ia ingin menulis kisah yang dapat menemani seseorang melewati malam yang panjang, membuat orang asing memahami satu sama lain, atau sekadar mengingatkan pembacanya bahwa kehidupan masih menyimpan kemungkinan yang belum mereka temukan. Suatu malam, ketika melihat kakaknya menulis dengan begitu tekun, Orthelia bertanya apakah kelak namanya akan muncul dalam salah satu cerita itu. Arelith tertawa dan menggeleng. “Tidak. Tidak ada cerita menarik tentang dua gadis miskin yang tinggal di pinggir hutan.” Orthelia mengerucutkan bibir, lalu menyatakan bahwa ia akan menjadi penyihir agar hidup mereka lebih menarik. Tawa mereka memenuhi rumah kecil itu hingga ibu mereka menyuruh keduanya segera tidur. Mereka tidak tahu bahwa kelak, kenangan sederhana tersebut akan terasa jauh lebih berharga daripada banyak hal yang pernah mereka perjuangkan.
Sebab waktu, sebagaimana yang sering dilakukannya, mengambil sesuatu tanpa terlebih dahulu meminta izin.
Kedua orang tua mereka jatuh sakit setelah bertahun-tahun bekerja tanpa mengenal cukup istirahat. Mula-mula hanya kelelahan, kemudian demam yang tak kunjung reda, hingga akhirnya hari-hari mereka lebih banyak dihabiskan di tempat tidur. Arelith berusaha meyakinkan dirinya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ia berhenti menulis selama beberapa hari agar dapat membantu ayahnya bekerja dan merawat ibunya.
Beberapa hari berubah menjadi minggu,
minggu menjadi bulan,
dan bulan perlahan kehilangan hitungannya.